Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

15 Des 2011

Budaya Asli Indonesia Itu Apa?

by Leonardo Rimba II on Wednesday, December 14, 2011 at 11:15am

Budaya asli Indonesia itu apa? Tidak ada. Yg namanya budaya Indonesia adalah import. Semuanya import.



So, teman-teman yg gila budaya asli dan otaknya tidak dipakai, silahkan menyingkir dari sini. Saya bukan orang bodoh yg bisa diteror oleh orang yg jualan budaya. Aslinya orang Indonesia telanjang. Yg memberikan pakaian kepada nenek-moyang kita adalah orang luar. Cina pengaruhnya besar sekali di kepulauan ini. Kebaya Indonesia merupakan adaptasi dari busana perempuan Cina. Pakaian adat pria Indonesia juga kebanyakan adaptasi dari busana pria Cina. Semuanya import.



So, jangan harap orang-orang yg mau jualan budaya bisa memamerkan kebodohannya disini. Aslinya kita ini berbudaya rendah. Pelecehan perempuan, penipuan diri sendiri, dsb. Itu fakta, tidak perlu anda merasa diri tinggi. Saya ini multikultural, tetapi kalau ada yg mencoba-coba menteror saya dengan membanggakan agama atau budayanya, saya akan bisa tunjukkan kedegilannya.



Kalau anda mau membanggakan yg asli, saya bilang yg asli itu penis dan vagina. Bahkan penis saya tidak asli, saya campuran segala macam orang. Penis anda mungkin asli, dan saya tidak perduli itu. Itu urusan anda. Tidak perlu dibanggakan disini.



Orang yg mau membanggakan budaya sama najisnya dengan orang yg jualan agama. Kita plural, multikultural, tidak perlu membanggakan keaslian.



Pluralis atau multikulturalis tidak lagi bicara asli atau tidak asli. Kalau anda manusia Indonesia, apapun latar belakang anda diterima. Kalau anda masih bilang ada asli dan tidak asli, artinya anda manusia cupat. Anda tidak pluralis. Anda norak, kampungan.



Apabila anda membanggakan yg asli artinya anda rasis. Kalau anda mau jadi orang asli, silahkan buka semua baju dan celana. Yg anda pakai itu semuanya tidak asli, semuanya import dari luar.



Untuk teman-teman semua, mungkin perlu juga saya berbagi bahwa saya sudah terlalu muak dengan orang yg jualan budaya seolah-olah kita punya budaya tertinggi di satu dunia. Itu salah besar. Akan lebih masuk akal kalau dibilang kita punya budaya termasuk terendah di satu dunia. Budaya tekan-menekan manusia, dan tipu-menipu diri sendiri adalah budaya rendah. Membanggakan diri sendiri sebagai berbudaya tinggi juga termasuk perilaku budaya rendah. Itu semuanya nampak jelas di mereka yg membanggakan budaya. Sadarlah.. sadarlah..



Mereka yg membanggakan agama dan budaya sama dangkalnya. Otaknya tidak jalan.



Orang yg membanggakan Islam sama memuakkannya dengan yg membanggakan budaya Jawa. Tapi, kalau ditanya tentang peradaban apa yg lebih tinggi nilai kemanusiaannya, saya akan jawab Islam. Islam itu budaya tingkat atas. Jawa budaya tingkat rendah. Buktinya banyak, dan anda harus mempelajarinya dengan teliti, tidak cukup dengan hanya bermain-main dengan slogan. Saat ini kebudayaan Islam memang terpuruk, tetapi dulu sudah pernah mencapai puncaknya. Jawa sekarang terpuruk. Dulu juga. Jawa tidak pernah punya puncak. Dari dahulu sampai sekarang terpuruk terus.



Saya tidak merendahkan budaya-budaya etnik Indonesia. Saya cuma mau menunjukkan bahwa bahkan orang Belanda sendiri bilang orang Jawa itu mental budak. Elemen penipuan dirinya besar sekali. Sampai sekarang etnik Indonesia yg suka menipu diri adalah etnik Jawa. Etnik lainnya tidak seperti itu. Menurut orang Belanda (dan ini patut dipercayai karena obyektif), orang Minang itu cerdas, makanya Belanda banyak sekali bangun sekolah di sana. Orang Ambon setia. Orang Menado suka foya-foya. Orang Bali berani. Yg paling parah orang Jawa, suka menekan orang. Dengan kata lain, hobby menciptakan budak. Mental budak.



So, let's get rid of it all. Kita manusia biasa saja, tidak perlu membangakan budaya asli. Aslinya kita ini budak. Sekarang sudah tidak asli lagi. Sudah bukan budak.



Sukarno tidak asli Jawa, bisa dilihat dari namanya. Asalnya dari nama Adipati Karna. Karna itu saudara sepupu Pandawa. Asalnya dari kisah Mahabharata. Kalau anda asli Jawa, nama anda adalah Paijo, Inem, dlsb. Pengaruh terbesar di Sukarno mungkin datang dari ayahnya yg seorang penganut Teosophi. Teosophi itu aliran spiritual Barat. Ibunya orang Bali yg tentu saja terpengaruh ajaran Hindu-Biuddha yg asalnya dari India. Sukarno sendiri suka membaca spiritualis Barat, seperti Ralph Waldo Emerson, seorang transcendentalist dari AS.



So, anda bisa mengecam perilaku anarkis mereka yg beragama tertentu, tetapi tidak pantas anda mengusir-ngusir mereka dengan alasan menganut agama import. Untuk anda yg belum tahu, saya tidak menganut spiritualitas Jawa yg gila kata "asli", dan bahkan sesumbar Borobudur adalah bukti keluhuran budaya Jawa yg asli, which is pendapat yg very goblok.



Borobudur itu pengaruh India, tidak asli.



Saya lihat, mereka yg jualan kata "asli" sudah keterlaluan. Semuanya diaku-aku asli, pedahal boleh bilang tidak ada lagi yg asli di Indonesia. Semuanya import. Bahkan gen yg mengalir di tubuh orang Indon juga import. Mungkin lebih dari separuh penduduk Indonesia adalah keturunan campuran; dengan Cina, Arab, India dan Eropa. Kalau masih asli gen-nya, maka kemungkinan besar sama sekali tidak bisa berpikir. Terlalu tolol. Tanpa ada campuran dari luar, negeri ini stuck, mandeg. Semakin lama semakin gila asli, tapi tidak ada kemajuan.



Bahkan orang-orang Tengger dan Baduy tidak asli. Mereka sudah pakai konsep Hindu-Buddha dan Islam juga, walaupun sedikit. Setahu saya bahkan orang Baduy mengenal yg namanya "Adam". Mereka bukan asli melainkan terbelakang, tidak mau mengikuti perkembangan jaman. Saya kadang-kadang lihat orang Baduy jalan beriring-iringan di pinggir jalan raya dekat rumah saya yg memang masuk propinsi Banten, walaupun di perbatasan Jakarta. Orang Baduy perawakannya kecil, ramping dan kurus. Jalannya cepat tanpa menggunakan kendaraan dan alas kaki. Jadi, lalu lintas bisa padat, banyak kendaraan umum, tetapi orang Baduy cuek aja, mereka selalu jalan kaki. Sudah pakai baju juga, tetapi tidak pakai celana. Mereka pakai kain sebatas paha, yg terlihat seperti rok mini.



Yg mungkin asli dibawa dari daratan Asia oleh nenek-moyang kita adalah rumah-rumah adat Batak dan Toraja. Bentuknya masih asli. Kalau rumah-rumah adat lainnya sudah dapat campuran pengaruh India dan Cina. Taman Sari yg merupakan bagian dari Keraton Yogya bahkan dibangun dengan arsitek orang Portugis. Keratonnya sendiri mungkin dibangun dengan arsitek Cina.



Agama-agama etnik Indonesia juga tidak semuanya asli. Agama Batak, misalnya, jelas sudah kena pengaruh India. Agama Jawa juga. Tanpa ada pengaruh India, konsepnya miskin sekali. Terlalu primitif bahkan untuk dibahas.



