6 Feb 2012

Fenomena Orbs


Lambang MH:

Fenomena Orbs.

==========



Sering kita jumpai adanya gambar foto yang terkena distorsi lingkaran2 terang dan biasa disebut dengan Orbs seperti yang ada pada gambar terlampir.



Bagi para penggemar metafisika, Orbs itu dianggap sebagai perwujudan enerji dari ruh atau dedemit yang berkeliaran di daerah tersebut. Bagi yang masuk dalam kelompok kaum skeptis, menganggap itu adalah pantulan dari debu yang terkena sinar lampu kilat dan ada juga yang disebabkan oleh kurang bagusnya kamera.


Saya sendiri menempatkan di posisi tengah, mungkin itu memang enerji, mungkin juga hanya pantulan debu.



Yang menjadi pertanyaan saya sampai sekarang adalah :

1. Mengapa pantulan itu sebagian besar berbentuk bulat? Apakah tidak ada enerji yang bisa berbentuk segi tiga, segi empat atau segi banyak lainnya?

2. Mengapa Orbs selalu muncul pada daerah yang banyak angin atau banyak aktivitas gerakan manusia sehingga memungkinkan debu2 beterbangan?
3. Mengapa Orbs hanya bisa muncul pada kamera statis, tetapi tidak bisa muncul pada kamera video biasa atau kamera video kelas broadcast yang jauh lebih canggih ?



Like · · Unfollow Post · 12 hours ago





Ajeng Rusty, Abbur Boedoet, Adi Jala Sutra and 8 others like this.

Frans Hananto: kalao beberapa orgonite dikumpul kemudian di afirmasi/doa/meditasi yg intinya di proyeksi energy dengan pikiran terus dipotret muncul orbs nggak mas Lambang MH...??

12 hours ago · Like



Edvin Blackwinged Angel: Jawab 1 : Karena pada dasarnya pancaran cahaya bersifat ke segala arah, sehingga bentuknya jadi cenderung bulat. Sebenarnya tidak selalu bulat. Ada yang oval kalau diperhatikan benar-benar. Kalo yg oval katanya "ectoplasma" XD


Jawab 2 : karena orbs adalah debu-debu beterbangan


Jawab 3 : karena orbs adalah efek dari gain (tingkat sensitifitas) lensa yang disetting terlalu tinggi sehingga muncul banyak "noise" yang disebabkan cahaya-cahaya lemah yang bertebaran oleh pantulan materi-materi kecil di udara. Oleh karena itu pada pendidikan kameraman atau fotografi, untuk mengambil gambar di tempat gelap cenderung disarankan untuk memainkan iris atau shutter speed, bukan gain. Alasannya biar tidak terjadi "penampakan" "makhluk halus" wuakakakaka XD

12 hours ago · Like · 3



Lambang MH: Saya belum pernah membuat foto yang bisa menghasilkan orbs mas Frans Hananto karena saya jarang motret malam2 di tempat yang banyak angin.

12 hours ago · Like · 3



Edvin Blackwinged Angel: Gampang kok, foto saja di tempat remang atau gelap seperti tempat2 "uji nyali" itu, terus mainkan gain nya ke tingkat sensitifitas paling besar. Mas Lambang akan melihat betapa kaya nya makhluk gaib di sekitar anda. Sy dah pernah nyoba ^.^

12 hours ago · Like · 4



Edvin Blackwinged Angel: ups maksudnya "makhluk gaib", dengan tanda kutip hehehe ^.^

12 hours ago · Like



Handhy Dwi Maxmoro: ada yg bilang pantulan cahaya blitz oleh debu yg mengandung quartza.

12 hours ago · Like



Lambang MH: Kalau orbs itu memang makhluk gaib, kenapa bentuknya selalu bunder2... sekali2 segitiga kan malah makin horor. :))

10 hours ago · Like · 1



Edvin Blackwinged Angel: Karena energinya kurang mas Lambang... harus lebih banyak difoto atau direkam. Ntar kan jadi segitiga, namanya "spirit triangle" :))

10 hours ago · Like · 1



Yusu Wa: sepertinya energi yg kluar dari organ intim sampaigak tau pencariannya mo kemanan...

