Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

28 Nov 2011

instink hewani

Jika dilihat dari sudut pandang biologis, gerak hidup binatang adalah untuk memenuhi 4 keinginan atau kebutuhan dasarnya. Ini yang disebut instink hewani:
1. Kebutuhan makan, untuk mengatasi lapar.
2. Kebutuhan seks, untuk mengatasi gejolak nafsu.
3. Kebutuhan tidur, untuk mengatasi ngantuk.
4. Kebutuhan akan rasa nyaman, sehingga untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan, bahkan membunuh.
Bila dikaitkan dengan cakra, kebutuhan makan berkaitan dengan cakra pertama, lapisan kesadaran pertama. Kemudian, kebutuhan seks berkaitan dengan cakra kedua, lapisan kesadaran kedua. Dan, kebutuhan tidur dan rasa nyaman berkaitan dengan cakra ketiga, lapisan kesadaran ketiga. Dalam teks-teks kuno di Timur, tiga lapisan kesadaran awal ini memang dikaitkan dengan instink hewani. Dalam bahasa para bijak jaman dahulu, binatang pun memiliki tiga cakra awal tersebut. Baru cakra keempat, lapisan kesadaran cinta, yang merupakan inti kemanusiaan dalam diri manusia.
Cakra kelima sampai ketujuh dikaitkan dengan keilahian. Jadi tiga lapisan pertama bersifat hewani. Lapisan keempat bersifat manusiawi. Dan lapisan kelima sampai ketujuh bersifat Ilahi.
Bila manusia dalam hidupnya berbuat segala macam hal, 'hanya' untuk memenuhi keinginan-keinginan dasar atau kebutuhan instinknya, ia masih sama seperti binatang. Ironisnya, mayoritas umat manusia sudah 'terkondisi' sedemikian rupa, sehingga mereka hidup hanya untuk memenuhi instink hewaninya.
Dan sejak sekian lama, conditioning semacam ini diteruskan, ditularkan dan disebarluaskan. Sengaja atau tidak sengaja, kita ini sudah menjadi korban –korban 'budaya robotisasi'. Kalau dianalisa secara jujur, kebanyakan dari kita sesungguhnya sudah menjadi 'robot'. Tujuan hidup kita hanya satu –terpenuhinya kebutuhan instink.
Ya, kita berbudaya, berpendidikan bahkan beragama pun untuk memenuhi instink-instink hewani tersebut. Berapa orang yang akan masih beragama dan menyembah Tuhan, jika tidak ada iming-iming sorga dan intimidasi neraka?
Demikianlah ideologi materialistik yang kita anut selama ini.

13 Nov 2011

export manusia


Leonardo Rimba:

Buat anda yg tidak tahu, sampai sekarang Indonesia mengimport sapi, mengimport beras, mengimport bahan-bahan makanan. Kita ini negara miskin, sampai bahan makanan saja harus import. - Yg kita export adalah manusia. Kita jago bikin orang. Kita punya banyak ahli ngentot. Tapi kebanyakan hasilnya KW3, cuma laku sebagai babu atawa jongos. Dan bisa dipake juga, sebagai pemuas sex.



Unlike · · Unfollow Post · 4 hours ago



You, Muhammad Ateis, Nona Si Banal, Johannes Nugroho Onggo Sanusi and 39 others like this.



De Kafirun King: Hidup ngentottt

4 hours ago · Like · 4



Mas Iman Brahmantia: hidup tunge.................

4 hours ago · Like · 5



Andi Susanto: guling2....

4 hours ago · Like · 2



Roy Jati: Sedih :'(

4 hours ago via mobile · Like · 3



Taufik Daryanto Jokolelono: pertambahan penduduk kita setahun kurang lebih 3,5juta, itu sama dengan seluruh penduduk singapura....

4 hours ago via mobile · Unlike · 6



Akoe Lagie Djomblo: hidup babu (bangsa budak)

4 hours ago via mobile · Like · 5



Sastro Langgeng: Wkwkwk.. Sesuatu bgt ya.. !

4 hours ago via mobile · Like · 3



Andi Susanto: sungguh kita banyak menghabiskan waktu diranjang!

4 hours ago · Like · 3



Mas Iman Brahmantia: dan telanjang....................

3 hours ago · Like · 1



Jie Yan Tow: prihatin

3 hours ago · Like



Niti Tohir: kan banyak anak banyak rezeki...wakkakkakak.. walau jadi babu... :)

3 hours ago · Like · 1



Anang Mardi Waluyo: juga import beras,buah dll,petani susah,panen gagal,pupuk mahal pokoknya capek deh

3 hours ago via mobile · Like · 1



Rudi Cool: brada Leonardo Rimba: lebih ironis lagi minyak bumi kita berlimpah, tp kita tak memiliki kemampuan mengolah menjadi bahan jadi. Sehingga kita hrs membeli nya kembali dari pihak ke3 berupa minyak siap pakai.

3 hours ago · Unlike · 5



Gandhi Mohammet Turner: export perempuan ke negeri muslim yg menghargai ngentot di atas segalanya.

3 hours ago · Like · 2



Rudi Cool: huahahaaaaaaaaaaaaaa

3 hours ago · Like



Andi Susanto: selain seputar ranjang...tentu kebanyakan berkhayal...spt org yg ketagihan ngisap candu...

3 hours ago · Unlike · 2



Indra Irsan: setujuuuu ... ghak pernah ada yang (berani) ngomong ...

3 hours ago · Like · 1



Andi Susanto: seharusnya sehat loh rakyat kita...banyak aktifitas fisik dan melatih olah nafas...bener2...spiritual bgt yah!

3 hours ago · Like · 1



Anang Mardi Waluyo: mengerti atau tidak sih pemimpin kita,masak kalah dg bangsa lain yg tidak islami,perilaku islam banyak dipakai oleh bangsa lain,apa hanya islam ktp atau akon akon saja,lihat jepang,singapor dll,mereka bukn orang islam tapi perilakunya islam,makanya rakyate makmur

2 hours ago via mobile · Like · 2



Andi Susanto: yg penting tetep eksis kali....

2 hours ago · Like · 1



Anang Mardi Waluyo: klo lihat rakyat ini seperti burung empret meninggal diatas tumpukan padi

2 hours ago via mobile · Like · 1



Ki Mansu: minimal masih bisa berguna lah buat pemuas nafsu sex,

2 hours ago · Like · 2



Bima Si Barani: slh 1 sifat bangsa ini Sdh tau, tp sadar2 jg.....

2 hours ago · Like



Bintang Merah XPaulox: wahaa bahaya, kita sdh jadi hewan ternak

2 hours ago · Unlike · 2





Ali Saputra: Akoe Lagie Djomblo hidup babu (bangsa budak)
sekitar sejam yang lalu melalui seluler · Suka · 5 indonesia kaya akan kata2 singkatan , baru tau gw klo babu =bangsa budak , gw dl tau nya babu=pembantu/assisten wkwkw, ternyata itu singkatan toh ?

2 hours ago · Like · 3



Ali Saputra: klo babi=bangsa biadab ya? kwkwkwk

2 hours ago · Like · 1



Budi Widarma: Kita punya banyak ahli ngentot..Leo, R... dalam personal comunication fezzbukzzz, 2011

2 hours ago · Like



Nia Hadianto: aduuh nasibmu kartiniku.......negaraku kok jadi blantik manusia ya

2 hours ago · Like · 2





Wibowo Jo: fakta tak terbantahkan..
telak menusuk jantung pembodohan masal via sekolah2

about an hour ago via mobile · Unlike · 2



Canabis Sativa: Xixixixixixi

about an hour ago via mobile · Like



Andi Susanto: kalo negara lain masuk babi keluar sosis....kita masuk sosis keluar babu...cuma ada di indon...cool!

about an hour ago · Unlike · 4



Mas Iman Brahmantia: klo di arab masuk babu keluar BABI....................LL COOL J

about an hour ago · Like · 1



Andi Susanto: kwwkwkwkkwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkww

about an hour ago · Like



Gok Met: tunggu bentar ....aku kau muntah.....

about an hour ago · Like



Nia Hadianto: ah mereka juga kan cari nafkah loh......lah mbok dicarikan jalan keluar biar gak jd babu lagi.......gimana hayooo

57 minutes ago · Like



Mas Iman Brahmantia: mereka semua kesanakan dgn biaya mahal dr hasil jual tanah,sawah coba klo sawah dan tanah di kelola dgn baik kan gak jadi babu di negri org................

54 minutes ago · Unlike · 2



Jenar Waskito: Terus secara harus gimana dong..:(..

53 minutes ago via mobile · Like



Nia Hadianto: hehhee ada benernya mas iman.....masalahnya juga hanya di mENTALnya saja ya....coba kalo wanita2 yg pemikiranny masih ndeso ini diajak kreatif dikit.......kayaknya gak bakalan itu ada MENTAL sok arabian......kabarnya BANGGA bgt bisa ke LN..kearab oiih sekalian naek haji......padahal aduuuh mabkyu2 biyuuuh cm jadi keset disna...kok yo nemen

50 minutes ago · Like



Nia Hadianto: upps kok arab lagi..hongkong....singapore ..malay..juga ada.....hanya nasibnya sama

47 minutes ago · Like



Mas Iman Brahmantia: padahal disana mereka gak dikasih ijin berhaji musti kerja sesuai kontrak mereka,buktinya banyak dr mereka jadi gelandangan di kolong jembatan akhirnya pemerintah juga yg repot mana pemerintahnya gak profesional lg.................

