18 Okt 2011

mandiri


menjadi perempuan memang tidak mudah, tidak tega melihat anak terlantar. masalah pasangan (pria) yang mudah lari dari tanggung jawab karena tak hamil, itu urusan lain. perempuan memang tidak semestinya bergantung pada pria, jadilah perempuan yang bertanggung jawab dengan cara memilih pria yang baik dan bisa menghargai perempuan, kalau tidak perempuan sendiri yang akan terus menderita.
sebagai perempuan kita tidak harus memaksakan diri untuk hidup sesuai dengan standar hidup tertentu, tapi tergantung pada orang lain (pria). pakai saja standar hidup yang sesuai dengan kapasitas/kemampuan diri sendiri tapi mandiri.
 
jangan katakan anda tidak mampu mandiri, setiap orang punya kelebihan disamping kelemahan. kelebihan adalah potensi yang bisa dicari dan dikembangkan. cara mencari potensi diri adalah dengan cara mau mencoba sesuatu yang baru. cara mengembangkan potensi dengan cara tidak mudah menyerah kalau mengalami kegagalan.

17 Okt 2011

mimpi ktemu hantu

Aku pernah mimpi ktemu hantu. Kejadiaannya sekitar setahun yg lalu. Hantunya itu menembus tembok kamarku. Kalau tidur, pintu kamar aku tutup. Suasana seram, hantunya juga seram, aku takut.
via mobile · · ·
Ni Nengah Hardiani Walaupun takut, aku terima aja kedatangan hantu itu. Sepertinya hantu itu ingin tahu sesuatu. Hantu itu datangnya dari arah sawah di samping rumahku.
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani Lalu aku jelaskan ttg hal yg ingin diketahuinya. Hantu itu sepertinya mengerti, dia manggut2, trus pergi.
via mobile ·
L:Oh (hantu yg baik)
Ic: apakah setahun lalu mbak pernah merasa khawatir?
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani @Ic: mungkin.
@L: iya ternyata dia baik, cuma tampilannya aja yg serem.
via mobile ·
Wa: emang dia mau tau apa c, ni nengah ?
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani Aku lupa dia pingin tau apa.
via mobile · · 1 person
Wa: Tampangnya kayak hantu2 dalam film2 indon pa film2 bule c,say?
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani Maklum udah agak lama, kejadian setahun yg lalu, aku gak ingat lagi detilnya. Lumayan seram, aku sampe merinding waktu itu.
via mobile ·
Wa: Wah, kamu hebat. Kalu aku pasti pingsan....
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani Aku jadi berpikir kalo aku waktu itu lari atau menghindar, hantu itu akan terus menghantui.
via mobile ·
Ni Nengah Hardiani Soalnya kan dia datang kerumahku. Kecuali kalo aku ktemu hantu di tempat orang, baru deh aku yg pergi.
via mobile ·
Ge: tanya nya gimana ya..Hallo .. han... ada yg bisa saya bantu?
Ni Nengah Hardiani Dialog detilnya aku lupa, maklum udah lama.

zen

The fearless thought of Zen is like the powerful roaring of a lion.
Striking terror into the hearts of all other animals.
Even the king of the elephants runs off, forgetting his dignity.
Disciples of good heart, they alone,
like the old dragon hear that roaring with calm delight.

Yes, Zen is like the roar of a lion. All other religions speak in a way that does not hurt so much. They are compromising; they compromise with your sleep. Zen is non-comprimising. It does not care about your sleep and your beautiful dreams. It shocks you, it shatters you. Its whole effort is to wake you, whatsoever the cost. Yes, it is like a lion's roar.

Disciples of good heart, they alone,
like the old dragon hear that roaring with calm delight.

It can be heard only with a deep love for truth. It can be heard only by those who are real inquirers, not just curious, not just spectators, not just philosophers, but who are really ready to go through a radical transformation – who are ready to die and be reborn. It is only for those few people who have guts and courage, because it is not for a Sunday religion like Christianity, that each Sunday you go to the Church and your paradise is assured. It is not like Mohammedanism, that you pray for five times, go on repeating like a parrot the same words, which are not your words, which are not spontaneous to you, which have been imposed by others on you – you may not even know their meaning.