10 hours ago · Like



Rudi Cool: Lambang MH: akujg ada koleksi foto yg bertabur orbs di siang hari :)

10 hours ago · Like · 1



Lambang MH: Nah, itu foto di luar atau dalam ruangan? Kenapa kalau foto dalam ruangan orbs-nya tidak pernah sebanyak kalau di luar ruangan? Apa mahluk2 gaib itu suka jalan di ruangan terbuka padahal konon makhluk gaib itu senang tempat2 yang gelap dan lembab.

10 hours ago · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: oh, seperti panu.

Bakti Sosial Penyembuhan Spiritual

Komunitas Spiritual Indonesia akan mengadakan Bakti Sosial Penyembuhan Spiritual di Denpasar, Bali, pada hari Minggu, 4 Maret 2012.



Tempat: Wantilan, Gedung DPRD I Bali, Jl. Kusuma Atmaja, Denpasar Timur.



Acara akan dimulai tepat pukul 10 pagi WITA, dan berlangsung sampai pukul 10 malam WITA.



Banyak penyembuh spiritual akan datang dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, selain dari Bali sendiri.



Semua penyembuhan spiritual dilakukan dengan gratis, dan peserta cukup membayar iuran konsumsi sebesar Rp 50 ribu / orang, untuk makan minum sepanjang acara dari pagi sampai malam.



Damar Shashangka dari Malang akan meluncurkan buku terbarunya Novel Sabdo Palon Jilid II di acara ini.



Leonardo Rimba dari Jakarta akan membedah bukunya yg berjudul Membuka Mata Ketiga dan Pelangiku Warna Ungu.



Seniwati Niki Saraswati akan memamerkan karya-karyanya, seni spiritual digital. Penyanyi Ayu Laksmi akan tampil bersama Svara Semesta.



Workshops atau kelompok studi bersama akan dipandu oleh para ahlinya. Ada workshop kundalini, fengshui, kaligrafi Cina, yoga, meditasi, hypnotherapy, pembuatan orgonite dan banyak lagi.



Juga disediakan alat foto aura bagi yg berminat. Buku-buku keluaran penerbit Dolphin juga akan dijual dengan harga discount.



Acara ini terbuka bagi siapa saja, dan pendaftaran dilakukan melalui SMS yg dikirimkan kepada:



Ni Nengah Hardiani

No. HP 085 238 116 271



Cukup kirimkan SMS berisikan nama anda, dan untuk berapa orang.

5 Feb 2012

Signifikasi Warna

Warna merah menciptakan semangat. Namun, warna merah yang berlebihan juga bisa membuat kita gelisah, emosional, cepat marah.
Warna jingga/oranye dalam tradisi kuno di Timur selalu dikaitkan dengan energi. Sebab itu, warna ini harus digunakan dengan berhati-hati sekali. Kekurangan energi membuat kita loyo, kelebihan membuat kita destruktif.
Warna kuning mewakili sekian banyak aspek kehidupan, antara lain kenyamanan, keseimbangan, kesehatan, kepemimpinan dan masih banyak yang lain. Warna emas juga merupakan bagian dari warna kuning, biasanya dikaitkan dengan kesejahteraan.
Ketiga warna ini, merah, jingga dan kuning secara bersama mewakili 'insting-insting rendahan' di dalam diri kita. Dalam bahasa psikologi disebut insting-insting hewani. Insting-insting dasar inilah yang menjadi penggerak kehidupan. Semangat untuk hidup, energi untuk mempertahankan semangat itu, dan keseimbangan, sering dikaitkan dengan makan atau minum, seks dan tidur.
Warna hijau mewakili cinta, kelembutan dan segala yang indah dalam hidup manusia. Timur Tengah banyak menggunakan warna hijau karena pada umumnya orang-orang di sana memiliki energi 'Yang' dalam jumlah yang berlebihan. Jiwa mereka membutuhkan pelembutan. Namun, di negeri kita bila kita menggunakan warna yang satu ini secara berlebihan, maka akan tercipta 'cinta berlebihan terhadap diri sendiri' – kita menjadi egois, hanya mementingkan diri sendiri.
Warna yang satu ini, dikaitkan juga dengan kesadaran insani.
Inilah warna utama yang membedakan manusia dari hewan.
Warna biru mewakili ketenangan yang dinamis, tidak pasif; kemampuan untuk membedakan yang tepat dari yang tidak tepat dan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran.
Warna nila mewakili kebijakan, intuisi, dan kemampuan untuk berpikir secara jernih.
Warna terakhir, ungu mewakili kesadaran ruhani, kesadaran Ilahi yang mampu melihat kesatuan di balik perbedaan.
Ketiga warna terakhir ini, biru, nila dan ungu, secara bersama mewakili kesadaran Ilahi.
Namun, tidak berarti bahwa manusia dapat hidup dengan ketiga warna terakhir saja. Hidupmua akan pincang. Selama masih berada di dunia, ia membutuhkan semua warna. Sesuai dengan pekerjaannya, tugas serta kewajibannya, profesinya, status sosialnya, seseorang bisa saja 'berat' terhadap salah satu atau beberapa di antara ketujuh warna tersebut – namun tetap saja ia tidak dapat mengabaikan warna-warna lain. Manusia membutuhkan semua warna, semua warna pelangi.