46 minutes ago · Like



Muhallah Abdullah: maaf saya kurang sepaham klu babu/jongos diklasifikasikan pekerjaan kw 3....hehehehe..

13 minutes ago · Like



Ni Nengah Hardiani: ngentot sih ok aja, tapi kalo kira2 gak bisa menjadikan anak itu nanti berkualitas, jangan dijadiin anak.

Andi Susanto; kwwkwkkwwkwkkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkwkwwkwk....bener2 bikin guling2!

22 minutes ago · Like



Ni Nengah Hardiani: mengelola manusia2 kw3 bukan pekerjaan yg mudah.

3 minutes ago · Like



Mas Iman Brahmantia: terus gmn ni carana agar gak jd anak...................

2 minutes ago · Like



Ni Nengah Hardiani: tanyakan pada ahli2 ngentot yg banyak itu.

2 minutes ago · Like



Ni Nengah Hardiani: intinya pengendalian diri, kalo jadi orang terlalu sembrono, ya repot, yg keluar ya yg kw3 itu.

27 Okt 2011

Etika Kerja di Negara Kita

Percakapan di grup Spiritual Indonesia:

Pan Dana: Wah, masih untung Bpk. I Nyoman Minta adalah pekerja biasa. Kalo terrorist?... waduh, Paspampres 3 ring, koq kedodoran?.
 
Unlike · · Unfollow Post · 6 hours ago via mobile
 
You, Kokok Wah Yudhi and 3 others like this.
 
Ni Nengah Hardiani: gimana ceritanya tuh?
6 hours ago · Like · 1 person
 
Lovely Maya: Sy jg ga tau gmn to bli?
6 hours ago via mobile · Like · 1 person
 
Gede Putu Mariasa: Saya coba tebak endingnya... Bapak sepuh kita itu pasti dipecat dari pekerjaannya sebagai petugas kebersihan di BTDC.
Kalau memang itu terjadi, ini memang negara koplak....
6 hours ago · Like · 2 people
 
Johannes Nugroho Onggo Sanusi: Paspampres nya ikut lihat atraksi, lupa tugas. Begitulah etika kerja di negara ini. Lihat aja berapa banyak PNS yg bisa nonton TV, dsb waktu dinas.
5 hours ago · Unlike · 3 people
 
Pan Dana:
Maaf, sy fb-an via hp. Ngga bisa unggah linknya.
Kejadiannya 2 hari yg lalu. Ketika itu pak BeYe menghadiri suatu acara resmi kenegaraan. Di sela acara, ada pertunjukan akrobatik pesawat udara. Semua mata tertuju ke atas. Termasuk pak EsBeYe dan juga paspampresnya. Di kala itulah Bpk I Nyoman Minta melenggang santai menuntun sepeda dayungnya yg sarat muatan di depan pak SBY. Terang saja paspampres kelimpungan. Mungkin juga SBY. Oh, ya.. pak Minta ini adalah petugas kebersihan di areal Nusa Dua. Beliau sehari harinya memang terbiasa melewati jalan tsb. Mgkn beliau tidak tahu Presidennya ada di tmpat tsb. Pak Minta diintrogasi aparat. Tadi, beritanya keberadaan si bapak Minta ini sekarang masih misterius. Kasihan bpk ini. Coba click www.balipost.com.
5 hours ago via mobile · Unlike · 3 people
 
Johannes Nugroho Onggo Sanusi: Ya beginilah di negara kita ini, yg expendable spt Pak Minta yg dikorbankan. Kenapa Paspampresnya nggak dipecat saja?
5 hours ago · Unlike · 3 people
 
Ni Nengah Hardiani: lebih mudah mengorbankan yg lemah?
5 hours ago · Like · 2 people
 
Pan Dana: Jo, kata pimpinannya, paspampres yg tugas saat itu sih akan dikenai sanksi.
5 hours ago via mobile · Like · 2 people
 
Ni Nengah Hardiani: di hampir semua tradisi agama, ada tradisi mengorbankan hewan, yang notabene lebih tak berdaya dibanding manusia. ada yg dengan dalih sedekah untuk yg kurang mampu. ada juga yg dengan dalih hewan dipotong/dibunuh untuk persembahan kepada alam agar manusia selamat.
5 hours ago · Like · 2 people
 
Jaya Saba: yang pinter sibuuuuk sampai keblinger, yang bodoh ga ngerti kerjo santai wara wiri ga jelas! itulah gambaran PNS masa kini
5 hours ago · Like · 3 people
 
Johannes Nugroho Onggo Sanusi: Sanki paling di mutasi ke mana gitu. Org ga becus terus diputer2, makanya aparatnya ga mutu.
5 hours ago · Unlike · 3 people
 
Pan Dana: Ni Ngh, saya juga tidak setuju meraih keselamatan dg mengorbankan mahluk lain. Sementara walau secara individu dulu.
5 hours ago via mobile · Unlike · 1 person
 
Gede Putu Mariasa: Seperti pepatah Bali bilang : "Buka nyebit tiinge, ngamis ke ane cenikan". (Seperti membelah bambu, melesetnya ke belahan yang lebih kecil). Yang lemah selalu kalah dan jadi korban.
5 hours ago · Like · 1 person
 
Pan Dana: Jaya Saba, wong jadi pns jaman skrg ngga perlu pinter. Yg penting ada rekening bank dg saldo minimal 9 digit. Mereka merasa jadi raja, karena mereka adalah pembeli jabatan..
5 hours ago via mobile · Unlike · 3 people
 
Pan Dana: Jo, saya dari dulu juga sangsi dg sanksi2 yg diterapkan kpd pns. Bukan hal sulit meredam gejolak di masyrkt. Cukup adakan konferensi pers, bilang saja si anu akan segera diproses dg hukum yg berlaku. Cukup idealis, bukan?. Masyarakat pun tenang kembali. Terus begitu berulang ulang.
5 hours ago via mobile · Unlike · 4 people
 
Johannes Nugroho Onggo Sanusi:
Sangat sulit mewujudkan reward & punishment di jajaran PNS. Kalau ada yg bersalah juga tidak bakal ditindak tegas. Mengapa? Karena atasannya pun tidak "bersih", semua punya kubangan lumpur sendiri sehingga yg terjadi adalah saling melindungi krn korupsi hampir merata dari atas hingga bawah. Sekelompok manusia yg semua punya kesalahan akan secara insting saling melindungi, dan akan saling mencari tahu kesalahan org lain supaya bisa digunakan sbg senjata di kemudian hari.
5 hours ago · Unlike · 4 people
 
Pan Dana: Gede Putu Mariasa, satu hal yg tidak disadari oleh pejabat di negeri ini adalah mereka dihidupkan oleh rakyat negerinya. Termasuk Bpk. I Nyoman Minta di dalamnya.
5 hours ago via mobile · Unlike · 3 people
 
Pan Dana: Jo, dan jadilah kumpulan pejabat di negeri ini seperti ketika para pemain ketoprak berjejer di atas panggung.
5 hours ago via mobile · Unlike · 3 people
 
Gede Putu Mariasa: ‎@PD, kasus itu seperti mencerminkan kondisi orang Bali umumnya sekarang. Hanya sebagai penonton dalam ketidaktahuannya.
5 hours ago · Unlike · 3 people

tentang kesurupan

Percakapan yang terjadi di Grup Spiritual Indonesia di FB:



Md. Upadana: lagi kesurupan ...... saat upacara agama di kampung saya.
 
Like · · Unfollow Post · 21 hours ago
 
 
Leonardo Rimba II, Iwan Christ AuLia, Yanz Darma and 4 others like this.
 
Ni Nengah Hardiani: banyak orang bali yg stress karena beban adat.
21 hours ago · Like · 3 people
 
Ni Nengah Hardiani: beban adat dan agama.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Wid Sumartopo: tapi mayoritas tidak begitu kan, ngah?
21 hours ago · Like
 
Made Upadana: Kalo di lakoni dengan prinsip air mengalir .... kayaknya ngga sampe setres.....
21 hours ago · Like
 
Heru Susanto: kok bisa kesurupan..... ?
21 hours ago · Like
 
Ki Mansu kalo: kesurupan ngapain? ngamuk apa joged?
21 hours ago · Like
 
Ajeng Rusty: teriak2 doang biasanya........
21 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: masalahnya banyak yg ngga sadar sudah stress ringan atau pun berat, tanda-tandanya: gampang kesurupan, punya keluhan sakit tapi kalau diperiksakan secara medis tak terlihat adanya penyakit tertentu (psikosomatis).
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: bila tak terdeteksi secara medis biasanya orang bali menganggap ada orang yg mengguna-gunai dia, lari ke dukun, padahal mungkin karena dia stress berat, jadinya sakitnya udah sampai ke sakit fisik.
21 hours ago · Like · 3 people
 
Ni Nengah Hardiani: biaya adat dan agama di bali lumayan mahal, terutama untuk kalangan yg kurang mampu secara ekonomi, dituntut oleh adat dan masyarakat, jadinya stress, banyak juga yg sampai jual tanah supaya bisa mengadakan upacara. jadi jatuh miskin. banyak juga karena mahal ini, orang bali pindah dari agama asalnya (hindu) ke agama kristen misalnya.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: upacara adat dan agama yang gemerlap ini memang bisa mengundang turis, jadi dilema juga di kalangan masyarakat bali.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: kalau aku pribadi tak memaksakan diri untuk melakukan ritual yg tidak mampu aku lakukan. mampu secara ekonomi atau aku tak mampu memahaminya karena ada ritual yg tidak masuk akal menurutku atau ritual yg sudah tak relevan dengan kondisi saat ini.
21 hours ago · Like · 2 people
 