Untuk anda yg belum tahu, bahkan bentuk negara RI ini adalah import. Sistem pemerintahan kita import. Sistem hukum kita import. Sistem berpikir kita import. Saya berpikir seperti orang Barat, dan itu import. Kalau saya berpikir dengan cara asli, saya akan setolol orang yg mengagung-agungkan leluhur yg konon asli. Leluhur yg asli tentu saja ada, tetapi itu manusia yg hidup di atas pohon. Tidak bisa berpikir; bisanya cuma berteriak suwung.. suwung.. dan usir agama import.

9 Nov 2011

wanita bali jaman dahulu


Maheso Wongateleng:

wanita bali itu hebat yaa..? yg hebat lagi kok ngga ada kasus perkosaan di era ini ? bravo



Like · · Unfollow Post · 10 hours ago





Rudi Cool, De Kafirun King and 26 others like this.



Sukma Prameswari: wanita indonesia jaman dulu memang telanjang dada tidak yang perempuan ataupun laki laki jadi gak ada yang aneh deh kayanya :(

10 hours ago · Unlike · 3



Sugeng Widodo: satu sisi keindahan makhluk ciptaan ......

10 hours ago · Like



Maheso Wongateleng: yg aku heran sekarang ini, pakai rok mini saja pd teriak2 ndak karuan..

10 hours ago · Like · 1



Sugeng Widodo: bila terlihat keindahan, maka orang akan 'diam' dan kagum dlm menikmatinya keindahannya, bila teriak2 ndak karuan maka itu menunjukkan sesuatu yg 'jorok' adanya.....

10 hours ago · Unlike · 3



Doni Triono Wisanggeni: ‎"he he..

9 hours ago · Like



Soner Man: aku jd inget lagu lama, Ooo..Bali vaniiili.! ato kmbalikan Baliku. penyanyinya sapa ya.? Q lupa.

9 hours ago via mobile · Like · 1



Maheso Wongateleng: lha kalu sekarang kira2 wanita spti ft diatas, apakah pd diam menikmati keindahan ya..^^

9 hours ago · Like · 2



Sugeng Widodo: lha dari pada mentheleng lihat foto ya lebih baik lihat aslinya tho kang, hehehe ........

9 hours ago · Like · 2



Maheso Wongateleng: lha iya lihat aslinya kan lebih ciamik, masalahnya apakah pd diam menikmati keindahan ato bagaimana.. he hehe

9 hours ago · Like · 1



Sugeng Widodo: kembali pada diri masing2, indah dan jorok itu bukan pada objeknya tapi ada dlm 'otak' masing2 hehehe....

9 hours ago · Like · 3



Maheso Wongateleng: wah .. kalu soal itu paling banyak otaknya pd ngeres wakakakaka .., dijamin dah.. :D

9 hours ago · Like · 1



Woro Widya Nastiti: coba jaman dahulu lihat,d era thn 70 an hampir wanita yg tdk berkebaya , mengenakan rok Pendek dan mini.tp g masalah

9 hours ago via mobile · Like · 1



Maheso Wongateleng: ‎Woro Widya Nastiti makanya kalu sekarang ternyata banyak bermasalah .. he he he #bingung.com#

9 hours ago · Like



Sugeng Widodo: yg banyak bermasalah itu otaknya orang sekarang.....

9 hours ago · Unlike · 3



Adang Mamang: sekitar thn 70an awal, didesa desa di Bali,wanita2nya masih bertelanjang dada, saya tahu itu.

8 hours ago · Unlike · 1





Woro Widya Nastiti: Sekarang kan jaman berbeda dgn dlu, harusnya memang wanita jg berbusana lbh sopan dan bersahaja ,sehubungan jaman sekarang perilaku org2 bnyk yg berfikiran tdk baik.
Selamat pagi Semua,salam sejahtera sll

8 hours ago via mobile · Unlike · 3





F Angel Sutanto: ya sy pernah melihat juga d tv, ada suatu desa yg wanita nya telajang dada.. itu nenek2 PD saja..di bali lokasinya
wahh bisa kena UU APP tuh, tapi ya itu bagian dari budaya. masa dibilang porno?

8 hours ago · Like



F Angel Sutanto: itu nenek cuek saja biarpun masuk tv, ada yg transformasi pake kebaya transparan.. BH kemana2, tp mereka keren dan menurut sy malah tidak ada kesan porno.. OK saja



kalo perbedaan persepsi kenapa dulu telanjang jadi hal wajar dan tidak ada perkosaan ya mungkin karena perkembangan pola pikir jaman sekarang. arusnya sudah lain, jaman dulu orang2 rajin menempa diri dengan meditasi dll.. jaman sekarang? di kira gak gaul tahayul dll..

jaman dulu sex itu tabu

sekarang?
sex adalah hal yg wajar bahkan jika dilakukan dengan yg bukan pasangan nya..



dulu orgtua dl bilang, kl mau kemana2 aman gak ada copet..

sekarang?
wah dimana2 copet



seiring berjalan waktu mungkin banyak juga nilai2 yg sudah bergeser..

yg tadinya tertutup jadi terbuka..
tergantung bagaimana kita menanggapi nya dan memilah dari suatu kejadian yg ada

8 hours ago · Like · 2



Woro Widya Nastiti: maka dgn budaya dan menjaga nilai nilai budaya yg d wariskan leluhur adalah jalan yg baik untk menghindari hal2 yg tdk d inginkan.

8 hours ago via mobile · Like



Maheso Wongateleng: luhuring budaya ngankat drajating bangsa .. ya ya ya

8 hours ago · Like · 1



Woro Widya Nastiti: saestu! Sugeng enjang sedoyonipun , sugeng makaryo

8 hours ago via mobile · Like



Sugeng Widodo: saya sugeng widodo...., bukan sugeng enjang atau sugeng makaryo ... hehehe.....

8 hours ago · Like · 1



Woro Widya Nastiti: oh .. Injih, nuwn sewu sange njih ...nyuwn pangapunten mas hehehe

8 hours ago via mobile · Like



Hartoyo Yudowijoyo: sugeng itu untuk para wanita.......pria mah sulit aja.......

7 hours ago · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: kainnya terlihat lusuh.

7 hours ago · Like · 1



Leonardo Rimba: Oh (waktu itu setrika listrik belum masuk Bali)

6 hours ago · Like



Marcus Elia Widodo: di sini banyak sekolah yang seluruh murid ceweknya gak pake bra.. dan baik-baik saja.... . mau tahu? tuh.... lihat di beberapa taman kanak-kanak.. (TK).. wkkkkkkkkkkkkkkkkkk

6 hours ago · Like · 1



Maheso Wongateleng: Marcus tapi pakai rok ma baju kan.. wakakakakakaka

2 hours ago · Like



Maheso Wongateleng: Ni Nengah tolong donk belikan kain, wah om Leo Oh ..

2 hours ago · Like



Ni Nengah Hardiani: Sepertinya blm tentu juga, kalo waktu itu gak ada perkosaan. Mau lapor siapa? Kan blm ada polisi.

2 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Dari cerita2 yg aku dengar dari nenek, bibi dan ibuku yg lahir dan besar di bali, waktu itu kondisi perempuan bali ngga terlalu bagus juga dibanding jaman sekarang.

2 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Nenek bilang dia dipaksa kawin sama kakek. Tapi aku lihat pernikahan mereka biasa sih, ada cekcok2 kecil, tapi ngga cerai.

2 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Nenekku dari pihak ibu, sekolah sampai kelas 3 setara SD, bisa baca tulis, cuma 2 orang perempuan di desanya yg sekolah, karena nenek anak kepala desa. Dijodohkan dgn kakek yg juga jadi kepala desa sebagai istri yg kesekian. Menikah umur belasan tahun.

2 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Itu waktu jaman penjajahan jepang, nenek sekolah.