(Anand Krishna, Neo Vastu Feng Shui Awareness, One Earth Media, 2005)

3 Feb 2012

bukan tindakan kriminil dan harus dilindungi

by Ni Nengah Hardiani on Friday, February 3, 2012 at 1:27pm

Wawan Setiawan:

Menurut JH dari Leiden, HAM PBB menyatakan bahwa

perbuatan menghina agama (blasphemy) bukan tindakan kriminil dan harus
dilindungi...:-))



ada yg bisa konfirmasi???Like · · Follow Post · 2 hours ago





Leonardo Rimba II and 2 others like this.



Leonardo Rimba II: Iyalah, itu kan cuma pendapat pribadi, opini. Ada yg beropini Allah perlu disembah sampe you punya jidat benjol or, at least, jadi item. Ada yg berpendapat Allah is nothing more than a figment of imagination, and those whose jidat jadi item are orang dogol. Semuanya opini belaka. Tidak ada yg perlu dikejar-kejar dan dihukum.

2 hours ago · Unlike · 5



Leonardo Rimba II:

Di negara-negara Barat, you bisa maki-maki Yesus dan Allah sampe you punya mulut jadi kering. You minum lagi, and then berteriak-teriak lagi. Asalkan tidak dilakukan di tempat orang, maka itu bisa saja dilakukan. Tidak ada yg perduli. Nobody cares. You juga bisa bakar itu Alkitab berapa banyak juga. You bisa injak-injak. Syaratnya cuma satu, yaitu milik sendiri. Kalau mau bakar milik orang, barulah you akan diseret oleh polisi. Bukan dengan tuduhan membakar or menginjak-injak kitab suci, tetapi tuduhan mencuri dan merusak harta benda milik orang lain.

2 hours ago · Unlike · 9

bisa bergerak dan menggerakkan orang

Dengan pikiran, bisa bergerak dan menggerakkan orang.



Like · · Unfollow Post · 14 hours ago via mobile





Simbol Nur, Marwan Effendi, Ninin Love and 17 others like this.



Iwan Christ AuLia: ohh (bergerak gerak)

14 hours ago · Like



Ni Nengah Hardiani: Tapi energi yg terpakai juga besar.

14 hours ago via mobile · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: Yg penting mau fokus, makin fokus, efeknya juga sebanding.

14 hours ago via mobile · Like



Mas Sukmo: biasanya bu dokteryang suka memberi sugesti.

14 hours ago · Like



Ceria Indah: wow Ni Nengah Hardiani, dengan pikiranmu, kamu telah berhasil mengerakkan jari2ku untuk memberi komentar di sini. Luar biasa!!! =)

14 hours ago · Like · 1





Frans Hananto: Lalu..

apa yg menggerakan pikiran utk bergerak?..
bgmn spy lebih fokus/tajam..diasah pake apa?

14 hours ago · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: Latihan

14 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Yg menggerakkan fikiran: energi.

14 hours ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Energi karena hidup atau kehidupan itu adalah energi?

14 hours ago via mobile · Like



Edo Hoki: cahaya juga energi, cahaya itu bukan mahluk hidup. energi listrik juga bukan mahluk hidup. jadi energi itu apa yah?xixixi

14 hours ago via mobile · Like





Li Ght: Sebagaimana perasaan adalah alat, demikianlah pikiran.
^^

14 hours ago via mobile · Like



Kang Mas Alex: beneran bisa gerakin orang kayak pake tangan?

13 hours ago · Like



Wahyu Purwaningsih: Klo mengerakkan orang dg pikiran ,ini aq yg blm bisa mbak , boleh dong belajar ˆ⌣ˆ apa dg meditasi ???