(Osho, Walking in Zen, Sitting in Zen, Full Circle Publishing, New Delhi, 2001)

16 Okt 2011

kecoak

Aku pernah takut pada kecoak. Tentu saja ini ketakutan yang tidak logis, tidak masuk akal. Tapi ketakutan ini nyata, tiap orang biasanya punya ketakutan pada hal tertentu yang kurang masuk akal, dan itu menjadi kelemahan orang tersebut.
Bila hal ini dikaitkan dengan teori reinkarnasi, mungkin saja, mungkin aku punya pengalaman buruk dengan kecoak di kehidupan yang lalu. Mungkin aku pernah mati dikerubuti kecoak, misalnya hehehe...
Jadi, dulu itu, waktu aku takut dengan kecoak, aku minta bantuan orang di sekitarku untuk menyingkirkan kecoak itu. Minta bantuan kakak atau adik laki-lakiku. Memang sih, bila bertemu kecoak waktu itu, aku ngga sampe menjerit histeris, paling cuma begidik merinding. Tapi perasaan takut ini cukup mengganggu.
Perasaan takut kecoak ini ada bagusnya juga, aku jadi agak rajin bersih-bersih rumah. Karena kecoak akan lebih sering ditemui di rumah yang kotor, di kamar mandi yang jorok, di dapur yang jarang dibersihkan, karena kecoak makan makanan sisa.
Pada suatu ketika aku putuskan untuk menghadapi kecoak sendiri, untuk menghadapi ketakutanku pada kecoak. Ketika bertemu kecoak, akan aku bunuh dengan cara memukulnya dengan benda yang ada di sekitarku, contohnya buku atau koran yang dilipat. Tapi di awal-awal, cara itu sering tidak berhasil, karena takut aku jadi gugup, sehingga pukulanku tidak akurat. Juga menjadi kurang bertenaga, karena gugup juga. Sehingga walaupun kadang-kadang kena, tapi si kecoak tidak langsung mati. Jadi keder juga, wah ternyata kecoak itu binatang yang tangguh, jadi agak mengkeret nyaliku.
Sempat juga muncul pikiran yang ngeles, mencari pembenaran untuk memelihara rasa takutku. Pikiran semacam ini; kecoak itu kan sesama makhluk hidup, kenapa mesti dibunuh? Tapi muncul lagi pikiran begini; kecoak itu kan tidak bisa diajak berunding atau tidak bisa lagi diusir baik-baik dari tempat yang bukan habitatnya (kamarku yang sudah bersih). Jadi, satu-satunya cara bila bertemu kecoak di kamarku, bunuh saja!
Akhirnya aku menemukan cara efektif untuk menyingkirkan kecoak dari kamarku. Caranya dengan memukulnya dengan sandal jepit yang biasa aku kenakan di dalam rumah. Di rumah aku biasa memakai sandal jepit karena lantai keramik terasa agak dingin di kakiku. Lama-lama karena sudah sering memukul kecoak, aku menjadi lebih berani, sehingga pukulanku menjadi lebih bertenaga dan akurat.

4 Apr 2011

Super Intelligence!

Super Intelligence!



Melampaui mind atau gugusan pikiran, yakni intelek – yang merupakan pengembangan mind dan emosi, Super Intelligence adalah kesadaran jiwa, dengannya kita dapat menyaksikan perubahan-perubahan yang senantiasa terjadi pada lapisan mind dan emosi. Bahkan, kita dapat mengendalikan dan memanfaatkan perubahan-perubahan tersebut.

Abad ke-18 adalah abad para penemu seperti Newton dan Darwin. Penemuan-penemuan mereka di bidang fisika dan evolusi fisik manusia sangat menentukan pemikiran kita hingga hari ini.

Abad ke-19 adalah abad para psikolog seperti Freud dan William James; pemikir seperti William Atkinson, Wallace Wattles, dan James Allen; dan, para spiritualis seperti Blavatsky, Besant, Vivekananda, dan lainnya. Mereka semua, tanpa kecuali menempatkan pikiran manusia dia atas fisik. Manusia tidak lagi dilihat sebagai makhluk tak berdaya yang dikendalikan oleh alam. Dengan kekuatan pikirannya, ia dapat menguasai alam.

