apa persamaan dan perbedaan cakra dan kundalini?
Like · ·
Unfollow Post · 2 hours ago
Budi Widarma: kundalini=muladara cakra saja, cakra ada 7: muladara, swadistana, manipura....bla2222, ssampe sahasra cakra,
about an hour ago · Unlike · 1
Budi Widarma: cakra gerakan berputar, kalo kundalini larinya nungging...kata sawung jabo...makanya ada lagunya kundalini larinya nungging mencari makan terpontang panting ...aku jg dianggap sinting, sebenarnya siapa yang sinting
about an hour ago · Unlike · 2
Santo Paijo Al-Kafir: "Chakra" berasal dari bahasa Sansikerta "roda" atau "lingkaran". Dalam Hinduisme dan Budhisme, chakra/cakra adalah pusat energi di dalam tubuh yang non fisiologis, berada disepanjang tulang belakang. Secara traditional setiap cakra disamakan dengan bunga lotus yang mempunyai banyak daun bunga. Bila anda punya kemampuan melihat dengan mata bathin dapat melihatnya.
Ada tujuh cakra utama/cakra mayor:
-Cakra Mooladhara/cakra dasar/Basic chakra terdiri dari 4 kelopak bungaberwarna merah kemilauan, terdapat pada dasar tulang ekor. Cakra ini merupakan inti dari inti awal pengbangkitan cakra lainnya. Hal ini dikarenakan energi Kundalini hanya bersemayam didalamnya.
-Cakra svadhistana/cakra sex, terdiri dari 6 kelopak bunga berwarnaoranye. Terletak pada alat vital manusia. Cakra ini merupakan pusat pengendali hawa nafsu (seksualitas) manusia. Memiliki peranan pentingsebagai pengendali urin yang diedarkan dari ginjal dan menyeimbangkankadar urin terhadap racun-racun seperti kreatin dan urium. Cakra inijuga menyeimbangkan hormon ovum dan sperma, juga insulin dan adrenalin.
-Cakra manipura/cakra pusar/Navel Chakra terdiri dari 10 kelopak bunga berwarna hijau. Terletak pada pusar manusia (solar plexus). Cakra inimerupakan inti kekuatan daya tahan tubuh manusia yang terbesar. Cakra ini mengkoordinasi seluruh kegiatan sistim saluran pencernaan manusia.
-Cakra Anahata/Cakra Jantung/Heart Chakra, terdiri dari 12 helaikelopak bunga berwarna hijau jamrud. Terdapat pada jantung manusia. Cakra ini merupakan penggerak dan penyeimbang detak jantung manusia dan menggerakkan darah yang masuk dan keluar. Cakra Anahatta jugamengendalikan pembuluh-pembuluh darah pada jantung dan seluruh tubuh.
-Cakra Visudhi/Tenggorokan/Throat Chakra/Rushuddah, terdiri dari 16 helai kelopak bunga berwarna biru. Merupakan pengendali keseimbanganenergi diantara organ saluran pernafasan, berpengaruh penting pada proses pembersihan/detoksifikasi udara yang kita hirup.
-Cakra Ajna/Cakra Mata Ketiga, terdiri dari 96 helai kelopak bungaberwarna biru keunguan. Terletak ditengah-tengah alis mata kanan dankiri. Cakra Ajna dapat terus diaktifkan dengan tujuan aktifitasspiritual yang aplikatif, semisal melihat chakra, energi, makluk spirit/roh dsb. Mengendalikan kemampuan melihat yang non fisik. Cakra Ajna memiliki dua bagian, antara depan dan belakang. Bagian depan menguasai otak besar, sedangkan bagian belakang menguasai otak belakang.
-Cakra Sahasrara/cakra Mahkota/Crown chakra terdiri dari 960 helai kelopak bunga berwarna. Fungsinya sebagai pernyataan besarnya spiritualitas seseorang. Terletak pada ubun-ubun kepala. Cakra ini merupakan tempat energi Kundalini bersemayam setelah dibangkitkan.
Seiring perjalanan waktu Kundalini dapat turun lagi ke cakra Mooladharakarena disebabkan oleh perilaku negatif. Kundalini sendiri berasal dari kata Sansikerta artinya "menggulung". Kata ini berasal dari visualisasi energi besar yang belum terbangkitkan atau tidur.
Cakra Sahasrara merupakan gerbang Spiritual pada diri manusia. Penghubung antara Alam Spiritual Mikro (manusia) dengan Alam Spiritual Makro/Astral. Jalur yang menghubungkan ini dinamakan Anthakarana. Jalur ini bermula dari Anahatta sampai Sahasrara / inner body chakras danberlanjut sampai dengan cakra Outer Body.
14 minutes ago · Unlike · 2
Santo Paijo Al-Kafir: Sangat diwanti-wanti agar jangan belajar Reiki/Kundalini, Prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya apalagi yang berbiaya jutaan rupiah.
Mengapa???? Karena dengan belajar reiki/kundalini, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya bisa saja anda mempunyai satu atau dua kemampuan supranatural (pada hal itu bukan tujuan) atau menjadi paranormal. Semua kemampuan2 supranatural/waskita/kesaktian-kesaktian ini tidak banyak gunanya karena anda tidak bisa MEMBANGKITKAN ORANG MATI, jadi buat apa belajar reiki/kundalini, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya, nggak banyak gunanya toch. Mendingan menjadi normal-normal aja........hehehehe
12 minutes ago · Like
Alma Fuadi: belajar yang bikin banyak duit aja
10 minutes ago · Like
Ni Nengah Hardiani: kebanyakan duit juga belum tentu enak, enak yg pas aja, pas perlu beli apa, duitnya cukup, gitu.
8 minutes ago · Like
Ni Nengah Hardiani: ngga tahu istilahnya apa, mata batin atau bukan, tapi aku sepertinya bisa merasakan, seseorang yg cakranya baru sampai mana yg aktif, ada yg cuma cakra dasar saja, ada juga juga yg baru sampai cakra dada, yg sudah cakra tenggorokan dan ada pula yg sudah aktif cakra mahkotanya.
4 minutes ago · Like
Dewa Mayun: katanya kesaktian , kemampuan paranormal...adalah efek samping/bonus dari kebangkitan kundalini, kitakan cari e-fek tengahnya betul gak bli Budi Widarma?
3 minutes ago · Like
Santo Paijo Al-Kafir: Alma Fuadi: Belajar bikin es krim aja, menghasilkan banyak duit.....
about a minute ago ·
Label
about me
(94)
spiritual indonesia
(92)
leonardo rimba
(64)
pengembangan diri
(44)
humor
(17)
cinta
(16)
english
(14)
science
(14)
psikologi
(13)
baju dan aksesoris
(12)
kesehatan
(12)
sosial
(9)
sufi
(8)
budaya
(6)
osho
(6)
ekonomi
(5)
koleksi gambar
(5)
pendidikan
(5)
sex
(5)
memberdaya diri
(4)
uneg-uneg
(3)
lingkungan
(2)
meditasi
(2)
wisata spiritual
(2)
facebook
(1)
pajak
(1)
pertanian
(1)
16 Jan 2012
15 Jan 2012
Laporan Sarasehan Menuju Spiritualitas Universal
by Leonardo Rimba on Sunday, January 15, 2012 at 2:36pm
Atas nama Komunitas Spiritual Indonesia, perkenankanlah saya menghaturkan terima-kasih atas partisipasi banyak teman dalam acara Sarasehan Menuju Spiritualitas Universal, Jakarta, Sabtu, 14 Januari 2012. Sekitar 150 orang dari kita yg berasal dari banyak kota berkumpul di acara ini, yg berlangsung sejak siang hari sampai pukul 12 malam.
Terimakasih kepada tuan rumah kita, Mas Taufik Razen, pemilik ICO (Indonesian Cultural Observatory), di tempat mana kita telah melakukan dua kali sarasehan terakhir di Jakarta. Terimakasih kepada Penerbit Dolphin dan para donatur. Terimakasih kepada para pembicara, moderator, MC, dan seluruh panitia. Kita kerjanya keroyokan. Gotong royong. Hulupis kuntul baris. Kuntul not kontol, mind you.
Acara dibuka jam 2:30 sore pas dengan lagu Indonesia Raya. Kita semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi oleh musik rekaman. Saya berdiri di paling depan, membelakangi panggung dan menghadap teman-teman di dalam ruangan. Tiba-tiba saya merasa memperoleh penglihatan bendera merah putih berkibar di belakang saya. Saya diam saja, karena saya tahu itu jin. Pagi ini saya membuka facebook dan melihat foto-foto acara sarasehan kemarin, dan ternyata di belakang saya ada personil yg membawa bendera merah putih dan mengibar-ngibarkannya ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya. Subhanalloh, sesuatu banget.
Lalu tampillah Pakcik Irman Syah, dedengkot Seniman Senen, membawakan seruling Minang dan sajak-sajak dengan bahasa tidak jelas, tapi bisa kita ketahui maknanya dengan menggunakan Mata Ketiga.
The tema of kontol was the first thing that was brought at this time, yaitu oleh Hartoyo, aktivis LSM Our Voice yg bergerak di bidang kesetaraan gender dan orientasi seksual. Moderatornya psikolog Vivi D. Noviyanti yg, herannya tidak bilang itu kelakuan homo abnormal. Mbak Vivi kelihatannya tidak kaget. Rupanya sudah biasa. MC kita Misdawati T. Alie juga tidak tampak schock berat. Semua peserta merasa biasa-biasa saja sehingga Hartoyo jadi salah tingkah sendiri. Dia belum tahu saja bahwa ada beberapa moderator dan members kita yg homoses, lesbian dan bisex. Menurut kita biasa-biasa saja. Urusan pribadi masing-masing.
Dan, bahkan, menurut Ki Ananda, yg datang untuk pertama-kalinya, merupakan suatu pencapaian tersendiri ketika seorang homo bisa menerima keadaan dirinya dan bersyukur. Itu spiritualitas juga. Subhanalloh lagi.
Kita coffee break sebentar setelah ini, dan para dukun in-house ternyata sudah langsung praktek. Harusnya praktek di workshops, yaitu di urutan acara terakhir, tetapi karena kita informal, mereka yg mau konsultasi, dan mereka yg memberikan konsultasi langsung nempel. Lengket seperti jarum suntuk ketemu pantat, cosss. Ada master Fengshui Gunadi Widjaja, ada healer Rudi Cool, ada foto aura, macam-macam. Semuanya langsung menggelar dagangan yg tentu saja umumnya gratis. Penyembuhan semuanya gratis di acara sarasehan. Yg bayar, dengan harga very discount cuma foto aura dan buku-buku keluaran Penerbit Dolphin, dua buku mana di-launch sekaligus di acara kali ini, yaitu Novel Shangri-La (Rahasia Sihir dan Angka 13) oleh Ken Budha, dan buku Pelangiku Warna Ungu (Sejuta Agama Satu Tuhannya) oleh Leonardo Rimba. Moderatornya master kundalini Rini Candra. Subhanalloh lagi.
Banyak panitia datang dari luar kota, walaupun acaranya diadakan di Jakarta. Ada panitia yg datang dari Yogyakarta dan Surabaya. Lulie Mira yg bertugas di Surabaya, kembali lagi bertugas di Jakarta hari ini. Begitu pula Abang Sihar dari Yogyakarta yg selalu pegang tugas pembersihan ruangan sarasehan menggunakan kekuatan gaib. Disapu secara astral whosss whosss whosss...
Ayu Laksmi dari Bali tampil berikutnya, membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa Kuno, bahasa Latin, bahasa Indonesia, dan bahkan bahasa Sansekerta. Om mani padme hum.. Om mani padme hum.. Om mani padme hum..
Om dewa dewi... Om dewa dewi... Om dewa dewi...: begitu lantun lagu dari Kakawin Arjuna Wiwaha yg dibawakan oleh Ayu Laksmi. Dari telapak tangannya keluar energi elemen api. Perempuan-perempuan api. Kekuatan komunitas kita adalah para perempuanya. Wanita-wanita yg bisa membakar segala macam sisa-sisa kedegilan masa lalu, kotak-kotak, sehingga yg tersisa hanyalah yg bulat.
Bulat.. bulat.. Subhanalloh.