2 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Mungkin karena nenek pernah sekolah itu, makanya dia mengijinkan ibuku kuliah di denpasar. Walaupun kondisi ekonomi pas2an.

2 hours ago via mobile · Like



Maheso Wongateleng: lha kl pd jaman penjajahan memang hanya orang2 tertentu yg bisa sekolah n paling jg yg memperkosa itu tentara pendudukan lha mau lapor kemana..? jika ada polisi n tentara tentuna yg adakan penjajah to..

2 hours ago · Like





Maheso Wongateleng: tentunya yg ingin diketahui jika ada perkosaan apakah itu dilakukan oleh penduduk setempat .. ini lo Ni yg jadi pertanyaan.
lagi pula katanya sieh dulu2 di Bali tidak ada pencurian dsb to, jika ada pasti dilakukan oleh orang2 dari luar Bali yg datang ke Bali, nach..

2 hours ago · Like



Gede Putu Mariasa: Jaman sudah berubah. Dulu memang masih aman, alami. Saya pergi ke sawah nyeberang kali, sandal ditinggal aja gak bakal hilang. Sekarang, panci rombeng untuk wadah makanan babi pun terkadang hilang disikat pemulung.

about an hour ago · Like



Soner Man: Klo Mbok aku smpe skrg kemana2 msh sering pake 'kotang doang' tp kga' ada cowok ato bpk2 yg suwitin! tp klo Mbak Ni yg pake, Hmm... ngga' tau dech?? hehe...

about an hour ago via mobile · Like



Johan A Santoso: perkosaan jarang terjadi, krn penduduk memegang teguh hukum adat...

about an hour ago · Like · 1



Angga Kemari: ‎Soner Man:yang nyanyiin Bali Vanili namanya Igor Tamerlan, g tau masih tinggal di Bali atau g..

about an hour ago · Like



Pan Dana: Karena sudah sering terlihat, jadinya biasa aja. Sugeng atau pun Sulit dulunya bukan mutlak adalah alat utk merangsang atau pun terangsang. Hidung pun kini telanjang, tiada merangsang. Tiada orang yg meremas remas hidung orang utk membangkitkan libidonya.

about an hour ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: aku pernah dengar cerita dari ibuku, waktu jaman kerajaan di bali, mungkin itu jaman penjajahan belanda, kan ada raja2 kecil di bawah belanda. biasa terjadi raja2 kecil itu mengambil perempuan/gadis2 cantik di desa untuk dijadikan selir. perempuan2 ini mau ngga mau mesti mau alias dipaksa. jadi ada beberapa yg ngga mau sampai membuat cacat dirinya, supaya tak diambil raja, dengan memotong salah satu jari misalnya.

about an hour ago · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: kalau jaman sekarang kadang2 aku lihat nenek2 di bali, bertelanjang dada, tapi usianya sudah di atas 60-an. mereka biasa terlihat bertelanjang dada di teras rumahnya atau di jalan2 umum di desa.

about an hour ago · Like



Pan Dana Mendiang: Ibuku juga kesehariannya brtelanjang dada di rumah. Biasa aja. Para orang tua yg sebaya dg Ibu juga tidak nampak ganjen. Biasa juga. Kini, di kali kali pinggir jalan bnyk wanita2 (ibu muda) pedesaan yg mandi hanya pake CD juga biasa aja mereka berbaur. Malah beberapa pria ada yg telbul. Yg tidak biasa adalah saya yg jarang jarang melihat pabrik susu di t4 terbuka... heheh..

about an hour ago via mobile · Unlike · 1



Semedi Asmo Bukan: hanya kebiasaan tetapi norma sosialnya memang berbeda. Sekarang di Bali juga banyak wanita telanjang, khususunya di pantai tetapi juga tidak terjadi banyak perkosaan seperti di Jakarta. Negara barat sono kalau musim panas telanjang dihalaman rumah, tingkat perkosaan juga kecil. Mereka yang sok anti porno grafi sebenarnya mau memonopoli pornografi itu sendiri..contoh anggota DPR dari partai anti pornografi, Arifinto, ternyata salah satu penggemar pornografi...

41 minutes ago · Unlike · 1



Semedi Asmo: Di Saudi TKw banyak diperkosa meski mereka memakai jilbab tiap hari...

40 minutes ago · Unlike · 2



De Kafirun King: Ini masalah prinsip kebiasaan.


Kalo kebiasaannya suka telanjang, jelas telanjang itu jadi hal yang biasa saja, bukan sesuatu yg special.


Justru yg ditutupi itu mengundang rasa tanda tanya.

30 minutes ago · Unlike · 1

8 Nov 2011

budaya dan agama

Surya Aditya:

kalo dulu kata agama ga ada tapi diganti dg kata budaya mungkin akan lebih baik,what do u think ?



Like · · Unfollow Post · 6 hours ago via mobile





Shinkey TreeDe likes this.



Akoe Lagie Djomblo: stiap kebudayaan yg d'bentuk olh manusia sdh slalu menghasilkan agama/seperangkat sistem kepercayaan d'dlm'y.

6 hours ago via mobile · Like



Ariek CBholic: Sama aja, dr budaya jg tmbul fanatisme yg berlebihan.

6 hours ago via mobile · Like



Bayu Bajra: kalo gitu kan seolah budaya membentuk seatu agama ,jika seperti itu berarti agama dengan sendirinya dibentuk manusia , lebih pasnya agama itu ada hanya karna gejala budaya , padahal banyak agama yg ada dari tuhan adayg berupa wahyu atau istilah lainya firman tuhan sedang budaya itu sendiri adalah gejala sosial masa lalu

5 hours ago · Like



Akoe Lagie Djomblo: ‎....??

5 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Cuma masalah istilah saja. Yang jadi masalah adalah mengapa kita mau terikat dengannya, manusia kan diberi kehendak/pilihan bebas plus konsekwensinya.

5 hours ago via mobile · Like · 1



Akoe Lagie Djomblo: masalah istilah..??

5 hours ago via mobile · Like · 1



Bayu Bajra: bukan kali , ha ha ha , agama menghasilkan budaya , jadi bukan budaya mengasilkan agama , jangan dibalik gitu

5 hours ago · Like



Ni Nengah Hardiani: Agama dan budaya sama2 hasil pemikiran otak manusia.

4 hours ago via mobile · Like · 1





Akoe Lagie Djomblo: Apa itu budaya?
Apa itu agama?



Apakah keduanya saling berkaitan?
Ataukah keduanya itu sama?


Lalu, manakah yang lebih dahulu muncul: Agama atau Budaya?

4 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Mata kuliah pengantar budaya dan agama, mungkin yg jadi dosen di sini bisa membantu menjelaskan. Atau bisa di-googling sendiri.

4 hours ago via mobile · Like



Bayu Bajra: menurut saya budaya merupakan gejala sosial baik masalampau dan sekarang ,dan agama yg pada awalnya merupaka wahyu atau pirma yg ditrima leh para resi empu , nabi nabi yg diturunkan, dan di yakininya dari tuhan yg mana sekarang menjadi agama agama itu sendirim dan agama itu sendiri membawa melahirkan budaya budaya dari mana agama itu pertama kali ada / lahir , jadi yg lebih dulu muncul ini ada pendapat yg berbeda , ada yg meyakini agama lebih dulu ada juga meyakini budaya dulu , tapi kalo saya lebih condong ke agama yg lebih dulu, ke duanya saling berkaitan , tetapi berbeda atau tidak sama gitu

4 hours ago · Like



Ni Nengah Hardiani: Firman atau wahyu itu adalah hasil dari intuisi atau 'penglihatan' dari mata ketiga. Nabi dan resi adalah manusia2 yg intuisinya kuat. Firman2 atau wahyu2 itu dibukukan menjadi kitab suci.

4 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Kitab suci ini dilembagakan menjadi agama yang mengikat penganutnya.

