Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

28 Okt 2011

Ekonomi Perwalian

“Apakah si kaya mesti menyerahkan segala apa yang dimilikinya? Tidak. Jika itu yang terjadi, dan si kaya tidak memiliki sarana untuk menghasilkan uang, maka masyarakat kita akan kehilangan seorang yang memiliki kemampuan untuk itu.”
“Silahkan si kaya mengambil, menggunakan dan menyimpan secukupnya. Dan, silakan ia menjadi wali bagi sisa uang yang dimilikinya untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat.”
Gandhi memang bukan seorang sosialis atau komunis. Ia tidak percaya pada egalitarianisme yang kaku dan dipaksakan. Ia berpihak sikap kerelawanan. Seorang kaya mesti secara sukarela berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Ya, secara sukarela, tanpa paksaan.
“Kesetaraan ekonomi tidak berarti setiap orang mesti memiliki segala sesuatu dalam jumlah dan ukuran yang sama.”
“Tidak seperti itu.
Kesetaraan ekonomi berarti setiap orang memiliki sesuai dengan kebutuhannya... kebutuhan seekor gajah tentu saja seribu kali lipat kebutuhan semut.”
Gandhi sangat pragmatis.
Ia tidak berkhayal. Pandangannya sangat realistis, masuk akal, dan dapat diterapkan.
Sistem ekonomi perwalian, sebagaimana dianjurkan oleh Gandhi, bukanlah ekonomi komunis atau sosialis. Si kaya tidak perlu takut. Hanyalah kesadarannya yang dibutuhkan – kesadaran untuk berbagi tanpa paksaan, secara sukarela.

Pilar-Pilar Ekonomi Perwalian
Ekonomi Perwalian ala Gandhi berdiri di atas dua pilar, yaitu: Pilar 'Semangat Berkarya Tanpa Pamrih Pribadi', dan 'Jiwa Kerelawanan'.
Sekali lagi, tidak ada paksaan.
Yang ada hanyalah kesadaran.
Dan, kesadaran itu muncul dari spirit manusia, dari rohnya. Kesadaran itulah spiritualitas, sekaligus kemanusiaan manusia.
Sulitkah mengaplikasikan sistem perwalian ini?
Sulit bagi mereka yang enggan berbagi. Mudah bagi Anda yang berjiwa besar seperti Mahatma.
Sistem Ekonomi Perwalian hanyalah memungkinkan jika kita memiliki semangat untuk berkarya tanpa pamrih pribadi, dan jiwa kerelawanan. Tanpa dua pilar itu, dua tiang itu, kita tidak dapat membangunnya.
Untungnya, mendirikan dua pilar itu tidaklah sesulit yang terpikir, atau terasakan. Kita dapat mendirikannya lewat pengalaman-pengalaman kecil dalam keseharian hidup kita.

(Karma Yoga bagi Orang Modern, Gramedia, 2011)

Manajemen Pengeluaran

Menurut pengalaman dan pengamatanku, orang yang hidupnya makmur secara ekonomi itu bukan hanya karena ia pandai mencari uang semata. Tapi ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya. Yaitu menggunakan uang yang dihasilkannya itu secara bijaksana. Secara hemat dan cermat, tidak berfoya-foya.
Setiap orang atau keluarga hendaknya tahu kemampuannya, berapa penghasilannya rata-rata dalam satu bulan. Berdasarkan itu, kita menetapkan standar hidup yang sesuai. Sebaiknya gaya hidup yang kita terapkan sedikit di bawah penghasilan yang kita punya. Itu untuk jaga-jaga apabila mendadak terjadi masalah ekonomi, kita tidak terlalu kaget untuk menyesuaikan diri dengan situasi.
Gaya hidup yang sedikit di bawah standar penghasilan ini, contohnya adalah tidak mencicil barang yang merupakan kebutuhan konsumtif, contohnya barang elektronik atau pakaian. Untuk benda-benda yang tidak terlalu tersebut sebaiknya dibeli dari tabungan. Menabung dulu, menyisihkan dari penghasilan, barulah membeli barang yang diinginkan. Karena dengan cara mencicil biasanya dikenai bunga.
Gaya hidup sederhana bukan berarti tidak bisa menikmati hobi atau tak mau mengeluarkan uang untuk hobi. Boleh saja keluar uang untuk hobi, tetapi tetapkan anggaran untuk itu. Kalau aku biasanya untuk hobi atau hal yang tidak terlalu pokok lainnya, aku anggarkan 10 % saja dari anggaran untuk kebutuhan pokok yang tidak bisa diganggu-gugat.
Ada baiknya mencatat semua kebutuhan/pengeluaran sehari-hari. Setelah sebulan, bisa dijumlahkan berapa pengeluaran total kita selama sebulan itu. Jadi bisa dianalisa atau dievaluasi. Bisa dikelompokkan menjadi pos-pos tertentu. Misalnya pos pengeluaran untuk makanan, bahan bakar, cicilan kendaraan dan lain sebagainya. Dari sana bisa diketahui apakah kita benar-benar sudah mengeluarkan uang yang sebanding dengan penghasilan kita selama sebulan.
Dengan bergaya hidup hemat dan cermat, otomatis kita bisa menabung, punya tabungan. Sebenarnya punya hutang bukanlah hal yang haram, tapi hendaknya hutang yang cerdas. Contoh hutang yang cerdas adalah hutang cicilan rumah atau tanah. Karena tempat tinggal adalah salah satu kebutuhan pokok, jadi daripada keluar uang untuk sewa atau kos, mencicil rumah atau tanah, jelas perlu. Begitu pula mencicil kendaraan yang jenis atau harganya sebanding dengan kemampuan keuangan, daripada terus menerus mengeluarkan uang untuk angkot, ada baiknya juga punya kendaraan pribadi.