12 hours ago via mobile · Like



Ramli Emha: Kalau saya menggerakkan orang pakai uang

10 hours ago via mobile · Like · 1



Nur Wachid: klo saya bisa bergerak tanpa harus mikir,kelama an....

10 hours ago via mobile · Like



Iwan Saputra: sdh terbukti n bs pembuktian ulang kah ?.. itu nasehat org tua bijak, tp ditelan bulat dg pikiran mistis lageee.. nasehat itu berarti kalo kita bs menggunakan otak, maka kt bs memanage org..

10 hours ago · Unlike · 1



Ni Nengah Hardiani: Bisa manage diri sendiri dulu, itu semacam sample, habis itu bisa manage orang.

6 hours ago via mobile · Like · 2



Rein Decper T: instruktur senam bisa menggerakkan orang.

6 hours ago · Like · 2



Iwan Christ AuLia: hypno

6 hours ago · Like



Ni Nengah Hardiani: Memanage orang artinya bukan menguasai atau memperdaya, tapi mengkoordinir, memberdayakan, memposisikan orang di tempat yg tepat, melayani.

6 hours ago via mobile · Like · 4



Djoko Ndundut: dg memikirkan sesuatu, ehhh, ... yg bergerak anuku,..

5 hours ago · Like · 1



Sukiman Kimansu: Dengan pikiran orang bisa terbang ke bulan, bisa membuat pesawat, sehingga bisa memindahkan ratusan orang ke tempat lain bersamaan, bahkan dengan pikiran manusia bisa menciptakan sosok pencipta alam semesta

5 hours ago via mobile · Like · 1



Yustina Disini: energi pikiran memang sangat kuat sekali, kadang menakutkan...

4 hours ago · Like · 1



Samwan Els: jadi bayangin film X-men ...

2 hours ago · Like





Simbol Nur: saya ingin digerakkn Ni Nengah Hardiani dr sana,posisi saya disurabaya,...
(Bukan ngetes ,cuma ingin merasakan sensasinya) Slm

2 hours ago via mobile · Like · 1



Ni Nengah Hardiani: Menggerakkan mesti suka sama suka dan fokus.

2 hours ago via mobile · Like · 1





Simbol Nur: dari awal saya,sudah suka Ni Nengah seterusnya terserah anda....
Sa at ini saya fokus ke anda,tp saya pisisi krj

59 minutes ago via mobile · Like



Ni Nengah Hardiani: Santai aja.

Oh (Allah menciptakan agama ?)

by Leonardo Rimba on Thursday, February 2, 2012 at 1:16pm

Menurut anthropolog Prof Koentjaraningrat, yg dinamakan budaya Indonesia adalah puncak-puncak dari semua budaya etnik yg ada di Indonesia. Itu benar, tetapi periode kapan? Kalau puncak adalah masa lalu, maka itu tidak benar. Puncak budaya selalu berada disini dan saat ini. Puncak budaya Indonesia adalah yg anda lihat di depan mata kepala anda saat ini juga. Banyak pergeseran menjadi Post Modern. Dan itulah puncaknya, bukan di masa lalu.



Kalau anda lihat ternyata orang Indon gemar pakai nama-nama berbahasa Inggris untuk perumahan-perumahan baru yg disebut "eksklusiv", maka itulah puncak budayanya. Merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi tiap orang untuk pakai nama apa saja yg disukainya. Kalau nama bernuansa asing, seperti nama saya ternyata lebih digemari, maka itulah puncak budaya kita saat ini. Tidak perlu ditahan-tahan dengan alasan non pribumi. Kita tidak ada yg pribumi asli, semuanya keturunan pendatang. Dan kita selayaknya bangga berhasil menciptakan budaya gado-gado. Gado-gado is mixed vegetables with peanut sauce.



Lucunya, orang Indon juga gemar sekali pakai kata "asli". Orang yg paling tidak asli, ternyata paling suka pakai kata "asli". Mungkin semacam kegamangan budaya, tidak merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Saran saya, please be comfortable with yourselves. Tidak ada yg perlu dikuatirkan. Kita memang campuran macam-macam. We have mixed ancestry, mixed heritage. We should be proud of that, dan tidak perlu meyakin-yakinkan diri kita sendiri bahwa kita "asli". Kita tidak ada yg asli. We should be proud of our non asliness.