4 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Pada suatu masa tertentu kitab suci/agama bisa jadi cocok sebagai buku panduan. Tapi sejalan dengan perubahan jaman perlu ada banyak revisi agar tetap relevan.

4 hours ago via mobile · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: Bisa jadi karena sudah terlalu antik/kuno, sudah tidak bisa dipakai lagi untuk masa sekarang, jadi sebaiknya dimusiumkan.

4 hours ago via mobile · Like



Jerry Deriska: Budaya adalah suatu REFLEKSI BAWAH SADAR manusia bhwa "manusia butuh aturan" untuk keharmonisan diri dan sesama.


Orang yg tdk membutuhkan aturan atau tdk mw diikat oleh aturan adalah yg sepertinya kurang sadar bhwa hati mereka butuh rasa aman.

4 hours ago via mobile · Like



Bayu Bajra: sangat betul apa di paparkan sama mbok Ni Nengah Hardani dan juga sama Jerry Deriska

4 hours ago · Like



Akoe Lagie: Djomblo Apakah daya dan budi dibentuk lewat refleksi bawah sadar manusia? Sebentar, refleksi bawah sadar? Apa itu?

4 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Menurutku budaya bukan hanya refleksi bawah sadar saja. Tetapi mencakup semuanya: bawah sadar (naluri), hasil pikiran yang sadar dan intuisi.

3 hours ago via mobile · Like · 1



Surya Aditya: wahyu itu menurut saya adalah olah pikiran manusia yg dihadapi dg keadaan lingkungan kehidupan sekitarnya,dg kata lain wahyu itu adalah kesadaran dari manusia sendiri

28 Okt 2011

Mana Mau Perempuan di Negara Beradab Mencium Tangan Suami ?

Mungkin pemaksaan istri mencium tangan suami secara halus maupun kasar sudah tidak ada lagi di kalangan menengah atas dan berpendidikan tetapi, saya lihat sendiri, hal itu masih dipraktekkan di masyarakat menengah bawah. Sama saja seperti pemaksaan anak-anak untuk mencium tangan orang tua, hal-hal seperti itu patut dipertimbangkan kembali karena sudah tidak sesuai dengan azas kesetaraan derajat manusia. Semuanya sederajat, tidak perlu cium tangan. (Leonardo R.)


Mana Mau Perempuan di Negara Beradab Mencium Tangan Suami ?

by Leonardo Rimba on Thursday, October 27, 2011 at 7:14pm

Saya masih kecil waktu pertama-kali mendengar istilah Sembahyang Tuhan Allah dari nenek saya yg masuk hitungan sebagai member Cina Betawi. Nenek saya pakai kebaya, berbahasa Indonesia dengan beberapa kosa kata Peranakan Cina yg jelas berasal dari dialek Hokkian dan bukan Mandarin (bahasa nasional Cina). Barusan saya baru tahu bahwa the sembahyang namanya King Thi Kong, suatu istilah yg lebih asli.Tapi nenek saya dan kerabatnya sudah pakai istilah Sembahyang Tuhan Allah, yg mungkin marak digunakan sejak Alkitab diterjemahkan ke bahasa Melayu beberapa ratus tahun lalu.
 
Di Alkitab itu memang ada istilah Tuhan Allah, terjemahan dari Adonai Elohim di bahasa Ibrani. Jadi Tuhan Allah muncul pertama kali di Alkitab berbahasa Melayu. Dan di masyarakat Peranakan Cina, the Tuhan Allah dimengerti sebagai Thi Kong yg terkadang disebut Thian. Ini sekali lagi menegaskan thesis saya, bahwa komunitas Peranakan Cina dengan bahasa Melayu Pasar-nya memang benar-benar penyebar bahasa kita. Istilah-istilah ciptaan baru langsung digunakan di komunitas Peranakan. Istilah Tuhan Allah jelas baru muncul setelah Alkitab diterjemahkan ke Bahasa Melayu. Tetapi tanpa ragu the istilah langsung digunakan untuk menyebut Thi Kong atau Thian. Thi Kong atau Thian adalah Tuhan Allah bagi Peranakan Cina. Dan, kalau istilah Tuhan sudah digunakan oleh Peranakan Cina, maka bisa dipastikan istilah itu akan menyebar dengan cepat di seluruh kepulauan Nusantara. Tadinya istilah Tuhan tidak dikenal di berbagai etnik Nusantara. Itu istilah baru, digunakan pertama kali dalam penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu. Dan dipopulerkan penggunaannya oleh Peranakan Cina.
 
Kata Tuhan memang berasal dari kata Tuan yg mulanya mungkin digunakan untuk menyebut orang asing yg dianggap perlu dihormati. Kata Tuan sendiri berasal dari kata Tua yg hampir semua orang mengira asli kosa kata Melayu. Saya sendiri berpendapat, kata Tuan itu berasal dari kata Tua di bahasa Hokkian. Tua di bahasa Hokkian merujuk kepada yg lahir paling awal. Lebih khusus lagi, saya berpendapat istilah Tuhan pertama-kali digunakan secara tertulis di dalam terjemahan Alkitab. Injil berbahasa Melayu yg pertama dicetak di tahun 1629, dan Alkitab lengkap berbahasa Melayu dicetak di tahun 1733. Istilah Tuhan marak di dalam Alkitab berbahasa Melayu.  Di dalam Taurat Musa atau yg lebih dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah tertulis: "Akulah TUHAN, Allahmu...."
 
Tuhan berasal dari kata Tuan. Dan Allah adalah terjemahan dari kata Elohim di dalam kitab aslinya. Alkitab tahun 1733 itu hasil keroyokan, dicek dan ricek oleh para orientalis paling canggih se-jamannya yg menguasai berbagai bahasa Timur Tengah. Mereka tahu bahwa Elohim di bahasa Ibrani adalah Allah di bahasa sehari-hari. Tuhan adalah kosa kata baru yg mulai digunakan secara tertulis di dalam Alkitab berbahasa Melayu. The istilah mulai populer ketika digunakan oleh Peranakan Cina sebagai carrier dari lingua franca kita. Aslinya etnik-etnik Nusantara tidak mengenal kata Tuhan. Orang Ambon, contohnya, dulunya menggunakan istilah "Tete Manis" untuk merujuk kepada sesuatu yg sekarang kita sebut sebagai Tuhan.
 
-
 
Saya baru ingat sebagian masyarakat kita, terutama dari etnik Jawa berharap sebentar lagi Indonesia akan menjadi Mercusuar Dunia. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa satu dunia beradab sudah tidak pakai agama, sudah tidak ada istri yg sungkem sama suami, sudah tidak ada bagian waris anak perempuan yg jumlahnya separuh bagian anak lelaki. Masyarakat yg paling beradab malahan sudah melegalkan pernikahan jeruk sama jeruk between those yg doyan kontolz only, as well as those yg prefer jadi lezbongs. So, para pendukung Indonesia jadi Mercusuar Dunia mbok ya sadar dan mulai mengejar ketertinggalannya sehingga benarlah ramalan itu terbukti sebentar lagi. Indonesia bisa jadi Mercusuar Dunia kalau mau jadi liberal yg paling liberal.
 
Indonesia ini banyak anehnya. Katanya mao jadi Mercusuar Dunia. Mercusuar Dunia kok pake agama ? Mercusuar Dunia kok diskriminasi perempuan ? Mercusuar Dunia kok belum melegalkan pernikahan antara sesama pria, dan antara sesama wanita ? Mercusuar Dunia kok berisik, ada suara Adzan sehari lima kali ? Unacceptable.
 