Atas nama Komunitas Spiritual Indonesia, perkenankanlah saya menghaturkan terima-kasih atas partisipasi banyak teman dalam acara Sarasehan Menuju Spiritualitas Universal, Jakarta, Sabtu, 14 Januari 2012. Sekitar 150 orang dari kita yg berasal dari banyak kota berkumpul di acara ini, yg berlangsung sejak siang hari sampai pukul 12 malam.
Terimakasih kepada tuan rumah kita, Mas Taufik Razen, pemilik ICO (Indonesian Cultural Observatory), di tempat mana kita telah melakukan dua kali sarasehan terakhir di Jakarta. Terimakasih kepada Penerbit Dolphin dan para donatur. Terimakasih kepada para pembicara, moderator, MC, dan seluruh panitia. Kita kerjanya keroyokan. Gotong royong. Hulupis kuntul baris. Kuntul not kontol, mind you.
Acara dibuka jam 2:30 sore pas dengan lagu Indonesia Raya. Kita semua berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi oleh musik rekaman. Saya berdiri di paling depan, membelakangi panggung dan menghadap teman-teman di dalam ruangan. Tiba-tiba saya merasa memperoleh penglihatan bendera merah putih berkibar di belakang saya. Saya diam saja, karena saya tahu itu jin. Pagi ini saya membuka facebook dan melihat foto-foto acara sarasehan kemarin, dan ternyata di belakang saya ada personil yg membawa bendera merah putih dan mengibar-ngibarkannya ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya. Subhanalloh, sesuatu banget.
Lalu tampillah Pakcik Irman Syah, dedengkot Seniman Senen, membawakan seruling Minang dan sajak-sajak dengan bahasa tidak jelas, tapi bisa kita ketahui maknanya dengan menggunakan Mata Ketiga.
The tema of kontol was the first thing that was brought at this time, yaitu oleh Hartoyo, aktivis LSM Our Voice yg bergerak di bidang kesetaraan gender dan orientasi seksual. Moderatornya psikolog Vivi D. Noviyanti yg, herannya tidak bilang itu kelakuan homo abnormal. Mbak Vivi kelihatannya tidak kaget. Rupanya sudah biasa. MC kita Misdawati T. Alie juga tidak tampak schock berat. Semua peserta merasa biasa-biasa saja sehingga Hartoyo jadi salah tingkah sendiri. Dia belum tahu saja bahwa ada beberapa moderator dan members kita yg homoses, lesbian dan bisex. Menurut kita biasa-biasa saja. Urusan pribadi masing-masing.
Dan, bahkan, menurut Ki Ananda, yg datang untuk pertama-kalinya, merupakan suatu pencapaian tersendiri ketika seorang homo bisa menerima keadaan dirinya dan bersyukur. Itu spiritualitas juga. Subhanalloh lagi.
Kita coffee break sebentar setelah ini, dan para dukun in-house ternyata sudah langsung praktek. Harusnya praktek di workshops, yaitu di urutan acara terakhir, tetapi karena kita informal, mereka yg mau konsultasi, dan mereka yg memberikan konsultasi langsung nempel. Lengket seperti jarum suntuk ketemu pantat, cosss. Ada master Fengshui Gunadi Widjaja, ada healer Rudi Cool, ada foto aura, macam-macam. Semuanya langsung menggelar dagangan yg tentu saja umumnya gratis. Penyembuhan semuanya gratis di acara sarasehan. Yg bayar, dengan harga very discount cuma foto aura dan buku-buku keluaran Penerbit Dolphin, dua buku mana di-launch sekaligus di acara kali ini, yaitu Novel Shangri-La (Rahasia Sihir dan Angka 13) oleh Ken Budha, dan buku Pelangiku Warna Ungu (Sejuta Agama Satu Tuhannya) oleh Leonardo Rimba. Moderatornya master kundalini Rini Candra. Subhanalloh lagi.
Banyak panitia datang dari luar kota, walaupun acaranya diadakan di Jakarta. Ada panitia yg datang dari Yogyakarta dan Surabaya. Lulie Mira yg bertugas di Surabaya, kembali lagi bertugas di Jakarta hari ini. Begitu pula Abang Sihar dari Yogyakarta yg selalu pegang tugas pembersihan ruangan sarasehan menggunakan kekuatan gaib. Disapu secara astral whosss whosss whosss...
Ayu Laksmi dari Bali tampil berikutnya, membawakan lagu-lagu berbahasa Jawa Kuno, bahasa Latin, bahasa Indonesia, dan bahkan bahasa Sansekerta. Om mani padme hum.. Om mani padme hum.. Om mani padme hum..
Om dewa dewi... Om dewa dewi... Om dewa dewi...: begitu lantun lagu dari Kakawin Arjuna Wiwaha yg dibawakan oleh Ayu Laksmi. Dari telapak tangannya keluar energi elemen api. Perempuan-perempuan api. Kekuatan komunitas kita adalah para perempuanya. Wanita-wanita yg bisa membakar segala macam sisa-sisa kedegilan masa lalu, kotak-kotak, sehingga yg tersisa hanyalah yg bulat.
Bulat.. bulat.. Subhanalloh.
Bombardir Informasi
Sinap-sinap saraf dalam otak manusia mengantar muatan informasi dari satu sel ke sel yang lain. Jika kita membombardirnya dengan muatan informasi yang melemahkan jiwa manusia, informasi itu pula yang diteruskannya dari sel ke sel bahkan dari orang tua ke anaknya. Sebaliknya, jika membombardirnya dengan muatan informasi yang memberdayakan jiwa, informasi itu pula yang diteruskannya.
Lalu, jika secara tidak sengaja karena ketidak tahuan, ketidaksadaran, dan kebodohan di masa lalu kita sudah terlanjur membombardirnya dengan muatan informasi yang tidak baik, masih adakah kesempatan untuk memperbaikinya? Tentu saja masih ada.
Tinggal dibombardir lagi dengan informasi yang kita hendaki berupa informasi yang dianggap baik.
Masalahnya hanya satu. Jika kita sudah sejak lama atau secara turun temurun memiliki sinap-sinap dengan kandungan muatan yang tidak baik maka untuk memperbaikinya dibutuhkan waktu yang cukup lama pula. Ada kalanya dibutuhkan beberapa generasi untuk menghilangkan permusuhan antara dua kelompok atau dua bangsa yang berseteru.
Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperoleh dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya.
Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orang tua.
Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.
Pertanyaan yang sering muncul ialah muatan informasi apa saja yang dapat diubah?
Jawabannya adalah semuanya, karena yang tidak baik dapat diubah menjadi baik dan yang baik bisa diubah menjadi tidak baik. Semuanya tergantung pada keinginan dan kesadaran diri kita. Dan tentunya tergantung pada cara kita membombardir dengan informasi baru.
Proses pemborbardiran dilakukan dengan cara 'pengulangan yang intensif dan terus-menerus' atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan.
Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan 'memaksa' untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan.
Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan licik. Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka.
Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus-menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri kita sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka.
(Neospirituality & Neuroscience, Anand Krishna dan Dr. Bambang Setiawan, Gramedia, 2010)
Lalu, jika secara tidak sengaja karena ketidak tahuan, ketidaksadaran, dan kebodohan di masa lalu kita sudah terlanjur membombardirnya dengan muatan informasi yang tidak baik, masih adakah kesempatan untuk memperbaikinya? Tentu saja masih ada.
Tinggal dibombardir lagi dengan informasi yang kita hendaki berupa informasi yang dianggap baik.
Masalahnya hanya satu. Jika kita sudah sejak lama atau secara turun temurun memiliki sinap-sinap dengan kandungan muatan yang tidak baik maka untuk memperbaikinya dibutuhkan waktu yang cukup lama pula. Ada kalanya dibutuhkan beberapa generasi untuk menghilangkan permusuhan antara dua kelompok atau dua bangsa yang berseteru.
Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperoleh dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya.
Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orang tua.
Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.
Pertanyaan yang sering muncul ialah muatan informasi apa saja yang dapat diubah?
Jawabannya adalah semuanya, karena yang tidak baik dapat diubah menjadi baik dan yang baik bisa diubah menjadi tidak baik. Semuanya tergantung pada keinginan dan kesadaran diri kita. Dan tentunya tergantung pada cara kita membombardir dengan informasi baru.
Proses pemborbardiran dilakukan dengan cara 'pengulangan yang intensif dan terus-menerus' atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan.
Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan 'memaksa' untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan.
Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan licik. Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka.
Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus-menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri kita sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka.
(Neospirituality & Neuroscience, Anand Krishna dan Dr. Bambang Setiawan, Gramedia, 2010)
14 Jan 2012
mendamaikan diri dari dalam
Santo Paijo Al-Kafir:
Sangat diwanti-wanti agar jangan belajar Reiki/Kundalini, Qrak, Prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya apalagi yang berbiaya jutaan rupiah.
Mengapa???? Karena dengan belajar reiki/kundalini, Qrak, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya bisa saja anda mempunyai satu atau dua kemampuan supranatural (pada hal itu bukan tujuannya) atau menjadi paranormal. Semua kemampuan2 supranatural/waskita/kesaktian-kesaktian ini tidak banyak gunanya karena anda tidak bisa MEMBANGKITKAN ORANG MATI, jadi buat apa belajar reiki/kundalini, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya, nggak banyak gunanya toch. Mendingan menjadi normal-normal aja........hehehehe
Like · ·
Unfollow Post · 9 hours ago
Kang Tom's, Ridwan Ajd, Johannes Nugroho Onggo Sanusi and 15 others like this.
Marcus Elia Widodo: saya belajar reiki, belajar yoga yang berujung pada bangkitnya kundalini, dan saat ini (meskipun tidak bisa teratur karena kesibukan) sedang belajar taichi...... manfaatnya? untuk kesehatan..... manfaat mistis/paranormalnya? gak usah dipedulikan...... hahaa.....
9 hours ago · Like · 7
Santo Paijo Al-Kafir: wakakak.......koq sensi sih..........
9 hours ago · Like · 1
Marcus Elia Widodo: artinya.. kalau mau belajar yoga, belajar saja.. kalau mau belajar taichi, belajar saja... mau belajar kundalini, belajar saja... mau belajar reiki, belajar saja..... dst...dst..... nikmati saja.... hehee.... gak usah takut... anggap saja seperti belajar melukis.. atau belajar main biola.... haaa...............
9 hours ago · Like · 4
Ki Hajar Djoewantoro: ambil positifnya aja,mbah.sehat jiwa dan raganya.klo mslnya jd pny kemampuan lebih,ya anggap aja bonus.
9 hours ago via mobile · Like · 7
Kang Boed: hehehehe setiap manusia diperjalankan dalam berbagai pola dan ketertarikan.. maka life must go on.. nikmatilah hidup itu dengan berteman si SADAR.. hehehehehe.. dan terus mengupasnya dalam RASA KESADARAN yang semakin halus.... sallllaaammm
9 hours ago · Like · 2
Ni Nengah Hardiani: Kalo suka, ada waktu dan uang, gpp dipelajari, usahakan kalo udah bisa macem2 ga sombong. Kelebihan yg dimiliki digunakan untuk bantu orang, ikhlas.
8 hours ago via mobile · Like · 3
Ni Nengah Hardiani: Aku pernah belajar reiki, yoga, taichi dll, sesuai kemampuanku, biasa2 aja.
8 hours ago via mobile · Like · 4
Kang Mas Alex: mending nge-gym kl mau betulan sehat. asli terbukti hasilnya.
8 hours ago · Like
Sukiman Kimansu: penasaran aja, kepengin belajar ini , itu, kalo sempat, ada uang, itung2 untuk mengisi waktu hidup, daripada gak ngapa2in
8 hours ago · Like · 1
Ni Nengah Hardiani: Supaya tetap langsing dan sehat, aku rutin yoga dan taichi dirumah, tiap hari, udah berjalan sebulan terakhir, mumpung ada guru privat.
8 hours ago via mobile · Like · 1
Santo Paijo Al-Kafir: Mendamaikan diri dari dalam.
8 hours ago · Like
Nur Wachid: jd orang gk normal kok biayanya mahal!....
He he he ....
8 hours ago via mobile · Like · 1
Ni Nengah Hardiani: Yoga bisa jadi sarana mengenal diri lebih mendalam, melalui nafas dan gerak tubuh. Mengenal fisik, pikiran dan emosi, sejauh ini, itu yg aku rasakan.