Budaya tidak perlu dipaksakan. Kalau digemari dan dipakai, maka artinya budaya itu diambil-alih, menjadi milik sendiri. Kalau tidak digemari dan dibuang, maka begitulah nasibnya. Terpinggirkan. Dan bisa dilestarikan di dalam dokumentasi dan museum. Cuma begitu saja. Semuanya berjalan alamiah, natural. Tanpa perlu ancam-mengancam, tanpa perlu pakai tipa-tipu. Why? Because cepat or lambat, semua orang akan sampai pada kesimpulan sendiri. Orang akan pakai apa yg dianggap cocok dan pas, susunya.



Banyak dari kita sudah masuk menjadi manusia internasional juga, tetapi bisa supel ketika enjoy budaya lokal. Saya mempertahankan duduk lesehan di tiap sarasehan Komunitas Spiritual Indonesia. Bukan karena tidak ada kursi, tetapi kapan lagi bisa duduk di atas lantai. Kapan lagi except when we are at sarasehans. So, di tempat semewah apapun, kalau kumpul, kita akan selalu duduk di atas lantai. And we really enjoy that. We are proud of our heritage. We are aware that our ancestors duduk di atas lantai. Maybe di atas rumput. Nomaden.. nomaden..



-



Saya sedang meng-edit kembali tulisan-tulisan saya yg dulu, untuk diterbitkan di sebuah negeri antah berantah berpenduduk makhluk halus. For your info, tulisan-tulisan saya semuanya tertata rapi dalam banyak ebooks ber-energi gaib (khodam dan jin). Cuma, terkadang saya heran sendiri bisa menghasilkan tulisan-tulisan seperti itu. Setelah menulis, saya lupa tulis apa. Dan itulah pertanda ada yg masuk. Masuk, dan setelah itu keluar lagi. Keluar lagi setelah klimaks atawa yg lebih dikenal dengan istilah orgasme. Orgasme spiritual arrrrRRRRGGGGHHH



Notes saya semuanya sudah pernah di-published di facebook sejak tahun 2009. Sudah jadi ebooks, dan sekarang harus di-edit. Dipermax, ditambahkan jin jenis baru, yaitu yg top-less. Jin tanpa busana bagian atas atawa yg lebih dikenal sebagai jin tidak tahu malu. The guna is to make pembaca kehilangan rasa malu. Without malu-malu, the Indon people akan menjadi diri sendiri. Kalau masih punya rasa malu, they shall continue to become budax.. budax..



Saya sedang edit ebook yg judulnya "Mencari Tuhan dalam Kesadaran", mungkin nanti akan jadi buku dengan judul sama. For your info, ini kelanjutan dari buku "Pelangiku Warna Ungu" yg baru terbit 3 minggu lalu. Naskah-naskah saya sudah banyak sekali, karena my jari-jari tangan are very nakal, suka jalan sendiri menghasilkan tulisan online.. online..



-



Mungkin orang yg gila agama itu ingin menguasai dunia, dengan alasan Kristen sudah berhasil berkuasa di seluruh dunia, dan kini agama lainnya yg ingin berkuasa juga haruslah meniru Kristen, yaitu memaksakan agamanya. Dipikirnya, semakin dipaksakan, maka akan semakin berkuasa, masyarakat akan semakin beradab.



Menurut saya, itu nalar yg bengkok seperti titit salah potong ketika dikhitan, karena Kristen tidak memaksakan agamanya lagi sekarang. Ketika Kristen memaksakan agamanya di Eropah, dunia Barat jatuh dalam masa kegelapan. Ketika Kristen terjerambab dalam kenistaan, dan ilmu pengetahuan berhasil menipu para ulama Kristen sehingga mulai menggunakan otaknya, maka mulai bangkitlah peradaban orang-orang bule itu. Kesimpulan: Agama bertolak-belakang dengan peradaban. Semakin beragama, semakin terpuruklah peradaban. Semakin tidak beradab. Puncak peradaban Kristen itu di abad pertengahan yg sekarang kita kenal sebagai Dark Ages (Masa Kegelapan). Itu masa yg benar-benar gelap. Gelap, subhanalloh.



Saya rasa, kalau benar Kristen menggunakan materi dalam penyebaran agama, maka patutlah kita menganut Kristen. Saya juga mau. Pertanyaannya sekarang, berapa yg mau dibayarkan? Berapa banyak materi dalam bentuk uang yg mau diberikan kepada saya? The answer is: tidak ada. Tidak ada materi yg ditawarkan. So, don't be goblok.