Yanz Darma: Pdhl ga ada aturan biaya adat harus mahal. Tergaantung ego msg2 orangnya lah,,,
21 hours ago via mobile · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: itu yang aku lihat dan amati di denpasar dan sekitarnya.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Yanz Darma: Ga cm di denpasar sj. Seluruh bali jg seperti itu. Setiap ada upaacara adat psti buat banten yg besar, pake buah2 import, kebaya baru, bling2 etc. Yaa salah sendiri kl akhirnya stress krn habis duit banyak..
21 hours ago via mobile · Unlike · 4 people
 
De Kafirun King: Wajar, krn sudah menjadi kompetisi tak terlihat antar penduduk bali. Demikian jg dengan adat batak. Sama saja, gengsi memang mematikan. Selamat kesurupan!
21 hours ago · Unlike · 2 people
 
Yanz Darma: ‎@kafirun : hahaha,,,
Kesurupan yg disengaja. Dasar manusia ga lepas dr yg namanya materi dan kompetisi...
21 hours ago via mobile · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: kesurupan masal juga sering terjadi akhir2 ini di beberapa sekolah menengah di kuta dan sekitarnya. sekali kesurupan bisa menular ke belasan siswa. bisa terjadi kesurupan massal hampir tiap minggu sepertinya.
21 hours ago · Like · 1 person
 
De Kafirun King: Fenomena kesurupan massal itu fenomena unik yg perlu diteliti lbih lanjut, sayangnya bahan penelitiannya random jd sulit untuk diteliti hingga akhir.
21 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: waktu aku dulu kerja di pabrik baju, kesurupan massal biasanya terjadi di kalangan buruh pabrik ketika ritme kerja sedang tinggi, deadline pengiriman barang sedang ketat, kerjaan harus cepat diselesaikan.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ki Mansu: sama aja ya dengan agama lain, di islam juga, kalo ada yg meninggal (di kampung saya) harus ada, 7 hari tahlilan, 40 hari, 100 hari, 100 hari.bagi orang mampu gak masalah, bagi yg miskin kasihan, tapi dipaksain
21 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: paman saya dulu jual tanah dan berhutang untuk membiayai upacara ngaben (perabuan jenazah secara bali) istrinya.
21 hours ago · Like · 1 person
 
De Kafirun King: ‎Ki Mansu : kalo 7 hari, 40 hari, 100 hari , 1000 hari itu dari Agama atau adat ya ? kalo memang begitu yg kasihan kalo orang yg lahir dari suku yg menjunjung tinggi adat sukunya , dan juga agama, tapi biasanya tidak bisa keduanya harus pilih salah satu. Seperti di batak toba, yg kental itu adatnya, agamanya cuman sekedarnya untuk urusan adat ( lahir, mati, kawin , dll ) .
21 hours ago · Like
 
De Kafirun King: Wait, berarti kalo dipikir2, yang paling stress emang Bali kayanya, secara adat di tuntut, dan agama mengendorse upacara2 tersebut ya.. hiks.
21 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: makanya penting bagi generasi muda bali untuk kritis, dan mau mempelajari adat dan agamanya. sehingga tak jadi korban pemaksaan dogma/ritual yang sudah tidak relevan.
21 hours ago · Like · 1 person
 
De Kafirun King: Kalo ngaben gitu gak bisa kaya kremasi ala china ya ? tinggal masukin krematorium, di bakar pake api tenaga gas, dan keluarga terima abu, kalo untuk yg datang ke rumah duka ya sekedar kasih makan ala kadarnya aja. Bisa gak Ni Nengah Hardiani ?
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: bisa, sekarang malah sedang gencar acara ngaben massal, jadinya mirip acara sunatan massal gitu, irit dari segi biaya karena rame2.
21 hours ago · Like · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: yg jadi korban dan stress ini kan yg kurang cerdas dan menuruti ego/gengsi seperti yg diungkapka Yanz Darma.
21 hours ago · Like · 1 person
 
De Kafirun King: Ya mulai digalakan saja campaign anti gengsi dikalangan masyarakat bali :D
20 hours ago · Unlike · 2 people
 
Ki Mansu:‎De Kafirun King, itu adat yg berasal dari hindu, tapi sebagian besar umat islam di jawa masih pake, bahkan ada tetanggaku seorang tukang becak mampu mengadakan acara itu, walaupun kita nyumbang.jadi kalo ada tetangga saya yg meninggal biasanya saya nyumbang kira cukup buat makan 7 kali, biar impas
20 hours ago · Unlike · 2 people
 
Agus Jaya Mandiri: dibali ada timgkatan upacara nista, madya ,utama,. klu g mampu mo pake yg utama, yea bs jd jual tanah,. itu namanya membodohi dr sndr,.
20 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ni Nengah Hardiani: oh iya, aku ngga selalu pake kebaya baru ke pura, yg aku pake kadang baju yg udah ada, pemberian bibiku. aku ngga pake/bikin kebaya dari bahan yg harganya mahal.
20 hours ago · Like
 
Ki Mansu: saya juga kalo lebaran gak beli baju baru, gak mudik juga, kalo bikin ketupat masih,
20 hours ago · Unlike · 2 people
 
Agus Jaya Mandiri: itu trgntung anda, atau pribadi msng" yg pnting niat sembhyng,.
20 hours ago · Unlike · 1 person
 
Youdex Ayoe: nengah hardiani@menurut sy anda yg krng cerdas,.
20 hours ago · Like · 2 people
 
De Kafirun King: nah ini baru seru , sesama orang hindu bali saling counter, monggo, saya nonton aja wkakwakwa.
20 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: gpp, bebas berpendapat di sini.
20 hours ago · Like · 1 person
 
Wid Sumartopo: menurut saya, youdex sangat cerdas...
20 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ajeng Rusty: kalo aq sbg org hindu bali yg juga wanita pekerja & hubby juga kerja yg paling bikin stres itu masalah waktu.. mana ipar laki aq jauh2 & ikut agama istri.. mau pulkam dps - singaraja 3 jam.. aq libur minggu aja.. di bali jarang upacara hari minggu.. biasanya hari kerja.. sering ga pulang malu coz huby atu2 nya anak pria di keluarga dia yg tinggal di bali... aq kerja di tourism industri.. boleh libur kalo tamu pas sepi.. kalo tamu rame harus kerja.. susah di pengaturan waktu... :(
20 hours ago · Unlike · 4 people
 
Yanz Darma: Adat itu hanya mengaatur tata pelaksanaan sebuah prosesi, jd ga bisa seenaknya merubah sebuah adat yg sdh pakem kecuali ada perubahan awig2 sesuai perkembangan jaman. Dan kebanyakan yg menyebabkan stress itu bukan prosesi adatnya tp embel2nya...
20 hours ago via mobile · Unlike · 5 people
 
De Kafirun King: embel2nya apa tuh kaya berapa banyak babi yg harus dipotong ya hahaha.
20 hours ago · Like · 2 people
 
Ajeng Rusty: yg bikin miris kadang upacara adat pake judi & minum2 miunuman beralkohol sampai mabuk.. entah dimana cara berpikir orang2 model begini ini otakku ga nyampe...
20 hours ago · Unlike · 1 person
 
Lambang Mahardhika: ‎*gelar tiker nonton orang2 Bali lagi diskusi*
20 hours ago · Unlike · 2 people
 
Ni Nengah Hardiani: curhat aku ini.
20 hours ago · Like
 
Ajeng Rusty: pernah aq minta ijin ma boss aq yg juga owner perusahaan tuk ijin ada upacara Melasti (ke pantai menjelang hari raya Nyepi).. bos yg org hindu jawab.. kalo kamu libur ga usah kmu balik kerja lagi... upacara itu kagak penting..... lebih penting kmu kerja..... seeeeeee!!
20 hours ago · Like
 
De Kafirun King: Kalo di jepang, orang minta ijin mo bercinta sama istri malah dikasih ijin, mungkin 100-200 tahun lagi bali akan kaya jepang :))
20 hours ago · Like
 
Yanz Darma: Ajeng Rusty : ah, yg bener? kl hindu bali sangat menghargai upacara-upakara krn hubungan nya dg keyakinan akan karma..
 