8 hours ago via mobile · Like · 5
Sangat diwanti-wanti agar jangan belajar Reiki/Kundalini, Qrak, Prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya apalagi yang berbiaya jutaan rupiah.
Mengapa???? Karena dengan belajar reiki/kundalini, Qrak, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya bisa saja anda mempunyai satu atau dua kemampuan supranatural (pada hal itu bukan tujuannya) atau menjadi paranormal. Semua kemampuan2 supranatural/waskita/kesaktian-kesaktian ini tidak banyak gunanya karena anda tidak bisa MEMBANGKITKAN ORANG MATI, jadi buat apa belajar reiki/kundalini, prana, taichi, hipnosis dan sejenisnya, nggak banyak gunanya toch. Mendingan menjadi normal-normal aja........hehehehe
Like · ·
Unfollow Post · 9 hours ago
Kang Tom's, Ridwan Ajd, Johannes Nugroho Onggo Sanusi and 15 others like this.
Marcus Elia Widodo: saya belajar reiki, belajar yoga yang berujung pada bangkitnya kundalini, dan saat ini (meskipun tidak bisa teratur karena kesibukan) sedang belajar taichi...... manfaatnya? untuk kesehatan..... manfaat mistis/paranormalnya? gak usah dipedulikan...... hahaa.....
9 hours ago · Like · 7
Santo Paijo Al-Kafir: wakakak.......koq sensi sih..........
9 hours ago · Like · 1
Marcus Elia Widodo: artinya.. kalau mau belajar yoga, belajar saja.. kalau mau belajar taichi, belajar saja... mau belajar kundalini, belajar saja... mau belajar reiki, belajar saja..... dst...dst..... nikmati saja.... hehee.... gak usah takut... anggap saja seperti belajar melukis.. atau belajar main biola.... haaa...............
9 hours ago · Like · 4
Ki Hajar Djoewantoro: ambil positifnya aja,mbah.sehat jiwa dan raganya.klo mslnya jd pny kemampuan lebih,ya anggap aja bonus.
9 hours ago via mobile · Like · 7
Kang Boed: hehehehe setiap manusia diperjalankan dalam berbagai pola dan ketertarikan.. maka life must go on.. nikmatilah hidup itu dengan berteman si SADAR.. hehehehehe.. dan terus mengupasnya dalam RASA KESADARAN yang semakin halus.... sallllaaammm
9 hours ago · Like · 2
Ni Nengah Hardiani: Kalo suka, ada waktu dan uang, gpp dipelajari, usahakan kalo udah bisa macem2 ga sombong. Kelebihan yg dimiliki digunakan untuk bantu orang, ikhlas.
8 hours ago via mobile · Like · 3
Ni Nengah Hardiani: Aku pernah belajar reiki, yoga, taichi dll, sesuai kemampuanku, biasa2 aja.
8 hours ago via mobile · Like · 4
Kang Mas Alex: mending nge-gym kl mau betulan sehat. asli terbukti hasilnya.
8 hours ago · Like
Sukiman Kimansu: penasaran aja, kepengin belajar ini , itu, kalo sempat, ada uang, itung2 untuk mengisi waktu hidup, daripada gak ngapa2in
8 hours ago · Like · 1
Ni Nengah Hardiani: Supaya tetap langsing dan sehat, aku rutin yoga dan taichi dirumah, tiap hari, udah berjalan sebulan terakhir, mumpung ada guru privat.
8 hours ago via mobile · Like · 1
Santo Paijo Al-Kafir: Mendamaikan diri dari dalam.
8 hours ago · Like
Nur Wachid: jd orang gk normal kok biayanya mahal!....
He he he ....
8 hours ago via mobile · Like · 1
Ni Nengah Hardiani: Yoga bisa jadi sarana mengenal diri lebih mendalam, melalui nafas dan gerak tubuh. Mengenal fisik, pikiran dan emosi, sejauh ini, itu yg aku rasakan.
8 hours ago via mobile · Like · 5
Budaya “Jawara Banten” Masih Kuat Di Propinsi Banten Bahkan Hingga Sekarang
Mobil melambat, reflek aku melihat keluar dari jendela mobil. Aku nggak tau tepatnya berada dimana. Yang aku tau ini masih di daerah Tangerang. Tapi bukan di wilayah padat perkotaan. Kota Tangerang tidak sehiruk pikuk kota Jakarta, bahkan jauh lebih bersih, lebih hijau dan lebih lengang dari kota Jakarta. Mobil memasuki jalan kecil menuju sebuah rumah keluarga yang cukup besar dan luas dengan halaman yang juga luas. Beberapa pepohonan rindang yang mengelilingi rumah justru membuat rumah menjadi lebih asri dan segar. Seakan-akan perubahan iklim yang ekstrim yang membuat pemanasan global beberapa tahun belakangan ini tidak mempengaruhi kesegaran di sekitar dan di dalam rumah.
Tadi malam seseorang menelepon ku. Katanya mendapatkan informasi diriku dari FB. Sebut saja namanya Affan. Dia bilang bapaknya sedang sakit yang menurutnya tidak wajar. Bagian badan dari pinggang ke bawah, lumpuh total. Sudah hampir 8 bulan seperti itu. Sudah juga dibawa keberbagai dokter dan berbagai pengobatan alternatif, tetapi sampai sekarang tidak juga ada kemajuan kesembuhan. Beberapa dokter bahkan bingung sendiri, karena setelah diperiksa secara medis, tidak ada bagian tubuh yang bermasalah seirus. Ini yang membuat keluarga kemudian berkesimpulan bahwa penyakit sang bapak adalah karena “bikinan orang lain”.
Affan meminta ku untuk datang ke rumahnya. Dia berjanji untuk menjemputku di tempat yang telah kami sepakati, besok pagi jam 9. Dan kini aku sudah berada di halaman rumahnya. Ada beberapa orang yang memenuhi teras rumahnya. Mungkin tetangga atau kerabat dekatnya. Affan yang ternyata masih seumuran dengan ku, meminta ku untuk mengikutinya. Kami melewati teras rumah. Ku ucapkan salam dan menebarkan senyumku untuk sekedar berbasa-basi menjalin hubungan emosional dengan orang-orang yang berada di situ. Affan kemudian mempersilahkan ku duduk di ruang tamu. Aku bilang lebih baik langsung saja melihat yang sakit. Affan setuju lalu membawa ku masuk ke kamar yang berada agak di belakang dari bagian rumah keseluruhan.
Bau apek menyerang hidungku. Sirkulasi udara yang tidak lancar akan membuat udara menjadi tidak sehat. Hal ini tentu saja dapat membuat keadaan menjadi lebih buruk buat yang sakit. Kamar ini memang tidak ada jendelanya. Di tempat tidur terbaring seorang lelaki tua berambut putih yang kurus. Akan tetapi badannya yang kurus tidak dapat menyembunyikan sisa-sisa ketegapan badannya, ketika masih sehat. Matanya nanar menatap ku seakan menyelidiki ku, namun tajam seperti tidak mempunyai rasa takut. Dari pandangan matanya dan cara dia memandang, intuisiku membersitkan bahwa waktu mudanya, orang ini adalah orang yang berani dan tidak kenal takut. Aku mengajaknya ngobrol hal-hal yang ringan untuk menjalin hubungan emosional dengannya. Sebab bila hubungan emosional terjalin, pengobatan akan menjadi lebih mudah dan keberhasilan kesembuhan akan menjadi lebih tinggi. Dalam pengobatan spiritual, kedekatan hubungan emosional adalah bagian dari pengobatan. Kepercayaan pasien pada juru sembuh adalah sugesti positif yang membantu proses kesembuhan. Semakin besar kepercayaan, semakin besar pula sugesti yang tertanam dan tentu saja menambah tinggi tingkat keberhasilan kesembuhan.
Topik obrolan ku arahkan ke penyakitnya. Dia bilang bahwa kedua kakinya mati rasa. Bahkan tidak dapat digerakkan sama sekali. Lumpuh total. Menurut penglihatan batinnya, yang buat adalah adik-adik kandungnya sendiri. Yang iri karena dirinya lebih kaya dari mereka. Menurut penglihatan batinnya caranya adalah dengan memaku sebuah batu yang berbentuk dirinya. Selama paku itu masih menancap di boneka batu itu, penyakitnya tidak akan sembuh.
Menghadapi orang seperti ini kadang kala membingungkan juga. Bagaimana mungkin bisa mengobati penyakitnya hingga sembuh kalau fikirannya sendiri sangat percaya bahwa kesembuhan hanya bisa dilakukan menurut pendapatnya dan keinginannya sendiri saja? Lucu juga kan kalau pasien yang mengarahkan cara pengobatan dan menunjukkan obat-obatan yang harus di konsumsinya pada dokter yang akan mengobatinya.
Dari cara bicaranya yang keras, kaku, hanya mau menang sendiri dan apa yang dibicarakannya, menyiratkan bahwa waktu mudanya orang ini terbiasa menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Menurutku ini juga karena dia merasa bahwa dirinya mempunyai kekuatan metafisik. Mungkin karena dia mempelajari ilmu-ilmu silat metafisik dari budayanya, Banten. Mereka menyebutnya “Jawara Banten”.
Budaya “Jawara Banten” masih kuat di propinsi Banten ini bahkan hingga sekarang. Kolaborasi spiritualitas budaya Arab (beberapa tariqot yang membudaya di Banten) dan keyakinan setempat, melahirkan ilmu-ilmu beladiri hikmah. Ketika berzikir mengucapkan mantera dalam waktu yang panjang dan puasa dalam waktu yang lama, menimbulkan ekstasi dan memunculkan kekuatan bawah sadar sesuai dengan maksud dan tujuan dari ritual berat dan panjang yang mereka lakukan. Pelaku ritual ini akan merasa bahwa ada makhluk halus kasat mata yang menaungi diri mereka dan dapat hadir masuk kedalam tubuh fisik mereka kapanpun mereka panggil. Makhluk itu mereka sebut “khodam”. Berasal dari bahasa Arab bermakna “pembantu atau yang membantu” dalam bahasa Indonesia.
Padahal tidak ada mahkluk halus dan kasar apapun yang melingkupi dirinya. Keyakinan mereka yang begitu kuat akan keberadaan makhluk gaib tersebut yang hadir setelah melakukan ritual panjang dan berat sajalah yang memunculkan kekuatan supra seperti tenaga dalam (energi magnetik yang berasal dari cakra puser, energi emosional) kekebalan dan kemampuan memainkan silat yang tidak dikendalikan kesadaran fisik mereka. Walaupun ketika memainkan jurus-jurus silat sebenarnya kesadaran fisik mereka itu sadar sepenuhnya. Hanya saja gerakan-gerakan silat yang muncul berikut tenaga dalamnya itu berasal dari bawah sadar mereka yang mempercayai bahwa khodam merekalah yang memainkannya. Tetapi memang mantera-mantera yang mereka ucapkan berulang-ulang mempunyai frekwensi energi jiwa dari guru-guru yang menciptakan mantera tesebut. Energi tersebut dapat mempengaruhi bawah sadar mereka yang melakukan ritual seperti yang diajarkan.
Mengapa ritual dan mantera yang diciptakan mempunyai energi jiwa yang menciptakan? Sebenarnya ini proses alamiah saja. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, secara alamiah, energi jiwa kita akan terbias dan mempengaruhi tingkat keberhasilan apapun pekerjaan yang kita lakukan tersebut. Semakin tinggi keseriusan kita dalam melakukan pekerjaan tersebut, semakin besar pula energi jiwa yang kita keluarkan untuk mempengaruhi keadaan (semesta) dalam membuat pekerjaan kita berhasil, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pekerjaan yang kita lakukan tersebut. Begitupun ketika kita bekerja membuat suatu benda. Contoh kecil, ketika kita membuat sebuah bangku dari kayu, secara alamiah energi jiwa kita akan terserap ke dalam bangku yang kita buat tersebut. Begitulah para empu zaman dulu yang mempunyai bias frekwensi energi yang tinggi, ketika membuat keris dengan ritual tertentu dan kesungguhan sepenuh jiwa. Inilah yang membuat keris kemudian mengandung energi magnetik tinggi karena telah tersimpan energi jiwa sang pembuat. Demikianlah para spiritualis dahulu, yang mempunyai bias energi jiwa yang sangat tinggi ketika menciptakan cara ritual dan mantera untuk tujuan-tujuan tertentu.