Kalau ada agama yg mau bayar saya, saya akan menganut agama itu. Tinggal sodorkan saja, berapa harga yg anda berani bayar.



So, materi sebagai iming-iming untuk masuk suatu agama cuma jalan pikiran orang sederhana. Mungkin ada benarnya sebagian, tapi tidak seluruhnya benar. Ada macam-macam teknik menjual agama. Orang Katolik sudah masuk ke Bali secara sembunyi-sembunyi sejak jaman Belanda, contohnya, mereka merekrut kelompok masyarakat paling bawah di masyarakat Bali. Waktu itu Belanda melarang keras missionaris untuk masuk Bali, tetapi mereka masuk juga dengan mencuri-curi, sehingga sekarang gereja Katolik di Bali termasuk cukup kuat. Dan menurut saya manfaatnya bagus juga. Waktu saya sekolah SMA, ada pastor yg berasal dari Bali, namanya Pastor Nyoman. Kemungkinan besar ini orang yg berasal dari masyarakat Bali paling bawah.



Untuk masyarakat paling bawah, yg tertindas oleh golongan masyarakat di atasnya, insentif berupa materi terkadang diberikan. Untuk masyarakat golongan atas, insentif bukan berupa materi tetapi berupa pendampingan untuk berpikir dan memerintah kelas-kelas di bawahnya. So, memang ada dua metode tradisional penyebaran agama, yaitu dari golongan paling bawah, dan dari golongan paling atas.



Ada juga metode paling modern, yaitu melalui kelas menengah. Ini yg sekarang dipraktekkan di banyak negara, berupa penyebaran mata-mata di kalangan kelas menengah. Persis seperti orang-orang Komunis, yaitu melakukan indoktrinasi atawa cuci otak di kalangan dekat, dan diharapkan akan menyebar. Seperti kuman, the agama diharapkan untuk menyebar dan berkembang biak.



Apapun metode yg dipilih, semuanya sah saja. Itulah yg namanya hak asasi manusia untuk beragama ataupun untuk tidak beragama. Asalkan tidak dilakukan dengan pemaksaan, maka semuanya sah saja. Dan agama yg merasa dagangannya tersingkir juga berhak untuk melakukan kampanye, menggunakan materi maupun non materi. Semuanya bisa dilakukan dengan cara baik-baik.



So, ada banyak teknik yg dilakukan orang beragama untuk melakukan rekrutmen. Dan ada banyak cara pula yg dilakukan oleh orang tidak beragama untuk menolak, dan bahkan melakukan kampanye anti agama. Semuanya sah.



Asal tidak dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan, maka semuanya sah saja. Ini domain pribadi, wilayah privasi orang per orang, tidak bisa dicampuri oleh orang lain.



Untuk teman-teman ketahui, saya tidak anti penyebaran agama apapun. Semua agama berhak hidup, berhak menyebarkan dirinya sendiri. Penyebaran agama menggunakan berbagai metode, dan orang yg menjadi target berhak menerima maupun menolaknya. Merupakan HAM juga untuk menolak penyebaran agama. Caranya mudah saja, yaitu bilang no thankyou.



Kalau kita mau membatasi penyebaran agama, maka kita akan ikut-ikutan melanggar HAM. Merupakan hak asasi manusia untuk menyebarkan agamanya, dan merupakan hak asasi manusia lainnya untuk menerima maupun menolaknya.



Tentu saja orang-orang beragama harus mengikuti aturan di tempat-tempat yg ingin dimasukinya. Di Group Spiritual Indonesia ini, contohnya, kita membuat peraturan bahwa tidak boleh ada yg jualan agama. Itu namanya kesepakatan bersama, aturan yg berlaku umum untuk semua orang, khusus di group ini saja. Dan itu bukan berarti kita melarang orang beragama jualan. Mereka bisa saja jualan, asalkan bukan di tempat kita. Nah, yg seperti itulah yg saya namakan sebagai pilihan. Pilihan pribadi. Pilihan komunitas kita.



Di AS saya melihat dengan mata kepala sendiri orang-orang penganut aliran Saksi Yehuwa berjalan dari rumah ke rumah, jualan mereka punya agama. Dan itu tidak dilarang. Tetapi orang yg didatangi juga berhak untuk bilang tidak tertarik. Not interested.