@de kafirun king : babi guling salah 1 nya, salah 2 nya yg bling2 td dll...
:)
20 hours ago · Like · 1 person
 
Surya Aditya: saya udah biasa denger orang bali jual tanah ato ngutang untuk sebuah upacara,alhasil anak cucunya sebagian skrg tinggal di perumahan krn tanah dah abis di daerahnya,lama2 kaya betawi dah hehe
20 hours ago · Like · 4 people
 
De Kafirun King: Anak cucunya punya rumah petak untuk di kontrakin gak Surya Aditya ? Kalo ngga, berarti gak sama kaya betawi hahah.
20 hours ago · Like
 
Lambang Mahardhika: Jadi agama hindu bali itu mirip agama abarahamik ya... percaya pada tuhan personal.
20 hours ago · Like
 
De Kafirun King: Bisnis rentenir berarti potensi yg amat bagus disana.
20 hours ago · Like
 
Yanz Darma: Surya Aditya : wuahh...
kok malah bisa beli rumah di perumahan? perumahan mewah ya?? mepet sawah...
:)
20 hours ago · Like
 
Ajeng Rusty: Yanz Darma that's true... itulah pengalaman aq.. buat apa bohong ga ada untungnya.. percaya ato ga no problem kok... hehehe... :)
20 hours ago · Like · 1 person
 
Surya Aditya: perumahan rsssss
20 hours ago · Like
 
Made Upadana: Surya Aditya : itulah yang perlu dikikis habis kebiasaan yang mengatas namakan jelek asananga ...... kita sudah ada petunjuk sebenarnya untuk melaksanakan uapacara ( Nista, Madya, Utama ) itu bisa kita laksanakan tanpa mengedapnkan gengsi semata, alais menyesuaikan dengan kemampuan ....!!!!!
20 hours ago · Like
 
Surya Aditya: dan bener kata mbak nengah,banyak yg pindah agama,ga apa2 sih itu semua hak setiap orang ,mau pindah agama fine,mau keluar dari adat juga fine,cuma kdg masyarakat awam mendeskreditkan orang kayak gitu,ya udah ga apa2 juga hahahaha
20 hours ago · Like
 
Dodot Juragan Tuyul: Menarik sekali perbincangan diatas, salut dan hormat pada pendapat masing masing individu. Dalam agama apapun selalu ada ritual, dan biasanya juga sering dikaitkan dengan adat. Bagi saya agama adalah panduan untuk hidup dalam "Kebaikan".
Dalam agama Katholik misalnya, ada acara sembahyangan 3, 7, 40, 100 hari, tetapi tidak harus menyediakan biaya atau saraana dan prasarana yg mewah. Tujuannya hanya men-do'a-kan arwah alm.
20 hours ago · Like · 1 person
 
Made Upadana: Dodot Juragan Tuyul : Passsss ......
20 hours ago · Like · 1 person
 
Dodot Juragan Tuyul: Kalau sudah terobsesi dengan biaya, dan harapan masuk surga atau nirwana..., saya juga tidak bisa menjelaskan. karena belum merasakan mati, dan saya lebih suka bicara untuk tetap hidup dan survive.... dengan segara kondisi yg ada saya miliki.
20 hours ago · Like
 
De Kafirun King: Kalo saya meninggal duluan drpada ayah saya, otomatis ayah saya akan mengeluarkan duit untuk penguburan saya, maklum adat minded, tp kalo ayah saya duluan meninggal drpada saya, kayanya ngga deh pesta gede2an.
20 hours ago · Like · 1 person
 
Agus Jaya Mandiri: dan pastinya,disinilah ketulusan kita di uji......
20 hours ago · Like
 
Mustika Wayan: memang dilematis, kemrin tanteku waktu hidup sakit-sakitan tidak ada biaya untuk berobat sampai akhirnya meninggal.ketika mau ngaben dibutuhkan biaya belasan sampe puluhan juta. hidup sudah susah , matipun lebih susah lagi.
19 hours ago · Like
 
Made Upadana :‎Mustika Wayan : Semua orang Bali dari golongan ekonomi lemah termasuk saya pernah mengalami dan merasakan hal yang sama manakala kita melaksanakan kewajiban upacara , terutama yang menyangkut pembiayaan. Tapi untuk pembiayaan ngaben saya rasa sudah ada program ngaben massal di tiap desa adat.
19 hours ago · Like
 
Leonardo Rimba II: Saya sudah tahu bahwa yg dibutuhkan Bali adalah penyembuhan. Kita cuma bisa memberikan penyembuhan spiritual kalau sarasehan di Denpasar tahun depan (rencana: Februari 2012). Walaupun ada dokter-dokter di Komunitas Spiritual Indonesia, tetapi kita tidak fokus di penyembuhan medis. Kita fokus di penyembuhan sakit pikiran yg bisa muncul di tubuh fisik (psikosomatis).
 
Tetapi itu pun tidak bisa dilakukan massal. Paling cuma bisa diberikan satu persatu kepada yg konseling. Dan ditentukan oleh kesiapan orangnya juga. Kalau orangnya masih mau ngotot berpegang mati-matian kepada adat walaupun sudah remuk redam jiwanya, maka tidak ada yg bisa bantu. Kalau orangnya mau berubah, maka bisa konseling dengan banyak teman, para spiritualitas senior, yg pastilah mau menjadi sukarelawan (volunteer) penyembuhan spiritual ketika kita sarasehan di Denpasar nanti.
 
Di satu pihak, Bali memang toleran, tidak ada pengrusakan seperti di Jawa. Di pihak lain, Bali masih konservatif sekali. Adatnya begitu keras, apalagi bagi orang yg masih hidup di lingkungan aslinya. Susah dijelaskan memang, kalau tidak hidup sendiri di masyarakat Bali. Orang Bali suka jor-joran juga, saling adu gengsi. Kalau dilihat seperti kelakuan anak kecil. Tentu saja tidak apa asalkan tidak merugikan orang lain.
 
So, kembali lagi. Kita cuma bisa bantu kalau orang datang dan meminta bantuan. Saya rasa, saya akan ngomong apa adanya sekarang. Tidak mau lagi ikut-ikutan belief system tentang ada yg ngirim begini atau begitu. Terkadang, demi membantu penyembuhan orang, saya akan menyarankan untuk mengabaikan adat. Kalau ada adat yg membuat si manusia sakit, lebih baik tidak usah diikuti.
 
Khusus bagi Bali, tekanan adat yg lebih berat justru dialami oleh perempuan. Luh Ketut Suryani membantu penyembuhan orang-orang yg sakit gila di Bali. Tapi Luh Ketut masih hidup di lingkungan masyarakat Bali. Saya tidak. So, mungkin saya akan lebih bisa memberikan konseling yg membebaskan.
 
Di satu pihak, Bali adalah etnik yg paling tertib satu Indonesia. Disiplin sekali. Di pihak lain, kita semuanya sama, manusia yg hidup di tahun 2011 M. Kita tidak bisa lagi diperlakukan seperti nenek moyang kita memperlakukan sesama mereka. Kita bukan nenek moyang, kita bukan leluhur, kita manusia paska modern. Pendidikan yg kita terima sama seperti yg diterima orang Barat. Kita tahu bisa hidup apa adanya saja, bahkan tanpa agama dan adat. Kalau mau.
18 hours ago · Unlike · 8 people
 
Budi Praseno: kenapa gak mau om Leonardo Rimba II ?
17 hours ago · Like
 
Agus Johan: Kalo mati ntar dikremasi ajah, sebar abunya di pantai serangan ..... Oye!
17 hours ago via mobile · Unlike · 1 person
 
De Ade's Dana: bagaimana kalau bali dibubarkan aja
15 hours ago · Like
 
Made Upadana: Sudah sering dibubarkan ....... judi sabung ayam .... he he he
15 hours ago · Like
 
De Kafirun King: ‎Made Upadana : Kalo saya ke bali bisa bawa saya ke judi sabung ayam gak saya pengen ikut nntn dan main luarannya aja :D
15 hours ago · Unlike · 1 person
 
De Ade's Dana: made upadana@ itu dah maksudnya heheheh....
15 hours ago · Like
 
Heru Susanto: harapanku bali akan indah luar dalam.....
15 hours ago · Like
 
Made Upadana: ‎De Kafirun King : waduh mas ... seneng juga ya ? tapi jangan ajak saya ... sebab saya punya pengalaman unik datang ke tempat gitu ...... orang pada langsung bubar, dikiranya saya petugas ...gitu, ...., dan kalo ada yang kenal saya pasti mrasa aneh kalo saya nongol di tempat gitu, sebab saya ndak punya hoby sabungan ayam atau hoby judi lainnya.
14 hours ago · Unlike · 2 people
 
De Kafirun King: Saya hobby judi , apa saja saya judiin tp buat fun aja dan pake budget bulanan wkkwkw.

26 Okt 2011

pengen banget ke bali

Ini percakapan dengan salah satu teman di FB:


J: pagi

Ni Nengah Hardiani: pagi

J: lam kenal

Ni Nengah Hardiani: sama2

J: dari mana teh

Ni Nengah Hardiani: bali

J: jauh sekali yah

Ni Nengah Hardiani: tergantung diliat darimana.

J: emang ini di bali gitu

Ni Nengah Hardiani: iya

J: musim apa teh di bali

Ni Nengah Hardiani: mau musim hujan.

J: oh ada kerjaan di situh aku pengen kerja di bali teh

Ni Nengah Hardiani: banyak.

J: carin dong teh biar ketemu di bali ama aku dan bali nya mana

Ni Nengah Hardiani: pingin kerja di bidang apa?

J: apa saja teh keelek toronik bisa nyupir bisa bikin asesoris bisa teh banyak pengalaman mah

Ni Nengah Hardiani: ngapain mesti ke bali, bali udah penuh, kebanyakan orang, agak sumpek jadinya.

J: aku pengen aja aku ga pernah kebali teh

Ni Nengah Hardiani: kapan2 aja tamasya ke sini, supaya tau aja.

J: ga mau aku mau nya kerja teh

Ni Nengah Hardiani: mau kerja jadi tukang bangunan, tapi hasilnya pas-pasan banget, mungkin kekurangan, bisa menderita banget kamu nanti.