Aku keluar dan mengajak Affan untuk mengobrol hanya berdua. Affan membawa ku ke kamarnya setelah terlebih dahulu menyuruh istrinya keluar kamar. Berikut obrolan kami yang telah ku revisi untuk mempermudah pengertian.
Aku : Mas Affan, bapak itu dulunya seorang jawara ya?
Affan : Ya.. Begitulah bang.. abang bisa liat sendiri, begitu kerasnya bapak.
Aku : Menurutku penyakit gaib bapak, bukan dibuat orang lain. Tapi bapak sendiri yang buat. Kalau boleh aku tau,
bapak dulu kerjanya apa?
Affan : Hhmm.., bapak itu dulunya suka main tangan kalau menyelesaikan persoalan. Disamping karena karakter bapak yang memang begitu, kata aki saya semenjak dia belajar ilmu jawara Banten, sifat kasarnya dan mau benar sendirinya semakin parah. Siapa saja yang bertentangan dengannya akan dipukulnya atau diancamnya dengan golok. Semua orang di kampung sini takut padanya.
Aku : Begini mas Affan. Menurut ku penyakit bapak adalah karena ulahnya sendiri. Bapak terlalu sering menyakiti hati orang lain dan banyak orang lain yang hatinya dia sakiti. Orang-orang yang sakit hati tersebut menyumpah dan mengutuknya agar bapak celaka. Sumpah serapah dan kutukan orang itu didengar tuhan lalu ketika tubuh bapak menua dan semakin ringkih, bapakpun dibuat sakit oleh tuhan. Jadi menurut ku ada yang bapak buat yang teramat sangat membuat hati orang lain sakit, hingga doa orang tersebut didengar tuhan. Bukankah tuhan akan mengabulkan doa orang-orang yang tertindas?
Affan : Bapak itu waktu mudanya selalu memaksa orang lain untuk menjual padi padanya dengan harga yang sangat tidak pantas yang dia tentukan sendiri. Kalau orang itu menolak, dia akan mengancamnya dan menyuruh orang kampung untuk memboikotnya. Kalau orang itu menjual padi ke orang lain, orang yang membeli padi akan dia hajar habis-habisan. Hingga siapapun takut untuk membeli padi di kampung ini.
Sama adik-adik kandungnya sendiripun bapak bermasalah. Puncaknya ketika aki meninggal. Semua tanah keluarga dia kuasai hingga adik-adiknya tidak kebagian sama sekali. Semua adiknya tak ada yang berani adu fisik dengannya yang selalu bawa golok kemana-mana. Tanah-tanah itu dia jual sedikit demi sedikit dan uangnya dia pakai sendiri untuk kesenangannya berjudi taruhan adu ayam. Ratusan juta uang tanah hilang begitu saja demi untuk judi taruhan adu ayam. Pernah adiknya yang bontot kesal dan menantangnya berkelahi. Tapi badannya kalah besar, ya tentu saja hanya jadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan bapak. Untuk saja bapak nggak ngeluarin goloknya. Kalau golok itu keluar, wah.. habis dah paman saya.
Aku : Mas Affan, mas sudah tau sendiri kan sumber penyakit bapak. Dan karena itu saya mohon maaf, saya menolak untuk mengobatinya bukan karena saya tidak sanggup. Tetapi karena bapak sendiri yang keras kepala hingga menurutnya dialah yang lebih tau sebab penyakitnya dan cara mengobatinya dari orang manapun yang berusaha untuk mengobatinya. Sampai dalam keadaan sakitpun bapak masih menganggap bahwa ilmunya lebih tinggi dari siapapun juga. Artinya, sehebat apapun ilmu orang yang akan mengobatinya, penyakit bapak tidak akan bisa sembuh karena fikiran bapak sendiri.
Sobat..
Bapaknya Affan terkena penyakit yang dibuatnya sendiri. Ketika muda, dia sering membuat banyak orang lain sakit hati. Sumpah serapah dan kutukan orang lain yang sakit hati itu, adalah energi negatif yang kemudian terbias dan mengakumulasi di tubuh fisik sang bapak. Semakin lama semakin besar pula tumpukan energi tersebut dan lalu membuat sakit tubuh sang bapak. Demikianlah LOA bekerja.
Bagaimanapun juga sobat.. alam punya cara tersendiri dalam perjalanan evolusinya. Hal di atas adalah pelajaran berharga buat kita agar pandai-pandai menapak hidup. Seminimal mungkin berbuat hal yang berpotensi menarik energi negatif. Selalu berfikiran positif dan membuka diri pada hal-hal yang memicu fikiran untuk berfikir, serta jangan terbelenggu oleh fikiran bodoh yang kita buat sendiri.
Hidup itu akan terlihat indah bila kita selalu melihat dari sisi keindahan. Kalau kita dapat melihat keindahan hidup, buat apa mengubangkan diri dalam fikiran jelek yang selalu was-was dan penuh ketakutan?
Indi Sujawe
Praktisi Spiritual dan Shamanistic.
Tadi malam seseorang menelepon ku. Katanya mendapatkan informasi diriku dari FB. Sebut saja namanya Affan. Dia bilang bapaknya sedang sakit yang menurutnya tidak wajar. Bagian badan dari pinggang ke bawah, lumpuh total. Sudah hampir 8 bulan seperti itu. Sudah juga dibawa keberbagai dokter dan berbagai pengobatan alternatif, tetapi sampai sekarang tidak juga ada kemajuan kesembuhan. Beberapa dokter bahkan bingung sendiri, karena setelah diperiksa secara medis, tidak ada bagian tubuh yang bermasalah seirus. Ini yang membuat keluarga kemudian berkesimpulan bahwa penyakit sang bapak adalah karena “bikinan orang lain”.
Affan meminta ku untuk datang ke rumahnya. Dia berjanji untuk menjemputku di tempat yang telah kami sepakati, besok pagi jam 9. Dan kini aku sudah berada di halaman rumahnya. Ada beberapa orang yang memenuhi teras rumahnya. Mungkin tetangga atau kerabat dekatnya. Affan yang ternyata masih seumuran dengan ku, meminta ku untuk mengikutinya. Kami melewati teras rumah. Ku ucapkan salam dan menebarkan senyumku untuk sekedar berbasa-basi menjalin hubungan emosional dengan orang-orang yang berada di situ. Affan kemudian mempersilahkan ku duduk di ruang tamu. Aku bilang lebih baik langsung saja melihat yang sakit. Affan setuju lalu membawa ku masuk ke kamar yang berada agak di belakang dari bagian rumah keseluruhan.
Bau apek menyerang hidungku. Sirkulasi udara yang tidak lancar akan membuat udara menjadi tidak sehat. Hal ini tentu saja dapat membuat keadaan menjadi lebih buruk buat yang sakit. Kamar ini memang tidak ada jendelanya. Di tempat tidur terbaring seorang lelaki tua berambut putih yang kurus. Akan tetapi badannya yang kurus tidak dapat menyembunyikan sisa-sisa ketegapan badannya, ketika masih sehat. Matanya nanar menatap ku seakan menyelidiki ku, namun tajam seperti tidak mempunyai rasa takut. Dari pandangan matanya dan cara dia memandang, intuisiku membersitkan bahwa waktu mudanya, orang ini adalah orang yang berani dan tidak kenal takut. Aku mengajaknya ngobrol hal-hal yang ringan untuk menjalin hubungan emosional dengannya. Sebab bila hubungan emosional terjalin, pengobatan akan menjadi lebih mudah dan keberhasilan kesembuhan akan menjadi lebih tinggi. Dalam pengobatan spiritual, kedekatan hubungan emosional adalah bagian dari pengobatan. Kepercayaan pasien pada juru sembuh adalah sugesti positif yang membantu proses kesembuhan. Semakin besar kepercayaan, semakin besar pula sugesti yang tertanam dan tentu saja menambah tinggi tingkat keberhasilan kesembuhan.
Topik obrolan ku arahkan ke penyakitnya. Dia bilang bahwa kedua kakinya mati rasa. Bahkan tidak dapat digerakkan sama sekali. Lumpuh total. Menurut penglihatan batinnya, yang buat adalah adik-adik kandungnya sendiri. Yang iri karena dirinya lebih kaya dari mereka. Menurut penglihatan batinnya caranya adalah dengan memaku sebuah batu yang berbentuk dirinya. Selama paku itu masih menancap di boneka batu itu, penyakitnya tidak akan sembuh.
Menghadapi orang seperti ini kadang kala membingungkan juga. Bagaimana mungkin bisa mengobati penyakitnya hingga sembuh kalau fikirannya sendiri sangat percaya bahwa kesembuhan hanya bisa dilakukan menurut pendapatnya dan keinginannya sendiri saja? Lucu juga kan kalau pasien yang mengarahkan cara pengobatan dan menunjukkan obat-obatan yang harus di konsumsinya pada dokter yang akan mengobatinya.
Dari cara bicaranya yang keras, kaku, hanya mau menang sendiri dan apa yang dibicarakannya, menyiratkan bahwa waktu mudanya orang ini terbiasa menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Menurutku ini juga karena dia merasa bahwa dirinya mempunyai kekuatan metafisik. Mungkin karena dia mempelajari ilmu-ilmu silat metafisik dari budayanya, Banten. Mereka menyebutnya “Jawara Banten”.
Budaya “Jawara Banten” masih kuat di propinsi Banten ini bahkan hingga sekarang. Kolaborasi spiritualitas budaya Arab (beberapa tariqot yang membudaya di Banten) dan keyakinan setempat, melahirkan ilmu-ilmu beladiri hikmah. Ketika berzikir mengucapkan mantera dalam waktu yang panjang dan puasa dalam waktu yang lama, menimbulkan ekstasi dan memunculkan kekuatan bawah sadar sesuai dengan maksud dan tujuan dari ritual berat dan panjang yang mereka lakukan. Pelaku ritual ini akan merasa bahwa ada makhluk halus kasat mata yang menaungi diri mereka dan dapat hadir masuk kedalam tubuh fisik mereka kapanpun mereka panggil. Makhluk itu mereka sebut “khodam”. Berasal dari bahasa Arab bermakna “pembantu atau yang membantu” dalam bahasa Indonesia.
Padahal tidak ada mahkluk halus dan kasar apapun yang melingkupi dirinya. Keyakinan mereka yang begitu kuat akan keberadaan makhluk gaib tersebut yang hadir setelah melakukan ritual panjang dan berat sajalah yang memunculkan kekuatan supra seperti tenaga dalam (energi magnetik yang berasal dari cakra puser, energi emosional) kekebalan dan kemampuan memainkan silat yang tidak dikendalikan kesadaran fisik mereka. Walaupun ketika memainkan jurus-jurus silat sebenarnya kesadaran fisik mereka itu sadar sepenuhnya. Hanya saja gerakan-gerakan silat yang muncul berikut tenaga dalamnya itu berasal dari bawah sadar mereka yang mempercayai bahwa khodam merekalah yang memainkannya. Tetapi memang mantera-mantera yang mereka ucapkan berulang-ulang mempunyai frekwensi energi jiwa dari guru-guru yang menciptakan mantera tesebut. Energi tersebut dapat mempengaruhi bawah sadar mereka yang melakukan ritual seperti yang diajarkan.
Mengapa ritual dan mantera yang diciptakan mempunyai energi jiwa yang menciptakan? Sebenarnya ini proses alamiah saja. Ketika kita melakukan suatu pekerjaan, secara alamiah, energi jiwa kita akan terbias dan mempengaruhi tingkat keberhasilan apapun pekerjaan yang kita lakukan tersebut. Semakin tinggi keseriusan kita dalam melakukan pekerjaan tersebut, semakin besar pula energi jiwa yang kita keluarkan untuk mempengaruhi keadaan (semesta) dalam membuat pekerjaan kita berhasil, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pekerjaan yang kita lakukan tersebut. Begitupun ketika kita bekerja membuat suatu benda. Contoh kecil, ketika kita membuat sebuah bangku dari kayu, secara alamiah energi jiwa kita akan terserap ke dalam bangku yang kita buat tersebut. Begitulah para empu zaman dulu yang mempunyai bias frekwensi energi yang tinggi, ketika membuat keris dengan ritual tertentu dan kesungguhan sepenuh jiwa. Inilah yang membuat keris kemudian mengandung energi magnetik tinggi karena telah tersimpan energi jiwa sang pembuat. Demikianlah para spiritualis dahulu, yang mempunyai bias energi jiwa yang sangat tinggi ketika menciptakan cara ritual dan mantera untuk tujuan-tujuan tertentu.