Tanpa perlu ribut-ribut kebakaran jembut, seolah-oleh mereka punya titit mau dipotong. Tidak perlu begitu. Kita cukup bicara biasa saja, bilang terimakasih, tidak tertarik.



Menurut pengalaman saya pribadi berhubungan dengan gereja-gereja, mereka malahan lebih sebagai penyedot uang. Minta sumbangan terus tidak ada habis-habisnya, cappe dehh!!



Dan yg menyumbang juga tidak ada habis-habisnya. Mungkin mereka pikir, semakin banyak menyumbang, rejekinya semakin besar. Dan itu boleh saja, tidak dilarang. Namanya HAM Kebebasan Beragama juga. Kita tidak bisa melarang orang menyumbang lembaga-lembaga keagamaan. Dan kita juga tidak bisa melarang lembaga-lembaga keagamaan bagi-bagi uang atau materi.



Yg bisa kita lakukan cuma menolak. Kita bisa menolak kalau dimintai sumbangan. Dan kita bisa menolak kalau mau diberi sumbangan.



Dan, sampai saat ini, saya belum pernah menolak kalau diberi sumbangan. Sumbangan dari mana saja saya terima, tanpa perduli siapa yg memberikan. Subhanalloh.



So, bahkan sampai saat sekarang saya membuka diri untuk menerima sumbangan. Siapapun yg mau memberikan sumbangan, baik dari lembaga agama Buddha, Kristen, Islam, Hindu, Kejawen, Ateis, dll... semuanya akan diterima dengan tangan (dan paha) terbuka.



Sumbangan bisa berbentuk uang, bisa berbentuk fasilitas non uang. Kalau bisa digunakan, saya akan terima. Why not? Tetapi sampai saat ini kebutuhan kita cuma untuk buat kegiatan sarasehan (kumpul-kumpul) dan bakti sosial saja. Itu pun perlu dana yg tidak sedikit. Kita semuanya gotong royong, swa sembada, bersih dari noda korupsi. Tapi tetap saja kita mau terima kalau ada yg mau nyumbang. Many people like to menyumbang, dan itu baik. Nothing wrong in itself. Tentu saja mereka akan memberikan sumbangan kalau tujuan kita mirip dengan mereka. Jadi, bukan sumbangan murni seperti memberikan amal jariah, walaupun amal jariah juga tidak murni sumbangan sebenarnya, karena selalu ada motivasi pahala. Yaitu, semoga apa yg disumbangkan diganti berkali lipat oleh Allah ta'alla.



Suatu slogan belaka, yg mungkin bisa bekerja juga, kalau orangnya percaya. Subhanalloh.



That's all friends, inilah yg namanya berbagi. Ada jalan pemikirannya, ada alasan-alasan. Tanpa perlu pakai rasa sakit hati, takut, kuatir, dan segala macam emosi kekanak-kanakan itu. Kita memang suka bercanda, ngeyel, tapi berpikir dengan dewasa. DEWWASSSSAAA (maksudnya, cerita dewasa, film dewasa, horror and porno)



Bukan Kristen dan Islam saja yg, selain ada sisi baiknya, ada juga sisi pembodohan massalnya. Setahu saya, Buddhisme juga rata-rata mengajarkan pembodohan massal. Pembodohan massal di dalam Buddhisme termasuk lebih marak dibandingkan dalam Kristen. So, ini bukan rata-rata asal pukul rata, tetapi rata-rata menggunakan otak. Kristen, walaupun ada pembodohan massal, merupakan agama dengan tingkat peradaban tertinggi di satu dunia. Islam dulu peringkatnya persis di bawah Kristen, tetapi sekarang paling bawah. Di bawah Kristen kita bisa taruh Buddhisme, dan setelah itu Hinduisme. Islam yg paling bawah.



Peradaban internasional sekarang, termasuk peradaban Barat dan peradaban lainnya di seluruh dunia, bahkan termasuk peradaban Indonesia, merupakan modifikasi dari peradaban Kristen. Sudah tidak lagi disebut agama, melainkan sekuler. Tetapi asal-usulnya tetap saja Kristen, namanya tradisi Yahudi-Kristen. Judeo-Christian Tradition. Sistem hukum Indonesia sebagian besar mengikuti tradisi Yahudi-Kristen itu, sama seperti di negara-negara Barat, dan di negara-negara bekas koloni Barat. Kalau tidak pakai tradisi hukum dan peradaban Yahudi-Kristen, maka kita akan jatuh terpuruk dalam penyembahan segala macam sampah demi mencapai Nibbana atau Nirvana.