J: aku ga bisa kalau kerja bangunan

Ni Nengah Hardiani: itu aja kerjaan yg ada, yg paling realistis tersedia.

dan pekerjaan kasar lainnya yg pastinya melarat, mungkin melarat selamanya.

J: udah deh kerja di km aja 0ok

Ni Nengah Hardiani: aku ngga punya kerjaan untukmu.

J: ya ga apa jadi suami nya juga ha ha ah

Ni Nengah Hardiani: ngga terlalu membutuhkan suami.

J: ha ha ha jadi yang butuh apa teh

Ni Nengah Hardiani: ngga terlalu butuh apa2.

25 Okt 2011

perjuangan secara hukum

Marhento W.: Begitu lama mereka merencanakan.....
 
Black Campaign Terhadap Anand Krishna Sudah Dilakukan Sejak tahun 2005
hukum.kompasiana.com
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 10 Agustus 2011, Saksi JPU Marta Berliana Tobing SH, Dian Maya Sari kembali mangkir untuk ketiga kalinya, kali ini Dian Maya Sari memberikan surat keterangan sakit.
Unlike · · Unfollow Post · Share · 13 hours ago
 
You, Ajeng Rusty, Su Rahman and 3 others like this.
 
Marcus Bager: ketakutan para penganut agama?
12 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: antara lain ketakutan para pemuka agama yg takut kehilangan umatnya, apabila umat beragama menjadi kritis dan tidak tergantung lagi pada para pemuka agama.
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: mereka memanfaatkan praktek hukum yang buruk di indonesia yang penuh mafia peradilan.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: benarkah dilakukan oleh pemuka agama? terbukti atau sekadar prasangka? Kalau terbukti, beberkan di sini. Aku akan jadi orang terdepan yang mengganyangnya. Kalau tidak, mari kurangi berburuk sangka dan menebar perpecahan. bangsa ini sudah sarat dengan masalah. jangan ditambah dengan persoalan-persoalan seperti ini
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: itu sedang di proses di pengadilan. diperjuangkan secara hukum.
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: kita orang2 yang berjuang bukan dengan cara anarkis di jalanan.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: Maaf, Ngah. Pertanyaanku, bukan peradilannya, tetapi benarkah ini konspirasi pemuka agama? kalau benar, aku akan mengganyang mereka
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: coba saja selidiki sendiri. kalau aku jawab kemungkinan nanti akan didebat lagi.
11 hours ago · Like
 
Marcus Bager: ‎Ketut Syahruwardi Abbas ini ngawur juga.. buat apa dibeberkan di sini? gak ada gunanya.... kalau dibeberkan di pengadilan.. padahal pengadilannya sudah jelas buruk....... dan anda itu lebih ngawur lagi menyatakan diri sebagai orang terdepan yang mau mengganyang.. hehee...... belum sampai mengganyang, anda sudah akan tergannyang habis oleh mafia itu...
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: ‎Marcus Bager: saya tidak suka berburuk sangka. tapi kalau memang benar ada ada konspirasi busuk sepereti itu, aku yang akan mengganyang. aku bukan pengecut. serius. asal terbukti. anda boleh lihat apa yang pernah aku lakukan di zaman orde baru. aku tak takut penjara. aku tak takut senjata. kalau itu kebenaran, aku akan lawan. percayalah. tapi beri aku kebenaran, bukan prasangka
11 hours ago · Like
 
Marcus Bager: ‎Ketut Syahruwardi Abbas: kalau mau mengganyang, kumpulkan bukti.. strukturkan kasusnya.. bikin argumen yang kuat..... cari dukungan publik...dst...dst......
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: yang aku tahu, di pengadilan anand krishna tidak ada pembeberan konspirasi itu (tolong koreksi kalau aku salah). tidak ada pembuktian bahwa anand diseret ke pengadilan oleh para pemuka agama.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: ‎Marcus Bager: kok malah aku yang disuruh mengumpulkan bukti? aku sama sekali tidak menuduh ada konspirasi. gimana sih?
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: tak ada bukti atau blm ada bukti, yang jelas aku pernah melihat foto disalah satu acara pengadilan anand krishna banyak orang fpi.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: ah, FPI lagi. ya udah. wassalam, deh
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: jelas pembungkaman orang2 seperti anand krishna ini sangat didukung oleh orang2 fpi, fpi tahu sendirilah berhubungan dgn pemuka agama tertentu.
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: ‎Ketut Syahruwardi Abbas menyerah kalau sudah menghadapi fpi?
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: pemuka agama mana sayang? aku tahu benar yang di belakang FPI itu bukan poemuka agama. ada kekuatan yang sangat jauh dari agama yang mendukung mereka. mereka membawa nama agama. itu urusan mereka. oke. sudahlah
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: bukan menyerah soal FPI-nya. aku hanya konsentrasi pada pernyataan "konspirasi para pemuka agama". Aku tahu persis FPI adalah dagelan politik di negeri ini. aku tahu FPI bukan didukung pemuka agama.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: sangat tidak fair kalau mengaitkan FPI dengan oemuka agama. sangat TIDAK FAIR.
11 hours ago · Like
 
Ni Nengah Hardiani: ‎Ketut Syahruwardi Abbas: anda bisa saja teriak2 sepuasnya di sini. di jalanan fpi jalan terus memukuli orang2 yg tidak bersalah. kasus terakhir di solo.
11 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: FPI dibentuk untuk kepentingan politik, tapi kemudian dikaitkan dengan pemuka agama yang tidak tahu apa-apa. SANGAT TIDAK FAIR. Kita harus melihat sesuatu tidak hanya darti apa yang mereka teriakkan, tapi juga dari segala sudut pandang. Negeri ini penuh jebakan. Mari kita tidak ikut terjebak
11 hours ago · Like · 2 people
 
Muhamad Asyifudin: ‎Ketut Syahruwardi Abbas.. yg anda maksud/ dikategorikan sebagai " pemuka agama " itu yg seperti apa ? atau contohnya siapa ? aku jadi pengin tahu...
9 hours ago · Like
 
Ketut Syahruwardi Abbas: ‎Muhamad Asyifudin: paling tidak, yang ada di otakku adalah semacam Buya Syafii Maarif, Romo Mangun, dan ribuan mereka yang mengabdi di pedesaan, membangun masyarakat, ribuan yang hidup di antara rakyat miskin, memberi mereka pemahaman dan optimisme, ribuan yang mendirikan panti asuhan dan menyayangi orang-orang papa. Mereka banyak sekali. sangat tidak sebanding dengan "jumlah" orang yang menggerakkan FPI (yang saya anggap bukan pemuka agama). Saya mengenal pedanda, pendeta, pastur, ustad, ulama, bikku, yang dengan tulus memimpin umatnya dengan sabar. sedih sekali kalau orang-orang semacam ini dicerca. Saya kenal banyak pemimpin pesantren, mereka mengajak santri-santrinya bekerja di sawah (sebab santrinya tidak ditarik bayaran), saya mengenal banyak pengelola yayasan yang menghabiskan hidupnya membina ratusan anak2 papa, memberi mereka bea siswa, menyayangi mereka bak anak sendiri. mereka melakukannya atas dasar keyakinan agama. merekalah pemuka agama. bagaimana saya tega mencerca mereka? saya tahu mereka bekerja keras untuk kemanusiaan. sementara anda, yang mencercanya, apa yang telah anda lakukan?
8 hours ago · Unlike · 2 people
 
Muhamad Asyifudin: ‎Ketut Syahruwardi Abbas) kalo itu masalahnya sy setuju dengan anda. tapi sebaiknya anda juga jgn terjebak dengan sebutan " pemuka agama " hanya terdiri dari manusia2 tulus dan baik. karena itu hanya sebutan. semoga anda mengerti maksud sy.
8 hours ago · Unlike · 1 person
 
Ketut Syahruwardi Abbas: ‎Muhamad Asyifudin: terserahlah orang berpikir apa. saya selalu senang bergaul dengan para "pemuka agama" yang tulus, yang bekerja untuk kemanusiaan dan menyayangi orang2 papa. itulah sebabnya saya selalu berusaha meluruskan jika ada yang mengeneralisir persoalan. Saya masih optiomis hidup di negeri ini karena masih sangat banyak orang yang baik. Thank
8 hours ago · Like · 2 people
 
Muhamad Asyifudin: ‎Ketut Syahruwardi Abbas, sama pak, hanya saja saya tidak pernah optimis kalo negeri indonesia akan maju hanya dengan kebaikan saja tanpa berusaha menghentikan pembodohan2 spiritual ..berdasarkan pengalaman pribadi saya.. sebelum meluruskan sesuatu, sy akan berpikir dulu : apakah ada bedanya setelah di luruskan,, kalo tidak ada bedanya , buat apa diluruskan.. lain halnya jika masing2 individu berusaha menghentikan pembodohan2 spiritual yg sudah dimulai ratusan tahun yg lalu sampai saat ini... pasti masa yg akan datang akan lebih baik... sy berani jamin 100% ( GARANSI... SELAMANYA )...ada yg kurang / salah ? harap maklum... ndak usah di luruskan, seringkali yg berbelok belok bisa membuat lurus sesuatu yg tidak lurus.
7 hours ago · Unlike · 1 person

5 Feb 2010

Membangun Fiqh Perlawanan

Mohammad Khoiroman :

Today at 05:07

"Bila Islam berwajah Fiqh ketaatan hamba terasa pedih" ean

Adalah Prof. KH. Ali Yafie dan KH. Sahal Mahfudz, ulama fiqih Indonesia yang pernah melontarkan pemikiran tentang fiqih sosial. Fiqih sosial dalam bayangan mereka adalah fiqih yang mempunyai orientasi sosial, yaitu senantiasa memberi perhatian penuh kapada masalah-masalah sosial. Fiqih bukan saja seperangkap hukum yang mengatur bagaimana orang melaksanakan ibadah mahdhah kepada Allah, tetapi bagaimana pula seseorang melaksanakan interaksi sosial dengan orang lain (muamalah) dengan berbagai macam dimensi ; politik, ekonomi, budaya dan hukum.