Aku keluar dan mengajak Affan untuk mengobrol hanya berdua. Affan membawa ku ke kamarnya setelah terlebih dahulu menyuruh istrinya keluar kamar. Berikut obrolan kami yang telah ku revisi untuk mempermudah pengertian.
Aku : Mas Affan, bapak itu dulunya seorang jawara ya?
Affan : Ya.. Begitulah bang.. abang bisa liat sendiri, begitu kerasnya bapak.
Aku : Menurutku penyakit gaib bapak, bukan dibuat orang lain. Tapi bapak sendiri yang buat. Kalau boleh aku tau,
bapak dulu kerjanya apa?
Affan : Hhmm.., bapak itu dulunya suka main tangan kalau menyelesaikan persoalan. Disamping karena karakter bapak yang memang begitu, kata aki saya semenjak dia belajar ilmu jawara Banten, sifat kasarnya dan mau benar sendirinya semakin parah. Siapa saja yang bertentangan dengannya akan dipukulnya atau diancamnya dengan golok. Semua orang di kampung sini takut padanya.
Aku : Begini mas Affan. Menurut ku penyakit bapak adalah karena ulahnya sendiri. Bapak terlalu sering menyakiti hati orang lain dan banyak orang lain yang hatinya dia sakiti. Orang-orang yang sakit hati tersebut menyumpah dan mengutuknya agar bapak celaka. Sumpah serapah dan kutukan orang itu didengar tuhan lalu ketika tubuh bapak menua dan semakin ringkih, bapakpun dibuat sakit oleh tuhan. Jadi menurut ku ada yang bapak buat yang teramat sangat membuat hati orang lain sakit, hingga doa orang tersebut didengar tuhan. Bukankah tuhan akan mengabulkan doa orang-orang yang tertindas?
Affan : Bapak itu waktu mudanya selalu memaksa orang lain untuk menjual padi padanya dengan harga yang sangat tidak pantas yang dia tentukan sendiri. Kalau orang itu menolak, dia akan mengancamnya dan menyuruh orang kampung untuk memboikotnya. Kalau orang itu menjual padi ke orang lain, orang yang membeli padi akan dia hajar habis-habisan. Hingga siapapun takut untuk membeli padi di kampung ini.
Sama adik-adik kandungnya sendiripun bapak bermasalah. Puncaknya ketika aki meninggal. Semua tanah keluarga dia kuasai hingga adik-adiknya tidak kebagian sama sekali. Semua adiknya tak ada yang berani adu fisik dengannya yang selalu bawa golok kemana-mana. Tanah-tanah itu dia jual sedikit demi sedikit dan uangnya dia pakai sendiri untuk kesenangannya berjudi taruhan adu ayam. Ratusan juta uang tanah hilang begitu saja demi untuk judi taruhan adu ayam. Pernah adiknya yang bontot kesal dan menantangnya berkelahi. Tapi badannya kalah besar, ya tentu saja hanya jadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan bapak. Untuk saja bapak nggak ngeluarin goloknya. Kalau golok itu keluar, wah.. habis dah paman saya.
Aku : Mas Affan, mas sudah tau sendiri kan sumber penyakit bapak. Dan karena itu saya mohon maaf, saya menolak untuk mengobatinya bukan karena saya tidak sanggup. Tetapi karena bapak sendiri yang keras kepala hingga menurutnya dialah yang lebih tau sebab penyakitnya dan cara mengobatinya dari orang manapun yang berusaha untuk mengobatinya. Sampai dalam keadaan sakitpun bapak masih menganggap bahwa ilmunya lebih tinggi dari siapapun juga. Artinya, sehebat apapun ilmu orang yang akan mengobatinya, penyakit bapak tidak akan bisa sembuh karena fikiran bapak sendiri.
Sobat..
Bapaknya Affan terkena penyakit yang dibuatnya sendiri. Ketika muda, dia sering membuat banyak orang lain sakit hati. Sumpah serapah dan kutukan orang lain yang sakit hati itu, adalah energi negatif yang kemudian terbias dan mengakumulasi di tubuh fisik sang bapak. Semakin lama semakin besar pula tumpukan energi tersebut dan lalu membuat sakit tubuh sang bapak. Demikianlah LOA bekerja.
Bagaimanapun juga sobat.. alam punya cara tersendiri dalam perjalanan evolusinya. Hal di atas adalah pelajaran berharga buat kita agar pandai-pandai menapak hidup. Seminimal mungkin berbuat hal yang berpotensi menarik energi negatif. Selalu berfikiran positif dan membuka diri pada hal-hal yang memicu fikiran untuk berfikir, serta jangan terbelenggu oleh fikiran bodoh yang kita buat sendiri.
Hidup itu akan terlihat indah bila kita selalu melihat dari sisi keindahan. Kalau kita dapat melihat keindahan hidup, buat apa mengubangkan diri dalam fikiran jelek yang selalu was-was dan penuh ketakutan?
Indi Sujawe
Praktisi Spiritual dan Shamanistic.
13 Jan 2012
Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu.
Banyak hal dalam agama yang jika dibuang sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu, sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam. Satu, doktrin bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah.
Menurut saya, doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible”, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal.
Dua, doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat: Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “hallmark” dari sekte Ahlussunnah waljamaah di mana-mana, sepanjang sejarah. Doktrin ini sebetulnya kurang perlu dan menjadi alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status quo. Sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu.
Islam tidak berkurang nilainya sebagai agama jika doktrin ini dihilangkan. Tiga, doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu.
Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi? Empat, doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini tertanam kuat dalam psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” sebuah agama.
Kehadiran agama tidak terlalu penting dipandang sebagai “negasi” atas agama lain. Agama-agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitulah seterusnya. Lima, doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah dengan rajin kerap dipandang lebih “Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan, hanya karena mereka tidak beribadah secara rutin.
Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdian kepada kemanusiaan. Enam, doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Islam atau agama orang berangkutan adalah “kafir”. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam semua agama. Semua agama cenderung memandang bahwa mereka yang ada di luar “lingkaran penyelamatan” adalah domba-domba sesat. Doktrin ini, sekali lagi, cerminan dari arogansi sebuah agama tertentu. Sudah jelas bahwa jalan keselamatan adalah banyak sekali. Tujuh, berkaitan dengan doktrin sebelumya, ada doktrin lain yang biasanya bekerja dalam lingkaran internal masing-masing agama. Dalam Islam, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan”, al-firqah al-najiyah.
Kelompok yang menyebut dirinya ahlussunnah wal-jamaah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masuk sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat, selebihnya sesat.
Doktrin ini diteruskan oleh MUI dalam bentuk lain melalui fatwa penyesatan. Mendaku bahwa yang selamat hanya lingkaran tertentu adalah sebentuk arogansi. Delapan, doktrin bahwa jika Kitab Suci mengatakan A, maka seluruh usaha rasional harus berhenti. Kitab Suci adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan tak mungkin salah. Oleh karena itu, jika Tuhan sudah mengeluarkan sebuah “dekrit”, maka seluruh perbincangan harus berhenti. Doktrin ini tercermin dalam sebuah “legal maxim” atau kaidah hukum dalam teori hukum Islam yang berbunyi, “la ijtihada fi mahal al-nass”, tidak ada “independent reasoning” dalam hal-hal di mana teks Kitab Suci sudah mempunyai kata putus. Dengan kata lain, ijtihad harus dihentikan jika Kitab Suci sudah memutuskan sesuatu.
Dalam diskursus filsafat modern di Amerika, hal ini disebut sebagai “discussion stopper”, agama sebagai penghenti diskusi. Sudah jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda. Sembilan, doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh “syari’” atau legislator.
Yang disebut legislator dalam konteks Islam adalah Tuhan, kemudian secara derivatif juga Nabi Muhammad. Para ulama atau fukaha datang belakangan sebagai penafsir atas hukum itu, dan pelan-pelan juga menempati kedudukan sebagai “pembuat hukum” atau legislator hukum agama. Doktrin ini sangat kuat tertanam dalam Islam. Doktrin ini juga kuat tertanam dalam agama Yahudi. Deklarasi Qur’an sudah sangat jelas dan sangat “kategorikal” , bahwa Adam dan seluruh keturunannya adalah “khalifah” di muka bumi.
“Kekhilafahan” di sini, dalam tafsiran saya, mencakup pula kompetensi untuk menciptakan hukum yang mengatur ketertiban di muka bumi ini. Seluruh individu, dalam pandangan Islam yang saya pahami, adalah obyek dan subyek hukum sekaligus. Dengan kata lain, hukum bukan hanya diciptakan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia. Manusia secara generis adalah syari’, bukan saja Nabi atau ulama/fukaha. Ini paralel dengan konsep “kewarganegaraan modern” di mana konsep “warga negara” mencakup secara intrinsik kemampun untuk membuat dan men-generate sebuah hukum.
Jika ada kelebihan pada ahli hukum atau fukaha yang membuat mereka menjadi spesial kedudukannya adalah karena mereka mempunyai “training” untuk merumuskan sebuah hukum dalam prosedur yang standar. Tetapi sumber hukum bukan saja hanya ada pada Kutab Suci, sabda-sabda Nabi, atau pendapat ulama, tetapi juga manusia secara keseluruhan. Sepuluh, doktrin bahwa Kitab Suci bersifat seluruhnya supra-historis, karena ia adalah firman Tuhan. Karena Tuhan bersifat supra-sejarah, maka firmanNya pun bersifat supra sejarah pula. Karena itu, Kitab Suci juga supra sejarah. Kebenaran Kitab Suci tak terikat dengan ruang dan waktu. Pandangan ini lagi-lagi adalah pandangan yang “angkuh”. Akan lebih proporsional jika kita mengatakan bahwa ada hal-hal yang supra-sejarah dalam Kitab Suci, tetapi juga ada hal-hal lain yang cukup banyak yang terikat dengan sejarah.
Bagian Kitab Suci yang “lengket sejarah” ini bisa tidak relevan sama sekali jika keadaan berubah. Sebelas, doktrin bahwa Islam bisa menjawab semua masalah. Doktrin ini jelas hanya retorika belaka. Sebab pada kenyataannya tidak demikian. Solusi agama atau Islam, jika pun ada, juga tidak mesti sukses dan berhasil. Sebagaimana solusi-solusi sekuler, solusi Islam juga bisa gagal, seperti terbukti dalam banyak kasus. Saya masih memiliki daftar yang panjang. Tetapi, itulah hal-hal pokok yang ingin saya kemukakan di sini.
Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu. Mendaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika tawadlu’. Mendaku bahwa Islam menghapuskan agama sebelumnya sama sekali tak mencerminkan sikap tawadlu’.
[] diambil dari : http://islamlib.com/id/artikel/doktrin-doktrin-yang-kurang-perlu-dalam-islam
Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu.
Banyak hal dalam agama yang jika dibuang sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu, sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam. Satu, doktrin bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah.
Menurut saya, doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible”, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal.
Dua, doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat: Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “hallmark” dari sekte Ahlussunnah waljamaah di mana-mana, sepanjang sejarah. Doktrin ini sebetulnya kurang perlu dan menjadi alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status quo. Sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu.
Islam tidak berkurang nilainya sebagai agama jika doktrin ini dihilangkan. Tiga, doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu.
Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi? Empat, doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini tertanam kuat dalam psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” sebuah agama.
Kehadiran agama tidak terlalu penting dipandang sebagai “negasi” atas agama lain. Agama-agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitulah seterusnya. Lima, doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah dengan rajin kerap dipandang lebih “Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan, hanya karena mereka tidak beribadah secara rutin.
Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdian kepada kemanusiaan. Enam, doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Islam atau agama orang berangkutan adalah “kafir”. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam semua agama. Semua agama cenderung memandang bahwa mereka yang ada di luar “lingkaran penyelamatan” adalah domba-domba sesat. Doktrin ini, sekali lagi, cerminan dari arogansi sebuah agama tertentu. Sudah jelas bahwa jalan keselamatan adalah banyak sekali. Tujuh, berkaitan dengan doktrin sebelumya, ada doktrin lain yang biasanya bekerja dalam lingkaran internal masing-masing agama. Dalam Islam, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan”, al-firqah al-najiyah.