22 Okt 2011

bank perkreditan rakyat


Ini fotoku waktu bekerja di Bank Perkreditan Rakyat di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Tentu saja ini bukan pakaian kerja sehari-hari. Foto ini diambil ketika sedang ada acara persembahyangan bersama di kantor.
Aku bekerja disitu sejak tahun 1995 sampai tahun 2002, sebagai staf administrasi. Nasabahnya kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke bawah, ibu-ibu pedagang di pasar yang rajin menyisihkan penghasilannya beberapa ribu rupiah sehari untuk ditabung. Juga memberi pinjaman kepada usaha-usaha kecil yang memerlukan modal.
Seperti Bank Umum, Bank Perkreditan Rakyat juga berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Setiap bulan diwajibkan mengirim laporan detail ke Bank Indonesia Denpasar, meliputi: Neraca, Laba-Rugi, Rincian Pinjaman yang Diberikan,  Rincian Tabungan dan Depostio yang Diterima dan lain-lain. Sesuai form laporan bulanan yang sudah ditentukan oleh Bank Indonesia.

3 Feb 2010

AS di bangun dari Emas Papua

AS di bangun dari Emas Papua

Today at 13:10
Oleh: Subhan Hassannoesi
Aktivis Dakwah Papua yang juga anggota Majlis Muslim Papua ( MMP )

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
http://berita. liputan6. com/progsus/ 200209/41945/ class=%27vidico% 27

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.

Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapur a sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!

Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan lading uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran senidir telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

30 Jan 2010

Mengapa Kita Memerlukan Sebuah Sistem Dunia Baru?

Mengapa Kita Memerlukan Sebuah Sistem Dunia Baru?

Wednesday, 13 January 2010 at 20:41
Uploaded via Facebook Mobile
Mengapa Kita Memerlukan Sebuah Sistem Dunia Baru?

Oleh: Wandy Binyo Tuturoong


1. Sistem ekonomi global saat ini sangat bertumpu pada pertumbuhan (yang secara agregat dinilai berdasarkan Produk Domestik Bruto).

2. Selama ini, pertumbuhan tersebut dimungkinkan karena ekspansi kredit atau utang (sebagai catatan, utang tersebut tentu memiliki bunga yang harus dibayarkan di masa depan), selain karena mengandalkan persediaan sumber daya alam.

3. Utang tersebut hanya mungkin terbayar dengan syarat pertumbuhan ekonomi terus terjadi di masa depan (jika pertumbuhan ekonomi negatif, bukan saja terjadi kerugian bagi pelaku ekonomi, tapi juga pasti terjadi gagal bayar utang secara massif atau "default").

4. Masalahnya adalah, sumber daya alam, khususnya energi dan bahan baku industri, sebagai penopang pertumbuhan ekonomi tadi TIDAK MUNGKIN bertumbuh terus tanpa batas.

5. Dengan kata lain, Bumi ini memiliki keterbatasan, apalagi jika pertumbuhan penduduk bumi bergerak sangat cepat melebihi ketersediaan sumber daya alam. Pada suatu titik, pertumbuhan terus-menerus ini akan mengalami tren PEMBALIKAN ARAH dan mengalami kerusakan fatal.

6. Bila tren pertumbuhan sudah terlihat akan berbalik arah, maka otomatis ekspansi kredit pun akan menurun drastis bahkan terhenti (tak ada yang mau memberikan kredit jika tahu bahwa kemungkinan besar kredit tersebut akan gagal bayar).