Sayang gagasan kedua Profesor Alim Ulama itu kurang mendapatkan tempat di hati ulama Indonesia katakanlah MUI, MUI misalnya lebih sering mengeluarkan fatwa lebel halal haram atau memberi hokum sesat kepada kelompok yang dianggapnya menyimpang dari tradisi keagamaan, langkah MUI itu belakangan di ikuti juga oleh sejumlah pesantren yang tergabung dalam lembaga forum bahtsul masail pesantren sejawa timur yang baru-baru ini (sebelumnya juga mengeluarkan fatwa haram facebook) kembali mengeluarkan fatwa tentang haramnya perempuan naik ojeg, rebonding, photo pra nikah. Sungguh ironis ulama sebagai pewaris para nabi begitu gampang mengobral fatwa tapi enggan mengutuk pabrik-pabrik yang menggaji murah upah buruh, yang memberlakukan system outsorsing agar lepas kewajiban memberi tunjangan uang pesangon, enggan memberi fatwa (kalau perlu murtad) kepada para koruptor.

Apakah dengan lebel halal dari MUI otomatis suatu barang itu menjadi halal bagaimana kalau ternyata produk yang telah mendapat sertifikat halal dari MUI itu ternyata produk dari pabrik yang dibangun dari uang hasil korupsi, kolusi, KKN ?, seperti air itu halal tapi kalau air dari hasil mencuri apa juga halal?
Sekarang banyak air mineral diperjualbelikan dalam kemasan botol-botol, banyak pabrik-pabrik minuman mineral berdiri dimana-mana, memangnya air itu sebenarnya milik siapa sih! kok mereka bebas menjualnya memang ada pabrik yang bisa membikin air. air itu bukan produk pabrik atau manusia air itu bikinan Tuhan milik Tuhan milik Negara milik rakyat mestinya Negara/penguasa me-menej air itu supaya gratis untuk rakyat. Demikian juga dengan minyak harusnya gratis mana ada pabrik yang bisa memproduksi minyak bisanyakan mengolah menjadi pertamak, bensin, gas, premium, solar minyak tanah, sekarang air, minyak, tanah sudah dijual pemerintah untuk kemakmuran para pejabatnya, (90% uang yg beredar dalam negeri dinikmati para pemilik modal dan pejabat sedang yg 10% diperbutkan rakyat) rakyat kebagaian apa…? Rakyat kebagian jadi tukang ojeg itu pun baru-baru ini diharamkan….?:( apa kita akan diam menunggu sampai udara sejukpun akan diperjual belikan...?

Terus terang saya cemas bila fiqh tidak ber-evolusi tidak mempunyai kepekaan dalam menyoroti masalah kemanusiaan fiqh bisa-bisa dianggap sebagai pemberi legitimatasi terhadap pelanggaran kemanusiaan, sekarang lihat nasib anak jalanan, yang meningkat tajam orang2 cacat, jompo, padahal jelas UUD 45 telah mengamanatkan hak kewajiban mereka di tanggung oleh pemerintah dan terhadap hak dan kewajibannya pemerintah tidak menjalankannya sama sekali dan tentang nasib mereka juga tidak pernah terbersit dalam pikiran pembahasan/rumusan masalah yang harus dijawab oleh ulama MUI. Saya tidak ingin peran fiqh menjadi sempit yang terbatas terhadap masalah ritual belaka dan tidak menjawab problem-problem real masyarakat.

Memang penguasa mempunyai kepentingan yang kuat untuk mengukuhkan hegemoni kekuasaannya, tanpa peduli apa yang ia lakukan itu bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kemashlahatan masyarakat. Tak jarang penguasa melakukan kolaborasi dengan pihak penguasa agama (ulama) agar kebijakan yang ia telorkan memiliki bobot legitimasi yang kuat. Aneka kebijakan pembangunan dengan menggusur rumah-rumah kumuh yang notabenenya dimiliki oleh rakyat jelata dan papa, diamini oleh ulama rezim dengan dalih untuk kemashlahatan umum, yaitu ketertiban tata kota. Tentu saja ini fenomena yang sangat mencengangkan, dilihat dari perspektif peran ulama yang semestinya lebih berpihak kepada rakyat kecil ketimbang penguasa yang sering menindas rakyatnya. Sehingga fiqih yang keluar dari pemikiran ulama model ini sarat dengan kepentingan kelas tertentu, dan sama sekali tidak menyentuh akar kebutuhan rakyat.

Sebagai orang biasa saya berharap bangkitnya gerakan perlawanan anak-anak santri/mahasiswa/pemuda yang berani nge-dan ijtihad untuk mebangun Fiqh Kiri (fiqh perlawanan), fiqh dalam pengertian meletakkan rakyat tertindas sebagai pihak yang patut dibela, dilindungi dan diperjuangkan hak-haknya agar fiqh kembali dijadikan tolak ukur dalam melihat persoalan-persoalan real umat. Mengkoreksi atau mengkaji ulang Ushûl fiqh mengkaji ulang berbagai teori yang terdapat dalam Ushûl fiqh, termasuk di dalamnya kaji ulang terhadap teori qath’i-dzhannî, muhkam-mutasyabih, nasikh-mansukh, dan yang lebih penting adalah mengembalikan seluruh bangunan fiqih kepada landasan fundamentalnya, yaitu mashlahah (kepentingan rakyat). Sebagaimana kata al-Thûfi, mashlahat merupakan sesuatu yang qath’i, sementara teks bersifat zhannî

Fiqih sosial, Fiqih Kiri, Fiqh perlawanan memiliki asumsi bahwa fiqih adalah al-ahkam al-amaliyah (hukum perilaku) yang bertanggungjawab atas pernik-pernik perilaku manusia agar selalu berjalan dalam koridor kebajikan dan tidak mengganggu pihak lain sehingga kemashlahatan dapat terwujud. Dalam kapasitas ini, kebenaran fiqih diukur oleh relevansinya dalam membawa masyarakat ke arah yang lebih makmur, dinamis, adil, dan beradab (mashlahat).

Fiqh social inilah yang dulu diperjuang Rosul dan nabi-nabi terdahulu, Nabi Muhammad saw, diutus Allah di muka bumi Mekkah pada saat itu adalah suatu kota dagang dengan sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang miskin (seperti Indonesia sekarang 90% kekayaan Negara dinikmati pengusaha, pejabat dan 10% diperebutkan rakyat kecil) yang penghidupannya tergantung pada pendapatan mereka yang kecil dari pekerjaan melayani karavan-karavan dagang yang melalui kota itu. Orang-orang masih bodoh dan bertakhayul, menyembah banyak sekali ilah. Para perempuan ditindas, bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup. Ada banyak budak, para janda dan anak yatim yang diabaikan tanpa ada yang peduli terhadap nasib mereka. Nabi sendiri berasal dari keluarga miskin, meskipun bangsawan. Ia diutus oleh Allah untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penindasan.
Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan merupakan sang revolusioner pertama di zaman ini. Dia membebaskan budak-budak, anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah. Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; supremasi kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia
Nabi Muhammad berjuang dengan gigih dan gagah berani membebaskan umat manusia yang menderita karena perbudakan oleh orang-orang yang zalim, orang yang mengeksploitasi orang lain, para bangsawan, para pemilik budak dan para ahli agama. Ia mengangkat harkat manusia dari jurang tahayul, kelemahan dan ketidaksempurnaan yang disebabkan oleh syirik, rasa takut, nafsu yang liar, egoisme, arogansi dan nafsu kebendaan

Nabi-nabi sebelum Muhammad seperti Musa, Isa, Ibrahim dan yang lainnya, adalah pula para pemberontak dan revolusioner yang melakukan revolusi melawan penindasan, diskriminasi kelas, korupsi, dan kezaliman pada lingkungan sosialnya masing-masing. Mereka berjuang sepanjang hidupnya untuk kebenaran, kesetaraan, keadilan, dan kebaikan. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa tujuan perjuangan mereka adalah menghapuskan penindasan (zulm) dalam segala bentuknya.

Lihatlah , hutan kita yang mulai berkurang dari hari ke hari
lihatlah , sungai jernih yang mulai berkurang dari detik ke detik
lihatlah , gedung-gedung pencakar langit yang terus berdiri dan mengubah lahan menjadi batu
lihatlah , minyak dan sumber alam lainnya yang mulai menipis cadangannya
lihatlah teman Santri/mahasiswa , lihatlah rakyat negeri ini semuanya bagai akan lenyap sebentar lagi.