Untuk menjadi Mercusuar Dunia, mayoritas masyarakat harus meninggalkan agama. Bukan menghapuskan agama, tetapi meninggalkannya sehingga cuma ada di dalam ruang lingkup pribadi dan tidak dipertontonkan untuk umum. Itu yg dilakukan oleh negara-negara yg sekarang maju dan menjadi Mercusuar Dunia. Kalau di masyarakat anda sendiri anak perempuan masih dipaksa menikah, dan kalau menikah harus sungkem kepada suaminya, dan cuma dapat warisan separuh dari bagian saudara lelakinya, maka lebih baik lupakan saja aspirasi menjadi Mercusuar Dunia. Jangan suka omong kosong, mending yg pasti-pasti saja. Mercusuar Dunia adalah negara maju yg menghormati Hak Asasi Manusia. Indonesia masih jauh sekali dari itu. Pelecehan HAM masih ada dimana-mana. Bukan hanya di masyarakat, melainkan di keluarga juga. Saya punya banyak teman perempuan yg dipaksa menikah karena usianya sudah 25 tahun. Yg repot, ada anak perempuan yg maunya menikah sama saya saja. Saya sendiri tidak mau menikah. Saya maunya kawin saja.
 
Seperti mitos Satrio Piningit, aspirasi menjadikan Indonesia sebagai Mercusuar Dunia juga berasal dari teman-teman kita di etnik Jawa. The aspiration is good, tapi mbok ya realistis. Masih banyak yg harus dilakukan. Untuk menggeser posisi AS dan negara-negara Barat sebagai Mercusuar Dunia saat ini, Indonesia masih harus merombak total tradisi yg masih dipertahankan sampe jenggotan. Di negara-negara Barat, warisan anak perempuan sama persis dengan bagian warisan anak lelaki. Tidak ada itu talak yg bisa dikeluarkan oleh lelaki saja. Tidak ada itu perempuan yg sungkem sama suami. Plus, sekarang negara-negara maju sudah banyak yg melegalkan pernikahan homosex dan lesbian. So, kalau serius mau membawa Indonesia menjadi Mercusuar Dunia, anda harus mulai bilang bahwa jeruk makan jeruk dan lesbongisme normal. Anda harus memberikan hak waris yg sama kepada anak perempuan. Anda harus bilang bahwa agama tidak penting. Semua orang berhak untuk menikah dengan siapa saja, tanpa memperdulikan latar belakang agama. Kalau hal-hal simple seperti itu saja anda tidak sanggup lakukan, maka tutuplah the aspirasi. Terimalah nasib sebagai bangsa kelas tiga atau, paling tinggi, kelas dua saja.
 
Mercusuar artinya penerang, menerangi jalan bagi kapal-kapal yg berlayar di lautan di malam hari. Sebagai Mercusuar Dunia, Indonesia konon akan mampu menerangi jalan bangsa-bangsa lain, seperti AS, Australia, Inggris, Perancis, Italia, Jerman, Belanda, dll... yg sekarang sudah jadi kapir. Menerangi adalah kiasan, ada sesuatu yg harus diberikan Indonesia. Now, what is something yg diberikan oleh Indonesia ? Tari Pendet dari Bali ? Wayang Kulit dari Jawa? Batik ? Atau upacara pernikahan yg melibatkan sungkem oleh perempuan ? -- Of course not. Kesenian adalah kesenian, dan tidak bisa dijadikan gaya hidup. Tidak bisa menjadi penerang. Kesenian adalah entertainment walaupun, kalau sudah keterlaluan seperti tradisi sungkem oleh perempuan terhadap suaminya di Jawa, yg ada bukanlah entertainment yg sehat, melainkan sakit. Sakit jiwa.
 
Sungkem asli Jawa dan bukan dari Arab. Jawa itu feodal, literaturnya juga literatur feodal, pesanan para raja. Untuk anda yg belum tahu, Negara Kertagama, Sutasoma, dan berbagai literatur yg dibanggakan itu semuanya karya pesanan raja-raja. Isinya very wah. Dibesar-besarkan. Raja disembah, rakyat diinjak. Lelaki adalah kepala, wanita buntut. Wanita harus sungkem kepada lelaki, dan bukan sebaliknya. Untuk anda yg belum tahu, di negara-negara yg sekarang menjadi Mercusuar Dunia, perlakuan terhadap wanita memang sudah bagus dari dahulu. Wanita tidak mencium tangan lelaki, tetapi lelaki yg mencium tangan wanita. Tidak ada itu istri-istri yg mencium tangan suami mereka seperti masih dipraktekkan di Indonesia saat ini. Mana mau perempuan di negara beradab mencium tangan suami ?
 

 
Mana mau perempuan di negara beradab mencium tangan suami ?

Widya Noviyanti: Koq pendapatku beda yaaa.. Mencium tangan suamiku sama sekali bukan paksaan.. Sama kayak waktu aq kecil mencium tangan kedua orang tuaku.. Sampai skr aq masih melakukannya tiap hari.. Dan aq jg nggak merasa turun derajat tuh.. Buat aq mencium tangan mrk adalah tanda aq menghormati mrk.. Tidak lebih..
23 hours ago · Like
Anita Yohanna Wewegombel: kenapa tdk cium pipi sekalian yah,,,apa jidat,,apa .....
20 hours ago · Like
Liana Ningtyas: bagus kalo masih memakai cara itu,,sama halnya memberi penghargaan buat orang tua,,
14 hours ago · Like
Leonardo Rimba II: Manusia yg menjadi budak tentu saja tidak menyadari dirinya budak. Seumur hidup dia akan jadi budak, mencium tangan suami, mencium tangan orang tua. Dan itu tidak apa. Sedangkan manusia-manusia lainnya sudah ada yg menjadi bebas, lepas dari segala macam simbol seperti cium tangan, cium pantat, dlsb...

tentang ngerehin

Agung P.: Waktu ini saya ikut ngerehin ( mendatangkan energy untuk mendiami sesuatu ) , tepat jam 12 malam di kuburan atawa tempat pembakaran mayat ..
 
Like · · Unfollow Post · 11 hours ago near Southport, Australia
 
De Kafirun King, Roh Jehovah, Ajeng Rusty and 9 others like this.
 
Ni Nengah Hardiani: Kenapa energi itu didiamkan di situ?
11 hours ago via mobile · Like
 
Muhamad Asyifudin: boleh tahu mekanisme nya ngerehin ?
11 hours ago · Like · 1 person
 
Rizki Pradana: itu yg di belakang barong bukan, pak? proses mendatangkan energy itu ambil yg terdekat atau sesuai permintaan?
10 hours ago · Like
 
Agung Pindha: Ni Nengah Hardiani , kenapa ya ? , mungkin untuk proteksi lingkungannya dan orang orangnya...
10 hours ago · Unlike · 1 person
 
Agung Pindha: ‎Muhamad Asyifudin , dengan memfocuskan energy yang dipilih , atau dengan membenahi recivernya yang baik dan benar serta tunning yang tepat ke arah frequency yang dituju dengan ritual sesajen dan mantram ( vocal request ) think of radio yang batterynya fully charged).
10 hours ago · Like
 
Agung Pindha: pak Rizki Pradana , sesuai permintaan yang disesuikan dengan fungsi energy yang diperlukan .
10 hours ago · Like
 
Rizki Pradana: jd inget waktu latihan nyambat buat atraksi silat.... panggil energy dan membentuk energy sesuai kebutuhan...
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: persis sekali .. hanya volume energy dan frequencynya berbeda , bayangkan aja radar proteksi untuk pentagon yang berlapis lapis.. , just like merpati putih dan lainnya.
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: oooh , bukan yang dibelakang barong itu , gambar ini saya ambil setelah process ngereh itu , atau energynya sudah terfocus , gambar ini ketika pembuktian bahwa semuanya sudah lancer sesuai tujuan..
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kenapa waktunya jam 12 malam dan di kuburan/tempat pembakaran mayat?
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kenapa misalnya, ngga di mall, tepat jam 12 siang (itu jam makan siang ya?).
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: jam 12 malam kan jam enak untuk tidur.
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: yaah..... kembali seperti radio , kalau acara dangdut yang mau didengar dan program dangdut itu pada jam tertentu , jadi lebih mudah dengar dangdutnya , kalau nyetel radionya jam lain mungkin jadi dengerin rock music , kenapa di kuburan , karena energy yang dituju mungkin ada disekitar itu , atau lebih mudah untuk memfocuskannya , seperti hape.. kalau terlalu jauh dari receptionnya nanti ga ada signal , rugi donk...
9 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: terima kasih banyak pak agung, pinter sekali menjelaskan.
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: kasih kembali . thanks for the jempols.
9 hours ago · Unlike · 1 person
 