Kelompok yang menyebut dirinya ahlussunnah wal-jamaah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masuk sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat, selebihnya sesat.
Doktrin ini diteruskan oleh MUI dalam bentuk lain melalui fatwa penyesatan. Mendaku bahwa yang selamat hanya lingkaran tertentu adalah sebentuk arogansi. Delapan, doktrin bahwa jika Kitab Suci mengatakan A, maka seluruh usaha rasional harus berhenti. Kitab Suci adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan tak mungkin salah. Oleh karena itu, jika Tuhan sudah mengeluarkan sebuah “dekrit”, maka seluruh perbincangan harus berhenti. Doktrin ini tercermin dalam sebuah “legal maxim” atau kaidah hukum dalam teori hukum Islam yang berbunyi, “la ijtihada fi mahal al-nass”, tidak ada “independent reasoning” dalam hal-hal di mana teks Kitab Suci sudah mempunyai kata putus. Dengan kata lain, ijtihad harus dihentikan jika Kitab Suci sudah memutuskan sesuatu.
Dalam diskursus filsafat modern di Amerika, hal ini disebut sebagai “discussion stopper”, agama sebagai penghenti diskusi. Sudah jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda. Sembilan, doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh “syari’” atau legislator.
Yang disebut legislator dalam konteks Islam adalah Tuhan, kemudian secara derivatif juga Nabi Muhammad. Para ulama atau fukaha datang belakangan sebagai penafsir atas hukum itu, dan pelan-pelan juga menempati kedudukan sebagai “pembuat hukum” atau legislator hukum agama. Doktrin ini sangat kuat tertanam dalam Islam. Doktrin ini juga kuat tertanam dalam agama Yahudi. Deklarasi Qur’an sudah sangat jelas dan sangat “kategorikal” , bahwa Adam dan seluruh keturunannya adalah “khalifah” di muka bumi.
“Kekhilafahan” di sini, dalam tafsiran saya, mencakup pula kompetensi untuk menciptakan hukum yang mengatur ketertiban di muka bumi ini. Seluruh individu, dalam pandangan Islam yang saya pahami, adalah obyek dan subyek hukum sekaligus. Dengan kata lain, hukum bukan hanya diciptakan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia. Manusia secara generis adalah syari’, bukan saja Nabi atau ulama/fukaha. Ini paralel dengan konsep “kewarganegaraan modern” di mana konsep “warga negara” mencakup secara intrinsik kemampun untuk membuat dan men-generate sebuah hukum.
Jika ada kelebihan pada ahli hukum atau fukaha yang membuat mereka menjadi spesial kedudukannya adalah karena mereka mempunyai “training” untuk merumuskan sebuah hukum dalam prosedur yang standar. Tetapi sumber hukum bukan saja hanya ada pada Kutab Suci, sabda-sabda Nabi, atau pendapat ulama, tetapi juga manusia secara keseluruhan. Sepuluh, doktrin bahwa Kitab Suci bersifat seluruhnya supra-historis, karena ia adalah firman Tuhan. Karena Tuhan bersifat supra-sejarah, maka firmanNya pun bersifat supra sejarah pula. Karena itu, Kitab Suci juga supra sejarah. Kebenaran Kitab Suci tak terikat dengan ruang dan waktu. Pandangan ini lagi-lagi adalah pandangan yang “angkuh”. Akan lebih proporsional jika kita mengatakan bahwa ada hal-hal yang supra-sejarah dalam Kitab Suci, tetapi juga ada hal-hal lain yang cukup banyak yang terikat dengan sejarah.
Bagian Kitab Suci yang “lengket sejarah” ini bisa tidak relevan sama sekali jika keadaan berubah. Sebelas, doktrin bahwa Islam bisa menjawab semua masalah. Doktrin ini jelas hanya retorika belaka. Sebab pada kenyataannya tidak demikian. Solusi agama atau Islam, jika pun ada, juga tidak mesti sukses dan berhasil. Sebagaimana solusi-solusi sekuler, solusi Islam juga bisa gagal, seperti terbukti dalam banyak kasus. Saya masih memiliki daftar yang panjang. Tetapi, itulah hal-hal pokok yang ingin saya kemukakan di sini.
Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu. Mendaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika tawadlu’. Mendaku bahwa Islam menghapuskan agama sebelumnya sama sekali tak mencerminkan sikap tawadlu’.
[] diambil dari : http://islamlib.com/id/artikel/doktrin-doktrin-yang-kurang-perlu-dalam-islam
Gunakanlah Istilah God atau Allah, Bukan Istilah Tuhan
Leonardo Rimba II: Untuk teman-teman yg tertarik untuk memperlurus cara berpikir, ingatlah bahwa saya menulis tentang asal-usul. Asal-muasal. Kalau kita mengerti asal-usul, kita tidak akan rancu. Kita akan pegang arti asli. Kalau kemudian ada arti baru, yg tidak dilarang, kita akan tahu bahwa itu perkembangan kemudian, dan bukan asal muasal.
So, saya mengerti asal muasal kata Tuhan, yaitu kata Tuan, dan berarti Tuan. Pertama kali digunakan untuk Yesus ketika dilakukan penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu 300 tahun lalu.
Kalau kemudian kata Tuhan menjadi begitu populer di Indonesia, sehingga orang lupa asal-usulnya, dan mengira Tuhan berarti Allah, maka itulah yg namanya kerancuan.
Tulisan saya bermaksud meluruskan kerancuan, dan bukan menambah-nambahinya. Bukan bermaksud melarang, karena tidak ada yg larang kalau anda mau bilang Tuhan = Allah.
Saya cuma mau menunjukkan, bahwa aslinya kata baru Tuhan berarti Tuan. Sinonim dengan kata Gusti di bahasa Jawa. Dan sinonim dengan kata Lord di bahasa Inggris.
Sudah terlalu banyak salah kaprah di alam pemikiran manusia Indonesia. Segala macam disalah-kaprahkan.
Gunakanlah Istilah God atau Allah, Bukan Istilah Tuhan
by Leonardo Rimba on Wednesday, January 11, 2012 at 10:44pm
Sungguh menyebalkan menemukan hampir semua orang Indon mengira kata "God" di bahasa Inggris berarti "Tuhan" di bahasa Indonesia.
Mereka yg aslinya berbahasa Inggris cukup banyak pakai kata "God" dalam percakapan sehari-harinya. Artinya "Allah". Kalau yg mereka maksud "Tuhan", orang berbahasa Inggris akan pakai istilah "the Lord". The Lord itu Tuhan, sedangkan God itu Allah.
Naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memuat kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa". Dalam perkembangannya, kata Tuhan diganti dengan kata Allah, diganti begitu saja, tanpa pernah dibahas. Makanya sekarang kita dapati kata-kata "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa" di dalam Pembukaan UUD 45.
Mungkin ini alasan utama kenapa kata Tuhan dan Allah menjadi rancu di dalam bahasa Indonesia. Tuhan otomatis dianggap berarti Allah. Pedahal tidak. Tuhan = Tuan atau Gusti. Allah = God.
Allah = God = Allahuma = Elohim. Ini juga bukan nama, melainkan kata ganti. Di kitab tertua, yaitu taurat, tertulis: "Tuhan, Allahmu". Jadi, bahkan Allah itu pun merupakan kata generik. Masih ada nama personal yg bisa ditarik dari kata Allah.
Untuk nama personalnya, orang Yahudi cuma menyebut Adonai, artinya Tuan atau Gusti (atau Tuhan).
Tapi, bahkan itu pun masih kata ganti juga.
Semuanya berputar-putar, Allahuma (Elohim, Allah) merupakan kata ganti untuk menyebut Tuan, Gusti, atau Adonai.
Yg disebut Tuhan.
Masih kata ganti juga, nama personal yg paling personal cuma simbol JHVH di dalam agama Yahudi.
Simbol belaka.
Semuanya permainan kata saja. Artinya simbolik. Sama saja seperti slogan di mata uang dollar AS yg bunyinya "In God we trust". Artinya, "Dalam Allah kita yakin".
Lagu kebangsaan Inggris "God Save the Queen", artinya "Allah Menyelamatkan Sri Ratu".
Jangan terjemahkan God menjadi Tuhan. God itu Allah.
Dan Allah adalah konsep, tergantung bagaimana anda mengkonsepkannya. Dan itu boleh saja, suka-suka. Makanya Barack Obama bisa bilang semua orang "Children of God". Artinya "Anak-anak Allah". Itu bisa, tinggal bilang saja. Dari dahulu sampai sekarang seperti itu cara kerjanya. Manusia tinggal mengkonsepkan mau Allah yg seperti apa. Dan tentu saja tidak bisa diperdebatkan karena ini soal taste, selera. Setiap orang berhak mengkonsepkan sesuai dengan seleranya sendiri. Dan Allah tentu saja akan diam. Karena Allah itu sebuah kata. Kata yg digunakan. Artinya tergantung apa yg anda konsepkan. Apa yg anda pikirkan.
Saya sendiri lebih suka pakai kata God atau Allah. Jadi tidak rancu. Kalau yg kita maksud adalah konsep Allah, maka pakailah kata Allah. Negara-negara Barat yg sekuler itu juga pakai kata God atau Allah. Dipakai di lagu-lagu kebangsaan mereka. Dipakai di slogan-slogan kebangsaan mereka. Semuanya pakai hiasan God atau Allah. Dan itu tidak apa-apa.
Yg tidak boleh adalah memaksakan interpretasi dari kata God atau Allah itu. Kalau pakai saja, tidak apa-apa. Maksudnya apa tentu saja tergantung dari tiap-tiap orang.
Kalau kata God atau Allah dipakai dalam konteks kenegaraan, maka kita bisa beralasan tradisi atau azas kepantasan. Pantas kalau menyebut kata God atau Allah. Cuma untuk disebut saja, dan bukan untuk memaksakan interpretasi tentang God atau Allah apa yg dimaksud, apalagi memaksakan praktek keagamaan terhadap God atau Allah itu.
Interpretasi dan praktek keagamaan terhadap God atau Allah merupakan urusan masing-masing warganegara. Mau praktek agama boleh, mau tidak praktek agama juga boleh.
Makanya negara-negara Barat yg sekuler tenang-tenang saja, walaupun mereka pakai kata-kata God atau Allah. Walaupun, penggunaan kata ini sudah semakin terdesak. Didesak untuk dibuang total. Tapi, kita lihat sendiri, bahkan AS dan Inggris saja masih pakai kata God atau Allah.
Dipakai sebagai pemanis. And no more than that.
Mungkin naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memperoleh kesulitan ketika diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saya bisa bayangkan bagaimana bingungnya orang yg mau menerjemahkan kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa" ke dalam bahasa Inggris.
Kalau diterjemahkan secara harafiah, maka harusnya menjadi "With the blessing of the Lord Almighty".
The Lord Almighty tidak dikenal di bahasa Inggris. Yg ada cuma istilah God Almighty. Artinya Allah yg maha kuasa.
Makanya, terjemahannya akhirnya langsung pakai kata God. Dan naskah aslinya langsung diubah diam-diam menjadi "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa".
Allah yang maha kuasa = God Almighty.
-
Konsep Allah di kitab-kitab Yahudi dan Kristen otomatis menjadi kata God di dalam bahasa-bahasa Barat. Banyak variasinya, seperti:
German - Gott
French - Dieu
Croatian - Bog
Spanish -Dios
Swedish - Gud
Di bahasa Indonesia, God adalah Allah.
Kalau konsep "Tuhan" lain lagi. Artinya adalah Tuan. Bukan Allah. Di bahasa Inggris dikenal Lord Jesus.
Masuk ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.
Dan di bahasa Jawa menjadi Gusti Yesus.
Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.
-
Tetapi di Indonesia sudah kadung salah kaprah berkepanjangan, dikira Tuhan itu Allah. Pedahal beda. Beda pengertiannya. Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.
Makanya ada istilah Gusti Allah di bahasa Jawa. Di bahasa Indonesia, istilahnya Tuhan Allah. Tuhan disitu artinya Tuan.
Bahasa Inggrisnya Lord God.
Di dalam bahasa Inggris tidak dikenal Tuhan-tuhanan. Tidak gila Tuhan seperti orang Indonesia. Orang berbahasa Inggris menggunakan kata God. Artinya Allah.