Semoga melaui Fiqih Kiri fiqih perlawanan fiqh yang selalu berpihak kepada mereka yang ditindas, teraniaya, miskin (atau termiskinkan, mustadh’afîn). Melalui formulasi Fiqih Kiri, problem-problem mendasar dalam kehidupan masyarakat dapat diselesaikan melalui rumusan-rumusan hukum dan fatwa agama yang selalu membela kepentingan rakyat banyak. Mashlahât al-âmmah (kemaslahatan umum) menjadi barometer dan landasan asasi dalam merumuskan Fiqih Kiri. Bravo mustad’afin.”by;John Parkir

manakah kira-kira yang akan kita pilih pemimpin Islam tapi dzolim ataukah pemimpin kafir tapi adil....?

Updated 14 hours ago · Comment · UnlikeLike · Report Note
You and 3 others like this.
Azinuddin Aufar
Azinuddin Aufar
Ssstttttttt....ati2 kang entar sampeyan kualat sama Kiayi lho
12 hours ago · Report
Setiyo Beesono
Setiyo Beesono
Saya sudah putus harapan kepada ulama sejenis untuk jadi pembela orang tertindas 20 tahun lalu. Bahkan merasa tidak ada artinya menjadi muslim dan percaya kitab suci.. Hanya gus Dur yang banyak memberi harapan namun sayang beliau hanya diangap seorang yg kontroversi saja. Akhirnya saya sadar benar bahwa letak ketidakmampuan mereka melakukan pembelaan ada pada ajaran yang mereka yakini.
10 hours ago via Facebook Mobile · Report
Ali Khoiron
Ali Khoiron
ta'rif kyai itu adalah "نظر الامة بعين الرحمة " kyai/ulama' itu melihat rakyat dengan mata kasih sayang. kadang ulama'itu lebih pada fiqh sentris, sedang dampak dari hal itu tidak dipikirkan.

30 Jan 2010

Nabi Musa dan Para Ahli Ilmu Hitam

Kendati tidak sepaham dengan Nabi Musa dan malah ingin bersaing dengan beliau, para ahli ilmu hitam di Mesir tetap saja menghormati Sang Nabi. Mereka mempersilakan Nabi Musa untuk terlebih dahulu menunjukkan mukjizat. Sang Nabi menjawab, "Jangan saya, kalian saja yang mengawalinya.
Demikian, semakin bertambah rasa hormat mereka terhadap Sang Nabi, sehingga setelah melihat mukjizat Nabi -- mereka bertobat....

Di mana letak perbedaan antara Nabi Musa dan para ahli ilmu hitam yang mengelilingi Firaun? Mereka menunjukkan mukjizat, Nabi Musa pun menunjukkan mukjizat. Ilmu Hitam atau Putih -- bukankah semuanya berasal dari Tuhan? Mana ada kekuatan yang bisa menandingi Allah? Katakanlah yang "hitam" berasal dari Setan. Bisakah Setan berperan, jika tidak dikehendaki oleh Tuhan? Mampukah dia melawan Tuhan? Bisakah dia bersaing dengan Tuhan? Jelas tidak bisa...
Anggap saja "yang putih" dari Tuhan langsung dan "yang hitam" tidak langsung, karena harus melewati Setan. Jika ditarik benang ke belakang, sebelum ada Setan, sebelum ada ilmu hitam dan ilmu putih, siapa Yang Ada? Tuhan bukan?
Lalu apa yang membedakan Musa dan para ahli sihir? Para ahli ilmu ilmu hitam, para ahli sihir itu arogan, sombong, angkuh. Sedangkan Musa lembut, polos, tulus. Mereka suka pamer, Musa tidak. Mereka menggunakan kekuatan pikiran untuk mengadakan mukjizat. Dan pikiran itulah Setan -- energi sekunder yang sudah terkontaminasi karena interaksi kita dengan dunia luar. Sementara Musa menggunakan rasa, hati -- Energi Ilahi yang masih Murni, tidak tercemar.
Rumi menegaskan :

Manusia Allah bagaikan mulut. Tugasnya adalah menyampaikan Pesan Allah. Engkau yang masih harus belajar mendengar, janganlah membuka mulutmu. Jangan cepat-cepat meniru Manusia Allah.
Seorang bayi yang baru lahir harus belajar mendengar. Setelah mendengar untuk sekian lama, ia baru belajar bicara. Seorang bayi yang tuli, yang tidak bisa mendengar, menjadi bisu. Tidak bisa bicara.

Kita belum cukup mendengar, tetapi sudah cepat-cepat ingin bicara. Hasilnya apa? Suara-suara tidak karuan. Berisik, tak berguna! Tidak mau belajar, tetapi ingin menjadi guru. Tidak mau dituntun, tetapi ingin menjadi penuntun.
Padahal, kata Rumi :

Adam pun harus belajar -- ya, belajar menangis. Karena itu, ia turun dari ketinggian Taman Firdaus ke dunia fana ini.
Jika menganggap dirimu sebagai turunan Adam, belajarlah darinya : belajar menangis. Sirami Taman Jiwamu dengan air mata...
Sayang, kau belum bisa menghargai cucuran air mata. Kau masih mengejar hal-hal sepele yang tak berguna. Berhenti mengejar semua itu, maka kantongmu akan diisi dengan permata dan mutiara yang tak terhingga nilainya.

Kantong kita hanya satu. Dan sementara ini penuh dengan batu kerikil. Ada yang ingin mengisinya dengan berlian, dengan permata dan mutiara--tetapi mana kantongmu? Kamu harus mengosongkannya terlebih dahulu.
Sementara ini yang kita miliki hanyalah batu kerikil, sehingga yang kita bagikan juga kerikil. Mau membagikan berlian dan permata darimana? Bagaimana bisa membagikan sesuatu yang tidak kita miliki?
Rumi sedang bicara tentang mind, yang berisikan pikiran-pikiran kacau--"batu-batu kerikil pikiran" yang justru membebani jiwa. Pikiranlah yang menjatuhkan kita dari ketinggian Taman Firdaus. Pikiran pula yang "menjatuhkan" kita dari Allah Yang Maha Dekat Ada-nya. Pikiran yang sibuk mengejar bayang-bayang. Pikiran yang membuat kita lupa akan Dia Yang Terbayang. Pikiran yang membuat kita mencucurkan air mata untuk hal-hal sepele. Pikiran yang menghalangi pengembangan rasa, sehingga kita tidak pernah merindukan "Sang Maha Pemberi". Yang kita rindukan hanyalah "pemberian-Nya".
Dan untuk itu Rumi memberi peringatan :

Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adallah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal.

Cara Rumi menafsirkan istilah "halal" dan "haram" akan membingungkan para ahli agama. Rumi melampaui segala macam tafsiran dogmatis. Bagi seorang Rumi, agama sangat dinamis. Karena itu, perlu didefinisikan ulang dari waktu ke waktu. Ajaran agama harus bersifat universal, harus relevan dengan jaman. Sementara, dogma-dogma yang kita anut sekarang sudah banyak yang tidak relevan dengan jaman. Lagi pula sudah jelas-jelas tidak bersifat universal.
Bagi seorang Rumi, "halal" dan "haram" tidak sebatas cap di atas bungkus mie instant. Dia akan bertanya, uang yang anda pakai untuk membeli mie itu dipakai dengan cara halal atau haram?
Saya pernah kenal dekat seorang pejabat tinggi. Dia berkelakar, "Uang yang saya pakai untuk belanja keperluan dapur sudah pasti halal. Dari gaji saya koq."
"Lalu bagaimana dengan yang lain-lain...?" tanya saya, karena memang sudah kenal baik.
"Lha ya, tidak ada peraturannya koq. Untuk beli kaca mata Cartier, untuk beli ikat pinggang Dunhill, untuk beli jam tangan Piaget, dan untuk beli pulpen Mont Blanc--itu kan tidak dilarang. Bisa-bisa saja pakai uang lain, dong!"
Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Demikianlah cara kita mencari pembenaran. Demikianlah cara kita memisahkan halal dan haram.
Lalu, bagaimana dengan uang yang kita gunakan untuk menguliahkan putra-putri kita di luar negeri? Harus pakai uang apa? Kalau pakai "uang panas", berarti gelar yang mereka peroleh juga "haram". Lalu jabatan tinggi yang mereka duduki berkat gelar itu juga "haram". Kepemimpinan mereka pun haram. Keputusan-keputusan yang mereka ambil pun haram.
Tolak ukurnya apa? Dengarkan Rumi, "Jika wajahmu masih murung dan tidak bercahaya, ketahuilah bahwa yang menyusui kamu adalah Setan. Cara kamu mencari uang tidak wajar. Dan makanan yang kau beli dengan uang itu tidak halal."
Dengan menyumbang sekian persen dari uang hasil korupsi dan rampasan anda bisa saja memperoleh "sertifikat halal", tetapi bagaimana bisa menipu diri sendiri? Bagaimana bisa menenangkan pikiran yang tidak tenang? Bagaimana bisa menentramkan hati yang tidak tenteram? Bagaimana bisa menghapuskan tanda-tanda kemurungan dari wajah anda? Bagaimana membuat wajah anda berkilau, bercahaya?
Rumi melanjutkan :

Jika caramu mencari uang itu wajar, jika makanan yang kau beli dari uang itu halal, maka wajahmu akan berkilau, bercahaya.
Makanan yang halal, dan dibeli dengan uang halal, akan menghasilkan kesadaran, kebijakan, kelembutan dan kasih.
Rasa iri, tipu muslihat, ketidaksadaran, dan ketidakpedulian--semuanya dihasilkan oleh makanan haram yang dibeli dengan uang haram.