7. Konsekuensi awalnya, harga-harga akan melonjak sangat tinggi karena terbatasnya penawaran (supply).

8. Setelah itu, daya beli akan menurun yang berakibat pada penurunan permintaan (demand) secara drastis.

9. Skenario berikutnya adalah kegagalan sistem secara PERMANEN...

10. Meskipun demikian, terdapat sejumlah variasi yang bisa menunda akhir dari skenario sistem yang sekarang ini.

11. Misalnya yang terjadi di AS, tahun 1970-an, ketika produksi minyak AS mencapai puncaknya. Yang mereka lakukan adalah mendorong konsumsi masyarakatnya sebesar-besarnya dengan memberikan utang secara massif (khususnya kartu kredit dan kredit rumah).

12. Namun ada saatnya, pertumbuhan utang konsumsi itu pun akan mengalami puncaknya bila dibiarkan terus berekspansi (yang ditandai dengan makin banyaknya warga NINJA, "no income-no job-no asset" yang boleh mengkredit rumah). Pada akhirnya, skenario ini akan meledak juga (kasus "sub-prime mortgage" di AS).

13. Akhirnya, negara yang akan menalangi utang-utang tersebut, yang menyebabkan rasio utang terhadap PDB di AS sudah sebesar 90% (USD12 trilyun lebih). Yang secara matematis, sudah tak mungkin terbayarkan.

14. Skenario lain yang bisa menunda (juga sudah terjadi di AS) adalah memindahkan investasi ke sektor finansial (saham, mata uang dsb.). Namun, "bubble" yang direkayasa dalam pasar finansial toh tak mungkin bisa bertahan lama tanpa adanya aset riil sebagai penopangnya. Dalam kasus AS, "sub-prime mortgage" para NINJA bahkan sudah dijadikan penopang (underlying asset). Akhirnya, runtuh juga dan kembali negara yang jadi penyelamat.

15. Selama ini, jalan keluar sementara yang diambil selalu adalah memberikan beban utang lebih besar pada negara. Namun, sampai kapankah negara bisa menanggung utang tersebut (mengingat sumber daya alam serta ekspansi kredit akan makin sulit diandalkan ke depannya)? Bukankah dibutuhkan "pertumbuhan ekonomi" yang harus terus positif agar utang tersebut terbayarkan?

16. Saya hanya membayangkan 2 skenario: Pertama, biarkan sistem ini runtuh dan kita mulai dari nol lagi...

17. Kedua, kita secara massif beralih pada "green economy" (meskipun waktu kita sudah sangat terbatas dan kita menghadapi fakta sulitnya mengharapkan negara-negara kapitalis besar untuk meninggalkan sistem yang sudah sangat dinikmatinya ini).

18. Di luar kedua skenario itu, kita perlu merenungkan kembali "akar" dari sistem ekonomi ekspansif yang sudah pasti tidak "sustainable" ini: Akarnya adalah sistem mata uang dunia saat ini yang memberi insentif pada semua orang untuk melakukan "akumulasi kapital" atau ekspansi.

19. Konsumsi sumber daya alam secara membabi buta selama ini, sesungguhnya, cuma memiliki satu tujuan utama: Akumulasi kapital, dalam bentuk UANG.

20. Coba seandainya, akumulasi terhadap uang dikenakan disinsentif, misalnya uang "tak boleh dibungakan". Sebaliknya, mereka yang memegang atau mengakumulasi uang justru dikenakan biaya atau "cost" (dikenal sebagai "demurrage" atau "negative-interest")...

21. Maka yang akan terjadi adalah, uang akan terus bersirkulasi dengan lancar. Bahkan berpeluang untuk terdistribusi secara adil. Ketimbang "mengakumulasi UANG", manusia akan cenderung menjaga lingkungannya supaya bisa terus memberikan "KEHIDUPAN dalam jangka panjang".

22. Misalnya, ketimbang menggunduli hutan untuk dijual kayunya (dapt uang dengan cepat, lalu kehilangan sumber daya alam), lebih baik memelihara berbagai jenis tanaman karena buahnya bisa dikonsumsi secara terus-menerus (kehidupan yang lebih baik untuk generasi mendatang).

23. Di sini, kekayaan manusia tidak lagi diukur berdasarkan seberapa besar uang yang dimilikinya. Tetapi, seberapa baik ia menjaga dan berhubungan secara saling menguntungkan dengan ekosistem lingkungannya sendiri.

24. Mungkin, itulah yang dipikirkan seorang jenius bernama Muhammad ketika di abad ke-7 Masehi ia mengharamkan riba. Mungkin ia tahu persis bahwa kejatuhan peradaban Mesir Kuno terjadi ketika mereka meninggalkan "demurrage currency" dan mulai beralih ke sistem uang dengan bunga.

Wallahu'alam bissawab...