Demikian, benih parapsikologi dan fisika kuantum mulai bertunas. Kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terpikir mulai ramai dibicarakan.

Kita memasuki abad ke-20 dengan pemahaman baru tentang hukum-hukum alam. Bahwasanya, segala sesuatu relatif adanya... Dan, barangkali relativitas itulah absolut.... Barangkali, karena ternyata, Hukum Kemungkinan sebagaimana dijelaskan oleh Buddha dan Mahavira sekitar 500 tahun sebelum masehi memang “berlaku”. Lagi-lagi, “mungkin berlaku”!

Dari mind atau pikiran, kita beralih ke emosi, perasaan; dari fisik ke metafisik; dari tangga ke ular, dan sebaliknya dari ular ke tangga!

Abad ke-20 adalah abad Albert Enstein, Napoleon Hill, Maharishi Mahesh Yogi, Deepak Chopra, dan tentunya para Rockfeller di setiap benua.



Belajar dari Abad Silam



Kita memasuki abad ke-21 dengan pengalaman beberapa abad yang masih terekam dalam kesadaran kolektif umat manusia.

Pengalaman-pengalaman inilah yang akan mengantar kita pada next level! Intelejensia Supra menghubungkan kita dengan semesta, yang saat ini belum terjadi.

Saat ini kita masih berada dalam posisi tarik-menarik. Kita masih ingin menarik yang terbaik bagi diri kita saja. Kita belum mencapai tingkat intelejensia supra di mana kita bisa merasakan kesatuan, bukan sekedar persatuan dengan semesta.

Jika masih ada seorang pun yang tidur dengan perut kosong malam ini, saya ikut merasakan laparnya. Itulah intelejensia supra. Kemudian, intelejensia ini pula yang akan menuntun kita untuk “secara aktif” mencari solusi supaya tidak ada satu pun orang yang tidur dengan perut kosong.

Intelejensia supra inilah yang dapat mewujudkan surga di bumi. Intelejensia supra inilah yang dapat mendatangkan Kerajaan Allah.

Inilah abad yang ditunggu-tunggu.

Datangnya abad inilah yang diramalkan sejak 5.000 tahun yang lalu, ketika umat manusia secara kolektif mengalami degradasi kesadaran, dan dari intelejensia supra kesadaran kita merosot ke level terendah. Sejak itu, dari masa ke masa kesadaran kita mengalami peningkatan hingga sampailah kita pada masa yang sangat menentukan ini.

Barangkali Anda mulai menanyakan alasan kita membahas semua ini, dan...



Apa Urusannya dengan Astrologi?



Bukan dengan astrologi fortune cookies seperti yang kita temukan di koran dan di majalah, urusannya adalah dengan “Masa penuh Kemungkinan”!

Karena, buku ini bukanlah buku hitam-putih yang baku, “Jika bintangmu Virgo, kamu pasti orang yang sangat berperasaan dan romantis. Titik.”

Apa selalu demikian?

Saya pernah bertemu dengan seorang remaja Virgo yang tampaknya tak berperasaan. Lempeng dan lurus seperti papan. Lebih keras dari batu, kepala baja barangkali... Ia melanggar dan sekaligus menentang segala deskripsi tentang seorang Virgo.

Namun, setelah mengenal dia lebih jauh, lebih dalam, ternyata karakter Virgo dalam dirinya belum terungkap. Romantismenya terpendam, perasaannya terkubur – ia seorang yang sangat tidak bahagia.

Ia dibesarkan dalam suatu lingkungan ketika romantisme dianggap tabu; dan, perasaan dianggap sesuatu yang bersifat sangat pribadi sehingga tidak perlu diungkapkan. Remaja itu bisa tumbuh menjadi pembunuh berdarah dingin. Tertimbun dalam dirinya adalah segudang perasaan yang tidak pernah terungkap. Terpendam dalam jiwanya adalah obsesi dan fantasi liar, khayalan-khayalan yang sangat berbahaya. Remaja itu tinggal tunggu waktu kapan dirinya meledak, yang jelas akan memcelakakan dia sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Nah, dengan menyelami isi buku ini, Anda akan menemukan potensi diri Anda... Apa yang dapat Anda capai dan betapa sayangnya jika potensi itu tidak dikembangkan.