Kesimpulan Rumi berbeda dari para "ahli" yang mengatakan bahwa kerusuhan dan penjarahan terjadi karena kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial bisa terjadi, tetapi jika kesenjangan sosial menimbulkan rasa iri dalam diri kita, jika kita mulai menjarah dan merampas harta orang, maka terbuktilah bahwa kita masih disusui oleh Setan pikiran. Kita masih merupakan putra-putri setan. Masih belum layak menyebut diri "turunan Adam".

Makanan adalah benih pikiran. Bila makananmu halal, kamu akan selalu memikirkan Tuhan. Akan selalu berupaya untuk melayani-Nya. Untuk mengabdi kepada-Nya.

Ada yang bertanya, "Bagaimana menjaga keseimbangan antara materi dan rohani, sehingga Tuhan pun selalu teringat dan kantong pun selalu terisi?"
Si penanya tidak sadar bahwa pertanyaannya berbau "syirk". Bagi dia, materi adalah isi kantong. Dan rohani adalah Tuhan. Dia sudah jelas-jelas "menduakan" Allah. Bagi dia, "isi kantong" dan "Tuhan" adalah dua hal yang berbeda, tetapi berdiri bersama. Dan dia ingin memiliki dua-duanya.
Pertanyaan seperti ini muncul karena penglihatan kita tidak jelas, karena pikiran kita tidak jernih, karena makanan kita tidak halal.
Kalau makanan kita halal, pertanyaan semacam itu tidak akan pernah muncul. Keseimbangan apa yang hendak kita bicarakan? Bisakah terjadi keseimbangan antara isi kantong dan Allah? Mustahil!
Jika makanan kita halal, kita akan senantiasa mengingat Allah. Tidak akan membicarakan keseimbangan. Tidak akan menduakan-Nya. Apa pun yang kita lakukan semata-mata untuk melayani Dia. Hidup ini menjadi sebuah pengabdian. Jangan memikirkan gaji. Itu urusan Majikan. Bisakah kita bersikap demikian? Bisakah saya dan anda, dan kita semua bersikap demikian? Kalau sudah bisa, ucapkan syukur Alhamdulillah... Dan berdoalah agar kesadaran anda tidak merosot, supaya anda selalu bersikap demikian.
Jika belum bisa, ketahuilah bahwa makanan anda belum halal. Cap di atas bungkusan mie tidak mampu "menghalalkan" makanan anda. Amal saleh dan perjalanan suci pun tidak akan mencuci dosa-dosa anda. Bertobatlah, berpalinglah ke jalan yang benar. Tidak perlu mencuci dosa pakai deterjen. Cukup mengakuinya dan tidak mengulanginya lagi. Dan yang terakhir ini penting sekali, "tidak mengulanginya lagi". Hanya mengakuinya saja tidak berguna sama sekali.
Layani suami, istri, dan keluargamu, karena mereka adalah makhluk-makhluk Allah. Bukan karena mereka adalah pasangan-"mu" atau anak-"mu" atau saudara-"mu" atau orang tua-"mu".
Kembangkan rasa peduli terhadap masyarakat, terhadap lingkungan, terhadap binatang-binatang tak bersalah yang anda sembelih, karena semua ciptaan Allah....

Sumber:
Masnawi (Jalaludin Rumi - Anand Krishna)

28 Jan 2010

Isak Tangis Semar

Sindunata :

Mangka darajating praja/ kawuryan wus sunya ri/ rurah pangrehing ukara/ karana tanpa palupi/ atilar silastuti/ sujana sarjana kelu/ kalulun kalatidha/ tidhem tandhaning dumadi/ ardyanengrat dene karoban rubeda.

Secuplik tembang Sinom di atas adalah petikan dari ramalan Serat Kalatidha karya Pujangga Ranggawarsita. Rasa-rasanya ramalan itu sedang menjadi kenyataan kita sekarang. Sebab sekarang kita berada dalam keadaan yang serba repot dan tak menentu. Nyaris tak ada tokoh yang patut dijadikan panutan. Kata-kata para tokoh simpang siur, penuh dengan janji kosong dan kebohongan. Sedikit pun tiada lagi rasa malu jika mereka melanggar aturan dan cita-cita kemasyarakatan. Para cerdik cendikia pun ikut tergulung arus zaman edan.

Dalam kacamata Serat Kalatida, keadaan serba repot itu tidak melulu dimengerti sebagai situasi zaman, tetapi sebagai kutukan zaman. Karena kutukan itu, segala niat yang luhur urung menjadi realitas. Dan pemimpin yang berniat mulia pun diselimpung oleh zaman dan menjadi ikut edan. Dengan kata lain, situasi repot ini bukan sekedar akibat dari ulah manusia yang tercela, tapi lebih-lebih adalah ekspresi dari kekuatan jahat yang sedang unjuk gigi. Kekuatan jahat itu tersembunyi, tapi terus beroperasi, membujuk dan menyeret manusia jatuh dalam kejahatannya.

Jelas keadaan demikian tak bisa diatasi dengan politik. Sebab akar permasalahannya bukan situasi sosial dan politik, tapi keruwetan batin manusia sendiri. Menurut tradisi Jawa, inilah saatnya kita harus menjadi seperti Semar. Sebab, seperti diyakini dalam kejawen, Semar iku asale saka basa samar, kang tegese ora samar ing umbak-umbuling lan wolak-walike jaman (Semar itu berasal dari samar, yang maksudnya tidak samar terhadap naik turun dan berubah-ubahnya zaman).

Memang Semar itu samar dari luar, tak jelas siapa dia, lelaki atau perempuan. Tapi dalam dirinya, ia menyimapan kejelasan manusia yang terdalam, yakni rasa eling lan waspada. Semar adalah kesadaran ilahi yang mengejawantah menjadi rasa eling yang manusiawi. Namun pada Semar, rasa eling manusiawi itu bukanlah kesadaran yang serba abstrak. Pada Semar, rasa eling itu menjadi konkret, yakni menjadi manusia dalam derajatnya yang terbawah: menjadi rakyat biasa.

Itu tidak berarti bahwa rakyat mempunyai kesadaran yang sempurna tentang segala-galanya. Tidak, justru sebaliknya, keadaan lahiriah mereka yang serba tidak sempurna adalah rasa, yang selalu meng-eling-kan mereka yang merasa diri sempurna, entah dalam pemikirannya entah dalam harta materialnya. Persis seperti Semar, yang terbilang buruk rupa karena dirinya hanyalah hamba, selalu meng-eling-kan bendara-nya, tuannya yang gagah, tampan, kaya dan berkuasa. Jadi rasa eling yang ada pada rakyat itu dengan demikian bersifat sosial, atau lebih tepat bersifat sosial-kritis.

Karena itu menurut filsafat Semar, jika rakyat masih miskin, maka mereka yang kaya harus eling bahwa kekayaan mereka tidaklah dibangun pada fundamen yang benar, karenanya juga akan mudah roboh dan sia-sia. Jika rakyat masih menderita karena ketidakadilan, maka mereka yang berleha-leha dengan harta berlimpah adalah penghina dan penista derajat manusia. Jika hak-hak rakyat masih tertindas, maka para penguasa sesungguhnya hanyalah tiran yang kejam, betapapun mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik dan utama.

Begitulah dengan di-dunung-i, atau dihuni oleh Semar, rakyat mentransendir keadaan dirinya, dan menjadi potensi yang menentang ketidakadilan, ketimpangan, dan kekuasaan yang sewenang-wenang. Rakyat lalu kembali menjadi bagian dari sejarah dan menentukan sejarah. Lebih dari itu mereka juga menjadi bagian dari kekuasaan, dan menjadikan kekuasaan bukan lagi melulu sebagai otoritas yang steril, tapi otoritas yang berhati, yang mampu menjalin manusia satu sama lain, dan lebih-lebih mampu merangkul mereka yang selama ini tersingkir dan terpinggirkan. Ya, bersama Semar, rakyat menjadi kekuatan yang akan memaksa kekuasaan untuk eling.

Menjadi Semar tidaklah mudah. Untuk menjadi Semar, penguasa harusberani nyuwungke atau memgosongkan diri dari segala nafsunya. Dalam bahasa kejawen, ia harus menempuh marga sunya untuk menuju sampurna. Dan pada Semar, jalan sunya atau pengosongan diri itu tidak ditempuh dengan menyepi atau samadi, tapi dengan menjadi kawula. Maka penguasa yang ingin nyemar, menjadi Semar, tanpa berani merakyat, dan merasakan betul pahit dan susahnya penderitaan rakyat, ia hanya akan menemui kegagalan belaka.

Memang Semar itu nyata, senyata penderitaan rakyat. Karena itu, Semar tetap samar, jika ia hanya digembar-gemborkan sebagai visi politik yang pro-ekonomi kerakyatan dan antineoliberalisme. Maka, jangan mencari Semar dalam diri para pemimpin yang sedang mengobral janji. Semar tak usah dicari, ia sedang berada misalnya dalam isak tangis Sumariah, pedagang bakso, yang kehilangan anaknya tercinta, Siti Khoiyaroh (4 tahun) yang mati tersiram kuah bakso dan bara arang, saat hendak menyelamatkan diri diri dari kebrutalan Satpol PP kota Surabaya. Dalam penderitaan dan jeritan rakyat semacam itulah Semar berada, bukan dalam pidato-pidato calon presiden kita.

Kompas, 7 Juni 2009