Muhamad Asyifudin: Agung Pindha ...wah perlu belajar banyak nih..membenahi reciver, tunning, dll...
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: yooooo , sama sama .. sudah banyak juga spare part saya yang sudah harus diganti , biar mudah tunning nya :))
9 hours ago · Like
 
Maheso Wongateleng: oh .. kuburan yaa..? apa ngga nganggu yg sudah pd pules ?
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: ngga lah, kuburannya kan luas.
9 hours ago · Like
 
Agung Pindha: kuburan di Bali biasanya ga ada yang pules ( sangat jarang ) karena kebanyakan sudah langsung di kremasi , leluhur Bali sudah tahu tanah kuburan akan menjadi mahal karena pertambahan populasi , jadi mereka kayaknya ga keberatan , toh maksud tujuannya untuk proteksi mereka juga ( maksudnya lhooo.... ) , so no problemo.
9 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: itu acara buat 'mereka' juga, sepertinya ngga mengganggu, malah mungkin suka, sesekali ada rame2, daripada sepi terus.
9 hours ago · Like · 1 person
 
Maheso Wongateleng: dgn kata lain meminta pada orang yg sudah meninggal (leluhur) yaa ? apakah begitu..? dan apakah orang yg sudah meninggal bisa kita mintain to..?
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: di awal sudah ditulis oleh pak agung: 'mendatangkan energi...'
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kembali ke definisi meninggal Maheso Wongateleng, meninggalkan apa?
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kalo rohnya meninggalkan badannya itu sudah jelas, bahkan badannya dikremasi, supaya cepat kembali lebur ke unsur-unsur penyusunnya.
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kalaupun di kubur di kuburan, juga jelas, mengalami pembusukan yang ujungnya juga akan kembali ke unsur-unsur alam, walaupun prosesnya lebih lama dibanding kremasi.
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kalu kremasi secara bali, abunya disebar di laut atau muara sungai, jadi keturunannya/ahli warisnnya tidak menyimpan abu jesazah leluhurnya.
9 hours ago · Like
 
Maheso Wongateleng: hanya memperhalus kata "mati",
penyusun itu terdiri dari unsur, tanah, api, air dan udara .. eenrgi mana yg hrs dikumpulkan
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: sesuai energi yang diperlukan (?)
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kamu perlu energi unsur yg mana (?)
9 hours ago · Like
 
Maheso Wongateleng: maksudnya, gimana Ni..?
9 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: itu yang kamu niatkan untuk diminta dengan tata cara tertentu, contohnya seperti yg sudah pak agung lakukan.
9 hours ago · Like
 
Maheso Wongateleng: oo bgtu ya Ni.. ok makasih ya..
9 hours ago · Unlike · 1 person
 
Rizki Pradana: Bisa panggil energi supaya bdan kebal, atau jago tari ga?
8 hours ago via mobile · Like
 
Ni Nengah Hardiani: cara manggil energi supaya jago tari, latian yg rajin dan tulus. mau kebal dari apa?
8 hours ago · Like · 1 person
 
Rizki Pradana: Ahahaha setuju. Harus latihan. Kebal dr nuklir.
7 hours ago via mobile · Like
 
Andi Susanto: saya pengen kebal dr gigitan nyamuk2 nakal!
7 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: pake lotion anti nyamuk di kulit.
7 hours ago · Like · 1 person
 
Rizki Pradana: Maksud saya gini lho. Kan ada tarian2 kuno yg tak sempat di turunkan ke generasi berikut. Kita pinjem energi leluhur itu atau apapun namanya untuk masuk pada mediator untuk mengajarkan tarian2 trsebut.
7 hours ago via mobile · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kesurupan gitu? ngapain repot2 kesurupan tarian leluhur, bikin aja tarian sendiri, enakan kreatif kan?
7 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: masa jadi seniman ngga kreatif, ngga asik. tiru2 itu membosankan.
7 hours ago · Like
 
Rizki Pradana: bukan itu maksudnya. Ini bagian dr pelestarian budaya leluhur. Kalo mslh kreatifitas pasti. Tp konteksnya beda. Kayak kemaren temen belajar jurus silat kuno.
7 hours ago via mobile · Like
 
Andi Susanto: ‎Rizki Pradana:saya ngerti maksud kamu...tapi kita tau dr mana kalo itu mang bener2 tarian yg lom sempet diturunkan...bukan delusi kita sendiri.
7 hours ago · Unlike · 1 person
 
Rizki Pradana: dari inskripsi kuno dan resource sejarah. Ga perlu terlalu jauh bhs tariannya dah. Kembali pada daya guna energi tadi. Gmana?
7 hours ago via mobile · Like
 
Ni Nengah Hardiani: energi itu emang ada di mana2. tapi mungkin ada tempat yg banyak energinya ada yg dikit. beda tempat, beda juga jenis energinya.
7 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: sekarang tinggal niat kita aja. salah satu cara ambil energi, seperti pengalaman pak agung. penting juga diri kita sebagai penerima energi, sudah cukup 'kosong'kah untuk bisa menerima energi yg kita niatkan/kita butuhkan itu?
7 hours ago · Like · 1 person
 
Rizki Pradana: nah, lbh jelas. thanks, bu.
7 hours ago via mobile · Unlike · 1 person
 
Kenar Rock: kalo belum cukup kosong ya bikin wadah dulu baru di isi. kan gampang? wong semua bisa jadi media.
pelestarian budaya itu penting dan bagus, mau kreatif juga bagus.
tapi yang lebih penting dan bagus mengerti, memahami dan menyadari makna dari apa yang dilestarikan dan yang dihasilkan dari kreativitas itu. kan gitu?
lah kalo ternyata meniru lebih oke dari buat sendiri ya kenapa tidak? yang penting enjoy toh?
5 hours ago via mobile · Like
 
Agung Pindha: ‎Rizki Pradana , memang ada tarian sejenis itu , salah satunya sang hyang jaran , sang hyang dedari ( bidadari ) , dalam tarian barongpun juga demikian dimana penari kerisnya kesurupan atau tedunan.. , memang jadi seolah olah penari tersebut menjadi kebal , seperti menusuk diri dengan keris atau bermain main di api , cuci muka dengan bara api and so on , waktu kecil saya sering melihat suguhan tarian ini.
5 hours ago · Unlike · 1 person
 
Fidelis Stanislaus Marsel: saya domisili Kuta, tolong dong di info kl ada ritual ky gini..... mo jd potograper.....
5 hours ago · Like
 
Agung Pindha: jodoh mas Fidelis Stanislaus Marsel , kalau memang harus ketemu pasti sampeyan ada disana , sementara coba saja tour guide untuk tarian Barong , ( hanya yang comercial lhoo ) hanya untuk photograph.
5 hours ago · Like
 
Fidelis Stanislaus Marsel: wah ga mau kl yg komersil, kaga ori kaga mistik.....
5 hours ago · Like
 
Albertus Felix Aristyan Bahara: ni nengah hardiani..tapi tman sya bru sktr sbulan yg lalu kakeknya meninggal,,dan abunya ada yg sebagian di larung dilaut dan yg lain dismpn oleh anak2'a.. Gmn mnrut ni ??
4 hours ago via mobile · Like
 
Ni Nengah Hardiani: ‎Albertus Felix Aristyan Bahara: aku bilang itu yg cara bali. kalo adat daerah lain aku ngga tau. yg jelas waktu ayah, ibu, kakek,nenekku meninggal, semuanya abunya dibuang ke laut/muara sungai yg ke laut juga.
4 hours ago · Like
 