Allah adalah Allah. Bahasa Inggrisnya God. Kenapa di Indonesia bisa jadi Tuhan, tentu saja salah kaprah. Orang Indon mengira God adalah Tuhan. Pedahal God itu Allah.
Asli.
Untuk mengerti ini semua, anda harus buang pengertian salah kaprah, dan mengerti bahwa Tuhan itu kata baru. Artinya Tuan. Waktu penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu. Harusnya digunakan istilah Tuan Yesus dan Tuan Allah.
Tetapi jadi Tuhan Yesus dan Tuhan Allah.
Di bahasa Jawa, menjadi Gusti Yesus dan Gusti Allah.
Artinya tetap sama, Tuhan itu Gusti, Tuan.
Itu pengertian dalam konteks aslinya.
Tetapi orang Indon mengira bahwa kata Tuan (yg diucapkan sebagai Tuhan oleh orang Kristen) berarti Allah.
Pedahal artinya tetap saja Tuan. Bahkan sampai sekarang. Ada Tuan Yesus. Ada Tuan Allah.
Bahasa Inggrisnya, Lord Jesus dan Lord God.
Kalau yg dimaksud adalah God, maka orang berbahasa Inggris akan langsung pakai kata itu God. Bahasa Indonesianya Alah, bukan Tuhan.
Tuhan itu Tuan, bahasa Inggrisnya Lord. Bahasa Jawanya Gusti.
Makanya akan terasa janggal kalau Pembukaan UUD 45 pakai kata Tuhan. Di dalam bahasa Inggris tidak bisa keterima itu. Reject.. reject.. (and that's possibly the reason kenapa naskah Pembukaan UUD 45 yg asli diam-diam diganti katanya, kata Tuhan diam-diam diganti dengan Allah).
God atau Allah memang pantas ditulis di dalam pembukaan UUD 45. Tetapi Tuhan (yg berarti Tuan, Gusti, atau Lord), tidak pantas. Tidak memenuhi azas kepatutan berbahasa.
Ada kemungkinan awal kerancuan ini bermula ketika naskah Pembukaan UUD 45 yg asli (yg mengandung kata Tuhan) diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tentu saja, berdasarkan azas kepatutan berbahasa, kata Tuhan itu otomatis akan diterjemahkan menjadi God.
Akhirnya orang Indon mengira Tuhan di bahasa Indonesia artinya God di bahasa Inggris.
Pedahal tidak begitu. God di bahasa Inggris adalah Allah di bahasa Indonesia. Dan Tuhan di dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa Inggris adalah Lord. Artinya Tuan, Gusti, Master. Tidak pantas masuk Pembukaan UUD 45.
Saya pernah baca pertanyaan: "Kenapa orang Kristen menuhankan Yesus?" Nah, ini juga pertanyaan yg salah kaprah. Kenapa? Karena dari semula Yesus memang disebut Lord. Lord Jesus. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.
Artinya Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus. Itu panggilannya.
Sama saja seperti kita panggil nama bangsawan Inggris. Ada yg namanya Lord Churchill, Lord Mountbatten, Lord Voldermort, dll.
Jadi, pertanyaannya yg pas: "Kenapa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus?".
Dan bukti memperlihatkan, orang Kristen tidak pernah menyebut Allah Yesus. God Jesus itu tidak ada.
Yg ada cuma istilah Lord Jesus. Artinya Tuan Yesus. Walaupun pengucapannya pakai huruf h, menjadi Tuhan, pengertiannya tetap, yaitu Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus.
Dari dahulu sampai sekarang begitu prakteknya, dan pengertiannya.
Yesus adalah Tuan, Lord, Gusti.
Allah lain lagi. Allah adalah God.
Makanya, untuk mengurangi kerancuan, saya himbau agar gunakan saja kata Allah. Kalau yg anda maksud God (di bahasa Inggris), gunakan saja kata Allah.
Kata God atau Allah tidak harus disikapi dengan sinis, karena ini kata umum, digunakan oleh ribuan sekte keagamaan di seluruh dunia. Pengertiannya tergantung dari masing-masing sekte. Sekarang, malahan, pengertiannya tergantung dari masing-masing orang. Kita pakai kata God atau Allah. Lalu kita jelaskan apa yg kita maksud dengan God atau Allah itu.
-
Yg berikut sudah sedikit keluar konteks, tetapi mungkin perlu saya tuliskan juga, yaitu asal-usul kata Allah di bahasa Arab. Saya tidak percaya ini asalnya dari nama Dewa Bulan. Impossible. Allah di bahasa Arab asalnya dari istilah Allahuma, yaitu peng-arab-an dari istilah Yahudi, yaitu kata Elohim.
Elohim menjadi Allahuma di bahasa Arab. Nah, Elohim inilah yg diterjemahkan menjadi God di alkitab berbahasa Inggris, dan menjadi Allah di alkitab berbahasa Indonesia.
Kenapa? Karena orang Kristen Arab sudah pakai kata Allah sejak 2,000 tahun lalu. Sampai sekarang. Kristen sudah berusia 2,000 tahun, sudah pakai kata Allah sejak dahulu.
Balik lagi ke kata Adonai di bahasa Yahudi (Ibrani), yg diterjemahkan menjadi Lord di bahasa Inggris, dan menjadi Tuhan di bahasa Indonesia. Pengertiannya, Tuan.
Adonai Elohim (Ibrani)
Lord God (Inggris)
Tuhan Allah (Indonesia)
Gusti Allah (Jawa)
Bisa dilihat disitu, bahwa Tuhan itu Lord, Gusti.
Elohim itu God, Allah.
Beda jauh.. beda jauh..
-
That's all, my friends. Ini permainan kata. Anda terjebak dalam salah kaprah berkepanjangan. Anda masuk dalam alam pikiran Yahudi dan Kristen, tapi anda tidak bisa mengerti essensinya. Lord atau Tuan, atau Junjungan, atau Master, adalah konsep Judeo-Christian (Yahudi-Kristen). Dituliskan di bahasa Indonesia sebagai Tuhan. Artinya Tuan. Tetap seperti itu.
Kalau yg dimaksud Allah, orang Kristen Indonesia langsung menyebut Allah saja. Orang berbahasa Inggris langsung menyebut God saja.
Tidak pakai kata Lord atau Tuhan. Kalau pakai kata Lord atau Tuhan (yg artinya Tuan), orang akan bisa bertanya lagi, siapa yg dimaksud? Apakah Yesus atau Allah?
Keduanya bisa disebut dengan awalan Lord. Lord Jesus atau Lord God. Awalan Lord dituliskan dan diucapkan sebagai Tuhan di bahasa Indonesia. Maksudnya Tuan.
Begitu konsepnya, pengertiannya.
Perlu waktu 30 tahun bagi saya untuk mengerti ini. Tidak ada yg kasih tahu. Semua orang sudah rancu. Saya harus belajar sendiri. Dari nol, satu demi satu. Itulah hasilnya. Clean. Sharp. To the point. Tidak mencla-mencle. Tidak main Tuhan-tuhanan.
Kalau anda sudah bisa mengerti satu yg basic itu, maka akan sangat mudah bagi anda untuk mengikuti aliran pemikiran Kristen, dan juga Islam. Semuanya ternyata bermula dari kata Lord itu.
Lord memang berarti Tuan, Gusti, Master. Tetapi mau kemana ini dibawa tentu saja tergantung dari kepentingan politik anda. Anda mau uang dan kekuasaan? Pelintirlah ini konsep, dan paksakan orang lain untuk menerimanya.
Dan jadilah agama, dengan bermacam-macam sektenya. Yg memang bisa hidup, sampai saat ini.
Tapi saya rasa kita tidak bermain agama. Kita mau tahu pengertian yg asli. Dan sudah saya tuliskan. Pengertian asli dari kata Lord adalah Tuan, Gusti. Diucapkan Tuhan di bahasa Indonesia, tetapi artinya tetap, yaitu Tuan.
Bukan Allah.
Kalau Allah, bahasa Inggrisnya God, konsepnya lain lagi. Pengertiannya beda.
Mereka yg tidak berlatar-belakang Samawi juga bisa pakai konsep Allah kok. Tidak dilarang. Mahatma Gandhi saja bicara dan menulis tentang God. Osho juga. Dalai Lama juga. God atau Allah itu istilah umum. Bisa digunakan siapa saja. Pengertiannya beda-beda, tergantung penggunanya. Yg sama cuma istilah yg digunakan, yaitu istilah God atau Allah.
Gunakanlah istilah God atau Allah, bukan istilah Tuhan.
So, saya mengerti asal muasal kata Tuhan, yaitu kata Tuan, dan berarti Tuan. Pertama kali digunakan untuk Yesus ketika dilakukan penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu 300 tahun lalu.
Kalau kemudian kata Tuhan menjadi begitu populer di Indonesia, sehingga orang lupa asal-usulnya, dan mengira Tuhan berarti Allah, maka itulah yg namanya kerancuan.
Tulisan saya bermaksud meluruskan kerancuan, dan bukan menambah-nambahinya. Bukan bermaksud melarang, karena tidak ada yg larang kalau anda mau bilang Tuhan = Allah.
Saya cuma mau menunjukkan, bahwa aslinya kata baru Tuhan berarti Tuan. Sinonim dengan kata Gusti di bahasa Jawa. Dan sinonim dengan kata Lord di bahasa Inggris.
Sudah terlalu banyak salah kaprah di alam pemikiran manusia Indonesia. Segala macam disalah-kaprahkan.
Gunakanlah Istilah God atau Allah, Bukan Istilah Tuhan
by Leonardo Rimba on Wednesday, January 11, 2012 at 10:44pm
Sungguh menyebalkan menemukan hampir semua orang Indon mengira kata "God" di bahasa Inggris berarti "Tuhan" di bahasa Indonesia.
Mereka yg aslinya berbahasa Inggris cukup banyak pakai kata "God" dalam percakapan sehari-harinya. Artinya "Allah". Kalau yg mereka maksud "Tuhan", orang berbahasa Inggris akan pakai istilah "the Lord". The Lord itu Tuhan, sedangkan God itu Allah.
Naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memuat kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa". Dalam perkembangannya, kata Tuhan diganti dengan kata Allah, diganti begitu saja, tanpa pernah dibahas. Makanya sekarang kita dapati kata-kata "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa" di dalam Pembukaan UUD 45.
Mungkin ini alasan utama kenapa kata Tuhan dan Allah menjadi rancu di dalam bahasa Indonesia. Tuhan otomatis dianggap berarti Allah. Pedahal tidak. Tuhan = Tuan atau Gusti. Allah = God.
Allah = God = Allahuma = Elohim. Ini juga bukan nama, melainkan kata ganti. Di kitab tertua, yaitu taurat, tertulis: "Tuhan, Allahmu". Jadi, bahkan Allah itu pun merupakan kata generik. Masih ada nama personal yg bisa ditarik dari kata Allah.
Untuk nama personalnya, orang Yahudi cuma menyebut Adonai, artinya Tuan atau Gusti (atau Tuhan).
Tapi, bahkan itu pun masih kata ganti juga.
Semuanya berputar-putar, Allahuma (Elohim, Allah) merupakan kata ganti untuk menyebut Tuan, Gusti, atau Adonai.
Yg disebut Tuhan.
Masih kata ganti juga, nama personal yg paling personal cuma simbol JHVH di dalam agama Yahudi.
Simbol belaka.
Semuanya permainan kata saja. Artinya simbolik. Sama saja seperti slogan di mata uang dollar AS yg bunyinya "In God we trust". Artinya, "Dalam Allah kita yakin".
Lagu kebangsaan Inggris "God Save the Queen", artinya "Allah Menyelamatkan Sri Ratu".
Jangan terjemahkan God menjadi Tuhan. God itu Allah.
Dan Allah adalah konsep, tergantung bagaimana anda mengkonsepkannya. Dan itu boleh saja, suka-suka. Makanya Barack Obama bisa bilang semua orang "Children of God". Artinya "Anak-anak Allah". Itu bisa, tinggal bilang saja. Dari dahulu sampai sekarang seperti itu cara kerjanya. Manusia tinggal mengkonsepkan mau Allah yg seperti apa. Dan tentu saja tidak bisa diperdebatkan karena ini soal taste, selera. Setiap orang berhak mengkonsepkan sesuai dengan seleranya sendiri. Dan Allah tentu saja akan diam. Karena Allah itu sebuah kata. Kata yg digunakan. Artinya tergantung apa yg anda konsepkan. Apa yg anda pikirkan.