Buku ini juga menjelaskan sisi-sisi negatif dalam diri kita. Penulis buku ini tidak mengibuli kita dengan ucapan-ucapan manis bila kita mesti melihat yang positif saja. Tidak, penulis buku ini mengajak kita untuk bersikap positif, yang berarti “bersikap holistic” -- melihat gambaran hidup seutuhnya. Kita tidak melihat kehidupan sepotong-sepotong.



(Spiritual Astrology, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010)

3 Apr 2011

Be the Best of Whatever You Are

Be the Best of Whatever You Are
by Ni Nengah Hardiani on Friday, April 1, 2011 at 6:23pm

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau



...Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan



Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air



Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..



Douglas Malloch – Be the Best of Whatever You Are



If you can’t be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

...Be a bush if you can’t be a tree.



If you can’t be a bush be a bit of the grass,

And some highway happier make;

If you can’t be a muskie then just be a bass —

But the liveliest bass in the lake!



We can’t all be captains, we’ve got to be crew,

There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,

And the task you must do is the near.



If you can’t be a highway then just be a trail,

If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —

Be the best of whatever you are!

18 Mar 2010

Intermezzo.....

Intermezzo.....

"I have heard a beautiful story - I don't know how far it is correct, I cannot vouch for it.

In paradise one afternoon, in its most famous cafe, Lao Tzu, Confucius, and Buddha are sitting and chatting. The waiter comes with a tray that holds three glasses of the juice called "Life," and offers them. Buddha immediately closes his eyes and refuses; he says, "Life is misery."

Confucius closes his eyes halfway - he is a middlist, he used to preach the golden mean - and asks the waiter to give him the glass. He would like to have a sip - but just a sip, because without tasting how can one say whether life is misery or not? Confucius had a scientific mind; he was not much of a mystic, he had a very pragmatic, earthbound mind. He was the first behaviorist the world has known, very logical. And it seems perfectly right - he says, "First I will have a sip, and then I will say what I think." He takes a sip and he says, "Buddha is right - life is misery."

Lao Tzu takes all the three glasses and he says, "Unless one drinks totally, how can one say anything?" And Lao Tzu says, " He drinks all the three glasses and starts dancing!

Buddha and Confucius ask him, "Are you not going to say anything?" And Lao Tzu says, "This is what I am saying - my dance and my song are speaking for me." Unless you taste totally, you cannot say. And when you taste totally, you still cannot say because what you know is such that no words are adequate.

Buddha is on one extreme, Confucius is in the middle. Lao Tzu has drunk all the three glasses - the one that was brought for Buddha, the one that was brought for Confucius, and the one that was brought for him. He has drunk them all; he has lived life in its three-dimensionality.

My own approach is that of Lao Tzu. Live life in all possible ways; don't choose one thing against the other, and don't try to be in the middle. Don't try to balance yourself - balance is not something that can be cultivated. Balance is something that comes out of experiencing all the dimensions o flife. Balance is something that happens; it is not something that can be brought about through your efforts. If you bring it through your efforts it will be false, forced. And you will remain tense, you will not be relaxed, because how can a person who is trying to remain balanced in the middle be relaxed? You will always be afraid that if you relax you may start moving to the left or to the right. You are bound to remain uptight, and to be uptight is to miss the whole opportunity, the whole gift of life.

Don't be uptight. Don't live life according to principles. Live life in its totality, drink life in its totality! Yes, sometimes it tastes bitter - so what? That taste of bitterness will make you capable of tasting its sweetness. You will be able to appreciate the sweetness only if you have tasted its bitterness. One who knows not how to cry will not know how to laugh, either. One who cannot enjoy a deep laughter, a belly laugh, that person's tears will be crocodile tears. They cannot be true, they cannot be authentic.

I don't teach the middle way, I teach the total way. Then a balance comes of its own accord, and then that balance has tremendous beauty and grace. You have not forced it, it has simply come. By moving gracefully to the left, to the right, in the middle, slowly a balance comes to you because you remain so unidentified. When sadness comes, you know it will pass, and when happiness comes you know that will pass, too. Nothing remains; everything passes by. The only thing that always abides is your witnessing. That witnessing brings balance. That witnessing is balance. "

Excerpt from "The Book of Understanding" by OSHO.