Agung Pindha: untuk mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Bhuta , maka jasad yang meninggal di aben/ cremation , walaupun di beberapa cases ada yang ditanam dahulu , tapi ahirnya pada hari yang ditentukan , dewasa ala ayuning , semuanya akan diaben ... kalau ada yang menyimpan abunya dirumah atau di merajan ( pura keluarganya ) itu sudah jelas bukan tradisi hindu bali.
4 hours ago · Unlike · 2 people
 
Albertus Felix Aristyan Bahara: kluarga temanku hindu.. Temanku keluarga besarnya semua di singaraja,,hanya dia,adeknya,dan ortu tgl di wonogiri.. Dia keluarga gusti.. Bagaimna mnrut teman2 ??
4 hours ago via mobile · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kalau aku pribadi, tidak mempermasalahkan tata cara orang kremasi anggota keluarganya.
4 hours ago · Like
 
Agung Pindha: itu tidak akan terjadi.. yang dibawa pulang itu hanya sawang , sejenis symbol dari yang meninggal untuk kemudian diupacari lagi , upacara memukur ( segara gunung ) setelah itu baru dilinggihkan / disasanakan di merajan ( pura kecil keluarga yang ada dirumah masing masing bersama keluarga dan leluhur lain yang sudah meninggal sebelumnya.
4 hours ago · Unlike · 3 people
 
Agung Pindha: tapi itu bukan abunya , karena abunya sudah dihanyut di sungai ( yang alirannya tembus kelaut ) atau kelaut itu sendiri , mungkin teman sampeyan tidak jelas , atau tidak tahu tatanan upacara pitra yajna di Bali , coba aja tanya yang jelas lagi .
4 hours ago · Unlike · 2 people
 
Ni Nengah Hardiani: yang terlihat diletakkan di pura keluarga itu 'sawang' symbol dari yang meninggal, semua abunya, dihanyutkan.
4 hours ago · Like · 1 person
 
Agung Pindha: Makanya sering saya dengar , orang bali itu hidupnya susah dengan segala upacara adat dan upacara agamanya , tapiiii.... mati lebih susah lagi .. hahahha.. orang Bali bekerja untuk mengharmiskan Bali , semacam menyeimbangkan energy di Bali , sementara pendatang dari luar Bali datang memetik hasilnya saja tidak pernah mau membantu menyumbangkan tenaga atau waktunya untuk Bali , hanya berbusiness memetik hasil , tapi itu gapapa... asal jangan mengacau saja.
4 hours ago · Unlike · 5 people
 
Ni Nengah Hardiani: ‎*mengharmoniskan bali
4 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: kalau sampai mengacau, itu namanya keterlaluan, bisa kualat.
4 hours ago · Like · 1 person
 
Albertus Felix Aristyan Bahara: terimakasih mas mbak atas infonya.. :) Sya akn mencaritahu lagi lebih jelas pada teman saya..
Setuju mengharmoniskan bali..
4 hours ago via mobile · Unlike · 3 people
 
Maheso Wongateleng: lha ini di bali malah hujan.. hioo py ?
3 hours ago · Like
 
Agung Pindha: kan memang musim tanam palawija masne... bagus donk ( kasihan yang jualan di warung sih ) tapi kalau ga ada hujan malah ga bisa jualan , ga ada bahan... :))
3 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: aku di denpasar, tidak hujan saat ini di sini.
3 hours ago · Like
 
Gede Putu Mariasa: Betul kata Mbok Negah & Pak Agung. Dalam adat Bali, tidak ada sisa tubuh fisik (meski sudah berupa abu) yang boleh dibawa pulang dari kuburan atau laut. Leteh / kotor / cemar hukumnya. Bahkan yang ikut upacara ngaben atau mengubur jenazah pun harus dibersihkan secara skala niskala dengan tirta byakala / pabersihan.
2 hours ago · Unlike · 1 person

26 Okt 2011

Pelajarilah Pembentukan NKRI, Ini Negara Sekuler

by Leonardo Rimba on Wednesday, October 26, 2011 at 11:28am

Melaka used to be a koloni Belanda sebelum ditukar guling dengan Inggris. The Peranakan Cina sudah bercokol disana ratusan tahun, dan berperan penting menyebarkan bahasa Melayu Pasar sebagai lingua franca di seluruh kepulauan Indonesia. My mata ketiga bilang, ada kata-kata penting yg berasal dari komunitas Peranakan Cina, asalnya dari bahasa Hokkian (salah satu dialek Cina) dan marak digunakan di Indonesia. Those are, al: Tua, Tuan, dan Tuhan.
 
Tua - Tua artinya ya itu, tua.
 
Tuan - Tuan digunakan untuk menyebut lelaki dewasa yg bukan Peranakan Cina; misalnya orang Belanda atau orang Arab.
 
Tuhan - Penggeseran arti Tuan menjadi sesuatu yg disembah.
 
Yg lucu, ada satu kata yg digunakan khusus untuk Peranakan Cina saja, yaitu kata Baba
 
Yg lucu, ada satu kata yg digunakan khusus untuk Peranakan Cina saja, yaitu kata Baba
 
Dari Baba, the kata berubah sedikit menjadi kata Bapa (tanpa k) seperti masih bisa dijumpai di Doa Bapa Kami yg dipakai orang Kristen. Bapa lalu dituliskan menjadi Bapak, dan mulai digunakan secara marak setelah kemerdekaan RI untuk menyebut lelaki dewasa. Maksud utamanya untuk menggantikan istilah "Yang Mulia", seperti kata "Yang Mulia Presiden", dst.
 
Saya masih ingat jelas tulisan yg berasal dari masa awal kemerdekaan, yg menyerukan agar istilah "Yang Mulia" diganti saja dengan istilah "Bapak". Bukan dengan istilah "Tuan", karena menurut asal-usulnya, the istilah Tuan cuma digunakan untuk memanggil orang asing. Biasanya orang Belanda atau Arab. Orang Belanda atau Arab dipanggil dengan sebutan "Tuan" menurut kaidah Melayu Pasar.
 
Tetapi orang Peranakan Cina dipanggil dengan sebutan "Baba".
 
Orang kebanyakan dipanggil dengan sebutan "Bapa". Ternyata istilah itu dianggap egaliter dan pantas dipakai untuk menyebut kalangan sendiri, sehingga diadopsi oleh kalangan republiken untuk menyebut para pejabatnya. Makanya di Indonesia kita kenal istilah "Bapak Presiden". Tadinya, waktu baru merdeka, the istilah was "Yang Mulia Presiden." 
 
Untuk anda yg teliti, bisa diperhatikan bahwa istilah "Bapak" tidak dikenal di Malaysia dan Singapura. Disana masih dipakai istilah "Baba", yg digunakan untuk menyebut lelaki dewasa Peranakan Cina.
 
Istilah "Bapa" cuma ada di dalam Doa Bapa Kami. Ini terjemahan doa utama orang Kristen yg dilakukan ratusan lalu oleh para misionaris. Mungkin the penterjemahs tidak bisa menemukan kata yg pas kecuali kata "Baba". Tetapi karena "Baba" digunakan untuk menyebut lelaki dewasa, sedangkan doa itu ditujukan untuk menyebut God the Father, makanya penulisannya sedikit dibedakan. Dari "Baba" akhirnya diciptakan istilah baru, yaitu "Bapa".
 
Kemungkinan penyebarannya sbb. Istilah "Baba" tetap digunakan untuk menyebut Peranakan Cina. Tetapi istilah "Bapa" mulai digunakan untuk menyebut kalangan sendiri yg bukan Peranakan Cina. Kata "Bapa" dianggap lebih bernuansa pribumi dibandingkan dengan kata "Baba" yg jelas sekali asal usulnya. Sedangkan orang Belanda sendiri tidak mau dipanggil "Bapa". Itu dianggap merendahkan. Untuk Belanda dan Arab, dipakai istilah "Tuan".
 