Saya sendiri lebih suka pakai kata God atau Allah. Jadi tidak rancu. Kalau yg kita maksud adalah konsep Allah, maka pakailah kata Allah. Negara-negara Barat yg sekuler itu juga pakai kata God atau Allah. Dipakai di lagu-lagu kebangsaan mereka. Dipakai di slogan-slogan kebangsaan mereka. Semuanya pakai hiasan God atau Allah. Dan itu tidak apa-apa.
Yg tidak boleh adalah memaksakan interpretasi dari kata God atau Allah itu. Kalau pakai saja, tidak apa-apa. Maksudnya apa tentu saja tergantung dari tiap-tiap orang.
Kalau kata God atau Allah dipakai dalam konteks kenegaraan, maka kita bisa beralasan tradisi atau azas kepantasan. Pantas kalau menyebut kata God atau Allah. Cuma untuk disebut saja, dan bukan untuk memaksakan interpretasi tentang God atau Allah apa yg dimaksud, apalagi memaksakan praktek keagamaan terhadap God atau Allah itu.
Interpretasi dan praktek keagamaan terhadap God atau Allah merupakan urusan masing-masing warganegara. Mau praktek agama boleh, mau tidak praktek agama juga boleh.
Makanya negara-negara Barat yg sekuler tenang-tenang saja, walaupun mereka pakai kata-kata God atau Allah. Walaupun, penggunaan kata ini sudah semakin terdesak. Didesak untuk dibuang total. Tapi, kita lihat sendiri, bahkan AS dan Inggris saja masih pakai kata God atau Allah.
Dipakai sebagai pemanis. And no more than that.
Mungkin naskah Pembukaan UUD 45 yg asli memperoleh kesulitan ketika diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saya bisa bayangkan bagaimana bingungnya orang yg mau menerjemahkan kata-kata "Atas berkat rahmat Tuhan yang maha kuasa" ke dalam bahasa Inggris.
Kalau diterjemahkan secara harafiah, maka harusnya menjadi "With the blessing of the Lord Almighty".
The Lord Almighty tidak dikenal di bahasa Inggris. Yg ada cuma istilah God Almighty. Artinya Allah yg maha kuasa.
Makanya, terjemahannya akhirnya langsung pakai kata God. Dan naskah aslinya langsung diubah diam-diam menjadi "Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa".
Allah yang maha kuasa = God Almighty.
-
Konsep Allah di kitab-kitab Yahudi dan Kristen otomatis menjadi kata God di dalam bahasa-bahasa Barat. Banyak variasinya, seperti:
German - Gott
French - Dieu
Croatian - Bog
Spanish -Dios
Swedish - Gud
Di bahasa Indonesia, God adalah Allah.
Kalau konsep "Tuhan" lain lagi. Artinya adalah Tuan. Bukan Allah. Di bahasa Inggris dikenal Lord Jesus.
Masuk ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.
Dan di bahasa Jawa menjadi Gusti Yesus.
Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.
-
Tetapi di Indonesia sudah kadung salah kaprah berkepanjangan, dikira Tuhan itu Allah. Pedahal beda. Beda pengertiannya. Tuhan artinya Tuan, Master, Gusti.
Makanya ada istilah Gusti Allah di bahasa Jawa. Di bahasa Indonesia, istilahnya Tuhan Allah. Tuhan disitu artinya Tuan.
Bahasa Inggrisnya Lord God.
Di dalam bahasa Inggris tidak dikenal Tuhan-tuhanan. Tidak gila Tuhan seperti orang Indonesia. Orang berbahasa Inggris menggunakan kata God. Artinya Allah.
Allah adalah Allah. Bahasa Inggrisnya God. Kenapa di Indonesia bisa jadi Tuhan, tentu saja salah kaprah. Orang Indon mengira God adalah Tuhan. Pedahal God itu Allah.
Asli.
Untuk mengerti ini semua, anda harus buang pengertian salah kaprah, dan mengerti bahwa Tuhan itu kata baru. Artinya Tuan. Waktu penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu. Harusnya digunakan istilah Tuan Yesus dan Tuan Allah.
Tetapi jadi Tuhan Yesus dan Tuhan Allah.
Di bahasa Jawa, menjadi Gusti Yesus dan Gusti Allah.
Artinya tetap sama, Tuhan itu Gusti, Tuan.
Itu pengertian dalam konteks aslinya.
Tetapi orang Indon mengira bahwa kata Tuan (yg diucapkan sebagai Tuhan oleh orang Kristen) berarti Allah.
Pedahal artinya tetap saja Tuan. Bahkan sampai sekarang. Ada Tuan Yesus. Ada Tuan Allah.
Bahasa Inggrisnya, Lord Jesus dan Lord God.
Kalau yg dimaksud adalah God, maka orang berbahasa Inggris akan langsung pakai kata itu God. Bahasa Indonesianya Alah, bukan Tuhan.
Tuhan itu Tuan, bahasa Inggrisnya Lord. Bahasa Jawanya Gusti.
Makanya akan terasa janggal kalau Pembukaan UUD 45 pakai kata Tuhan. Di dalam bahasa Inggris tidak bisa keterima itu. Reject.. reject.. (and that's possibly the reason kenapa naskah Pembukaan UUD 45 yg asli diam-diam diganti katanya, kata Tuhan diam-diam diganti dengan Allah).
God atau Allah memang pantas ditulis di dalam pembukaan UUD 45. Tetapi Tuhan (yg berarti Tuan, Gusti, atau Lord), tidak pantas. Tidak memenuhi azas kepatutan berbahasa.
Ada kemungkinan awal kerancuan ini bermula ketika naskah Pembukaan UUD 45 yg asli (yg mengandung kata Tuhan) diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tentu saja, berdasarkan azas kepatutan berbahasa, kata Tuhan itu otomatis akan diterjemahkan menjadi God.
Akhirnya orang Indon mengira Tuhan di bahasa Indonesia artinya God di bahasa Inggris.
Pedahal tidak begitu. God di bahasa Inggris adalah Allah di bahasa Indonesia. Dan Tuhan di dalam bahasa Indonesia, di dalam bahasa Inggris adalah Lord. Artinya Tuan, Gusti, Master. Tidak pantas masuk Pembukaan UUD 45.
Saya pernah baca pertanyaan: "Kenapa orang Kristen menuhankan Yesus?" Nah, ini juga pertanyaan yg salah kaprah. Kenapa? Karena dari semula Yesus memang disebut Lord. Lord Jesus. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Tuhan Yesus.
Artinya Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus. Itu panggilannya.
Sama saja seperti kita panggil nama bangsawan Inggris. Ada yg namanya Lord Churchill, Lord Mountbatten, Lord Voldermort, dll.
Jadi, pertanyaannya yg pas: "Kenapa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus?".
Dan bukti memperlihatkan, orang Kristen tidak pernah menyebut Allah Yesus. God Jesus itu tidak ada.
Yg ada cuma istilah Lord Jesus. Artinya Tuan Yesus. Walaupun pengucapannya pakai huruf h, menjadi Tuhan, pengertiannya tetap, yaitu Tuan Yesus. Gusti Yesus. Master Yesus.
Dari dahulu sampai sekarang begitu prakteknya, dan pengertiannya.
Yesus adalah Tuan, Lord, Gusti.
Allah lain lagi. Allah adalah God.
Makanya, untuk mengurangi kerancuan, saya himbau agar gunakan saja kata Allah. Kalau yg anda maksud God (di bahasa Inggris), gunakan saja kata Allah.
Kata God atau Allah tidak harus disikapi dengan sinis, karena ini kata umum, digunakan oleh ribuan sekte keagamaan di seluruh dunia. Pengertiannya tergantung dari masing-masing sekte. Sekarang, malahan, pengertiannya tergantung dari masing-masing orang. Kita pakai kata God atau Allah. Lalu kita jelaskan apa yg kita maksud dengan God atau Allah itu.
-
Yg berikut sudah sedikit keluar konteks, tetapi mungkin perlu saya tuliskan juga, yaitu asal-usul kata Allah di bahasa Arab. Saya tidak percaya ini asalnya dari nama Dewa Bulan. Impossible. Allah di bahasa Arab asalnya dari istilah Allahuma, yaitu peng-arab-an dari istilah Yahudi, yaitu kata Elohim.
Elohim menjadi Allahuma di bahasa Arab. Nah, Elohim inilah yg diterjemahkan menjadi God di alkitab berbahasa Inggris, dan menjadi Allah di alkitab berbahasa Indonesia.
Kenapa? Karena orang Kristen Arab sudah pakai kata Allah sejak 2,000 tahun lalu. Sampai sekarang. Kristen sudah berusia 2,000 tahun, sudah pakai kata Allah sejak dahulu.
Balik lagi ke kata Adonai di bahasa Yahudi (Ibrani), yg diterjemahkan menjadi Lord di bahasa Inggris, dan menjadi Tuhan di bahasa Indonesia. Pengertiannya, Tuan.
Adonai Elohim (Ibrani)
Lord God (Inggris)
Tuhan Allah (Indonesia)
Gusti Allah (Jawa)
Bisa dilihat disitu, bahwa Tuhan itu Lord, Gusti.
Elohim itu God, Allah.
Beda jauh.. beda jauh..
-
That's all, my friends. Ini permainan kata. Anda terjebak dalam salah kaprah berkepanjangan. Anda masuk dalam alam pikiran Yahudi dan Kristen, tapi anda tidak bisa mengerti essensinya. Lord atau Tuan, atau Junjungan, atau Master, adalah konsep Judeo-Christian (Yahudi-Kristen). Dituliskan di bahasa Indonesia sebagai Tuhan. Artinya Tuan. Tetap seperti itu.
Kalau yg dimaksud Allah, orang Kristen Indonesia langsung menyebut Allah saja. Orang berbahasa Inggris langsung menyebut God saja.
Tidak pakai kata Lord atau Tuhan. Kalau pakai kata Lord atau Tuhan (yg artinya Tuan), orang akan bisa bertanya lagi, siapa yg dimaksud? Apakah Yesus atau Allah?
Keduanya bisa disebut dengan awalan Lord. Lord Jesus atau Lord God. Awalan Lord dituliskan dan diucapkan sebagai Tuhan di bahasa Indonesia. Maksudnya Tuan.
Begitu konsepnya, pengertiannya.
Perlu waktu 30 tahun bagi saya untuk mengerti ini. Tidak ada yg kasih tahu. Semua orang sudah rancu. Saya harus belajar sendiri. Dari nol, satu demi satu. Itulah hasilnya. Clean. Sharp. To the point. Tidak mencla-mencle. Tidak main Tuhan-tuhanan.
Kalau anda sudah bisa mengerti satu yg basic itu, maka akan sangat mudah bagi anda untuk mengikuti aliran pemikiran Kristen, dan juga Islam. Semuanya ternyata bermula dari kata Lord itu.
Lord memang berarti Tuan, Gusti, Master. Tetapi mau kemana ini dibawa tentu saja tergantung dari kepentingan politik anda. Anda mau uang dan kekuasaan? Pelintirlah ini konsep, dan paksakan orang lain untuk menerimanya.
Dan jadilah agama, dengan bermacam-macam sektenya. Yg memang bisa hidup, sampai saat ini.
Tapi saya rasa kita tidak bermain agama. Kita mau tahu pengertian yg asli. Dan sudah saya tuliskan. Pengertian asli dari kata Lord adalah Tuan, Gusti. Diucapkan Tuhan di bahasa Indonesia, tetapi artinya tetap, yaitu Tuan.
Bukan Allah.
Kalau Allah, bahasa Inggrisnya God, konsepnya lain lagi. Pengertiannya beda.
Mereka yg tidak berlatar-belakang Samawi juga bisa pakai konsep Allah kok. Tidak dilarang. Mahatma Gandhi saja bicara dan menulis tentang God. Osho juga. Dalai Lama juga. God atau Allah itu istilah umum. Bisa digunakan siapa saja. Pengertiannya beda-beda, tergantung penggunanya. Yg sama cuma istilah yg digunakan, yaitu istilah God atau Allah.
Gunakanlah istilah God atau Allah, bukan istilah Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)