Buddhisme juga jualan sampah agama, sama seperti agama-agama lain. Dan Buddhisme yg punya kontek intelektual tinggi tentu saja tidak laku dipasarkan untuk umum. Cuma bisa diterima di kalangan intelektual saja. Sama saja seperti Kristen intelek, Hindu intelek, Islam intelek, dan bahkan Ateisme intelek; ini semuanya beradab. Tetapi bentuk-bentuk yg populer sebagian besar isinya humor belaka. Atau lawakan, lebih tepatnya. Bisa dinikmati kalau mau, dan bisa dibuang juga, kalau mau. Tetapi, bahkan di masyarakat Buddhis, membuang agama tetap akan memunculkan reaksi hujat-menghujat, sama saja seperti di masyarakat tradisional Islam. So, yg paling beradab tetap saja Kristen, yg pada umumnya sudah tidak perduli lagi orang beragama ataupun tidak.



Masih ada kantong-kantong Kristen yg terbelakang, seperti di Afrika dan Philipina. Tetapi umumnya Kristen sudah jauh lebih tercerahkan dibandingkan agama-agama lainnya. Tetapi itu pun masih belum cukup tercerahkan. Masih ada Agnostisme. Masih ada Ateisme. Agnostisme dan Ateisme jauh lebih beradab dibandingkan agama-agama karena, kalau namanya masih pakai istilah agama, maka masih ada yg dipertahankan, walaupun itu berupa kebohongan.



Oh (Allah menciptakan agama ?)



Leonardo Rimba: Untuk teman-teman yg tertarik, silahkan dibaca berkali-kali. Walaupun gaya saya ringan, semuanya berdasarkan pengalaman dan studi tahunan. Gaya ringan dalam tulisan bisa membantu kita cepat memahami konteks pembahasan.

1 Feb 2012

SPIRITUALITAS DAN SENSUALITAS

Zaman ketika nilai-nilai kerohanian dianggap sebagai hal yang bertolak belakang dengan daya tarik fisik atau sensualitas sudah lewat, walaupun masih banyak anggota masyarakat yang rancu dan menganggap bahwa kerohanian berarti antidaya tarik fisik dan sensualitas adalah kerohanian yang tumpul.



Dulu yang dipentingkan adalah kebersihan tubuh, tok. Itu dianggap sebagai simbol kebersihan jiwa. Sekarang, kebersihan tubuh harus sepadan dengan daya tarik seksual si pemilik tubuh supaya memenuhi syarat menjadi seorang spiritual yang utuh. Orang yang mendalami spiritualitas dan mengubur habis daya tarik seksualnya adalah mereka yang hidup di Arabia pada abad ke-7 M.



Seribu empat ratus tahun kemudian, di abad ke-21 ini, orang yang mendalami spiritualitas adalah yang bisa menjaga dan memancarkan seksualitasnya ke segala arah. Bukan demi perzinahan, seperti yang dikuatirkan oleh orang-orang Arab pada 1.400 tahun yang lalu, tapi demi menjaga citra diri yang sehat.Kalaupun ada perzinahan, itu adalah tanggung jawab si pemilik tubuh, dan bukan lagi urusan komunitasnya seperti di masa lalu.



Dulu, orang yang ganteng dan cantik sengaja dibikin jelek agar dihormati sebagai orang spiritual. Sekarang, orang yang aslinya jelek bisa dibikin ganteng dan cantik. Semakin berhasil perubahan fisik diusahakan, berarti semakin mantap citra diri positif yang berhasil diupayakan.



Tidak ada lagi gunanya di masa pascamodern ini menggebuk dan mengubur habis segala keindahan tubuh yang dikaruniakan oleh YME kepada kita. Tak ada gunanya lagi eksistensi orang-orang yang saat ini masih rancu mengutuk habis mereka yang menonjolkan sensualitas tubuh. Wong urusan spiritualitas adalah urusan dhewe-dhewe…. Dan segala “gerakan mundur” yang mau mengubur keindahan tubuh adalah kelompok penyimpang yang asli. Penyimpangan jiwa.



(Leonardo Rimba, Pelangiku Warna Ungu)