Kurang lebih seperti itulah kalau direkonstruksi perkembangannya. Jadi, dulu "Tuan" adalah untuk keturunan Belanda, Arab (dan mungkin India juga). Kata "Baba" untuk Peranakan Cina. Dan kata "Bapa" (adaptasi dari kata "Baba") untuk menyebut pribumi.
 
The kata "Bapa" (yg kemudian menjadi "Bapak") belum populer di Indonesia sampai setelah kaum Republiken berbondong-bondong mengadopsinya untuk menggantikan istilah "Yang Mulia Perdana Menteri" dan "Yang Mulia Presiden Sukarno".
 
Karena presiden, para menteri dan semua pejabatnya sekarang sudah menjadi "Bapak", maka populerlah istilah itu di Indonesia. Semua lelaki dewasa dari kalangan pribumi akhirnya disebut "Bapak".
 
Lucunya, salah kaprah muncul lagi.
 
Akhirnya kata "Tuan" digunakan untuk menyebut lelaki dewasa di kalangan Peranakan Cina. Orang Indonesia mengira, peranakan Cina adalah orang asing, makanya lebih pantas disebut "Tuan". Dan tidak pantas disebut "Bapak" yg, konon, khusus digunakan untuk pribumi saja.
 
Pedahal the kata "bapak" asal-usulnya dari kata "baba" yg asli milik orang Peranakan Cina.
 
-
 
Di bahasa Hokkian, "Tua" artinya old. Tua-pek (paman tertua), Tua-ie (bibi tertua).
 
Tuan - Mungkin aslinya diucapkan sebagai Toan, digunakan sebagai panggilan untuk menghormati pejabat (in this case orang Belanda).
 
Tuhan - Kemungkinan ini istilah yg diciptakan ketika dilakukan penerjemahan Alkitab oleh para misionaris. Mereka ambil kata "Tua" dan "Tuan", dan lalu ditambahkan "h" untuk memberikan penekanan bahwa ini sesuatu yg disembah, dan bukan tuan-tuan sembarangan. Tuhan itu dari bahasa Hokkian. Kalau bahasa Arab-nya bukan Tuhan, tapi "Ilah".
 
So, ada istilah-istilah "Tuan, Nyonya". Dan sekarang ditemukan lagi, istilah "Bapak", ternyata memang asalnya dari bahasa Melayu Pasar yg digunakan oleh Peranakan Cina. Di Malaysia tetap digunakan yg asli, yaitu Baba dan Nyonya, untuk menyebut Peranakan Cina. Untuk menyebut orang Melayu digunakan istilah Tuan dan Puan. Itu pun tidak asli Melayu, karena the istilah "Tuan" juga berasal dari bahasa Hokkian.
 
Tua, Tuan, Tuhan. Baba, Bapa, Bapak.
 
Dan itu tentu saja tidak apa-apa. Kita memang banyak mengadopsi kata-kata dari bahasa asing menjadi bagian dari perbendaharaan kata Indonesia.
 
Abah dan Umi di bahasa Sunda berasal dari bahasa Arab.
 
Ceuceu di bahasa Sunda kemungkinan berasal dari istilah Hokkian juga, yaitu cici (artinya kakak perempuan).
 
Papi dan Mami berasal dari bahasa Belanda.
 
Mak (nenek) dan Kong (kakek) di bahasa Betawi berasal dari bahasa Hokkian. Babe di bahasa Betawi juga berasal dari bahasa Hokian, yaitu Baba. Kata ganti gua dan lu juga. 
 
Tapi itu semua menurut saya tidak sepenting kata-kata yg akarnya dari "Tua", yaitu: Tua, Tuan dan Tuhan.
 
Dan kata-kata yg akarnya dari "Baba", yaitu: Baba, Bapa dan Bapak.
 
Saya bukan sejarawan, bukan juga ahli ilmu bahasa (linguist), tapi intuisi saya bilang, penerjemahan Alkitab ke bahasa Melayu yg sudah dimulai sejak tahun 1612 banyak membakukan kata-kata yg tadinya digunakan di kalangan Peranakan Cina saja. Dibakukan sehingga menjadi kosa kata bahasa Melayu (dan bahasa Indonesia juga, sekarang). Banyak diambil kata-kata dari bahasa Portugis, perbendaharaan kata Peranakan Cina, dan juga istilah-istilah dari bahasa Arab.
 
-
 
Satu kata yg saya ingat jelas di Alkitab Perjanjian Baru, dan asalnya dari bahasa Arab adalah "kesalehan". Di bahasa Inggris, istlah ini dituliskan "Godliness". Kesalehan itu kata benda, asal katanya dari bahasa Arab. Dan biasanya berbentuk kata sifat: sholeh atau sholeha. Tetapi di Perjanjian Baru, kata itu menjadi kata benda, yaitu "kesalehan". Itu Godliness di bahasa Inggris, yg sebenarnya bisa juga diterjemahkan sebagai "Ketuhanan" seperti di sila pertama Pancasila.
 
Di atas kita sudah lihat bahwa istilah "Tuhan" asal katanya dari kosa kata Peranakan Cina. Kata "Maha" dan "Esa" dari bahasa Sansekerta. Yg asli Melayu / Indonesia cuma awalan dan akhiran "ke-an", plus kata sambung "yang".
 
Whatever the asal-usul kata-kata yg digunakan, saya cuma mau menegaskan, bahwa the sila pertama dari Pancasila memiliki arti sebagai: kesalehan. Kata sifatnya sholeh atau sholeha, kalau pakai istilah yg asalnya dari bahasa Arab. Dan itu tentu saja tidak ada hubungannya dengan agama. Sholeh atau sholeha adalah perilaku yg berbudi pekerti. Penuh integritas, tidak ngawur. Merujuk kepada manusia per manusia. Manusia yg ber-integritas.
 
Sama sekali tidak merujuk kepada agama.
 
Kalau saya lihat Pancasila, dari nomor 1 sampai nomor 5, urutannya dari mikro sampai makro. Dari manusia pribadi sampai tujuan pembentukan komunitas menyeluruh yg mencakup seluruh Indonesia.
 
Perhatikanlah:
 
1) Ketuhanan yang maha esa. - Artinya kesalehan, merujuk kepada integritas pribadi seorang manusia Indonesia
 
2) Perikemanusiaan yang adil dan beradab. - Merujuk kepada nilai-nilai yg dipegang masyarakat.
 
3) Persatuan Indonesia. - Merujuk kepada komitmen politik satu wilayah Indonesia.
 
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. - Merujuk kepada sistem pemerintahan.
 
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. - Merujuk kepada tujuan pembentukan negara Indonesia.
 
Sama sekali tidak ada agama.
 
Menurut aturan pembentukannya, Indonesia ini adalah negara sekuler. Negara tidak mencampuri urusan agama warganegara, sama persis seperti aturan yg dipakai oleh Belanda dan Jepang di Indonesia. Tetapi segalanya mulai bergeser menjadi runyam ketika negara mulai ngurusin orang pergi naik haji. Tadinya Kantor Urusan Haji, akhirnya jadi Departemen Agama. Dan mulai menjadi gurita yg menjerat kemana-mana setelah Suharto berkuasa. Aslinya tidak begitu.
 
Pelajarilah pembentukan NKRI, ini negara sekuler.



Istilah bisa beda walaupun merujuk kepada hal yg sama. Di Malaysia dan Singapura, ini kebaya nyonya, yaitu kebaya yg digunakan oleh perempuan Peranakan Cina. Nyonya adalah sebutan untuk perempuan Peranakan Cina saja disana. Di Indonesia, disebut Kebaya Encim.

· · · Share
You, Johannes Nugroho Onggo Sanusi and Anton Vermillion like this.
1 share

Ni Nengah Hardiani: salah satu tren kebaya yang banyak dipakai oleh wanita bali beberapa tahun terakhir, seperti di foto notes ini. dari bahan kain yang dibordir di bagian pinggirnya. untuk bawahan juga banyak dipakai yg seperti di foto, batik berwarna cerah.